Diantara Dua Tasbih
Rofiq keluar dari lift, membawa dua gelas teh hangat yang aromanya sangat familiar bagi Lily: teh melati dan cendana.
"Jangan menolak teh ini, Lily. Anggap saja ini teman menunggu hujan," ujar Rofiq sambil memberikan satu gelas kepada Lily.
Lily menerimanya. Kehangatan gelas itu merambat ke tangannya, juga ke hatinya. Mereka duduk di kursi lobi, menatap air hujan yang menghantam kaca gedung.
"Pak Rofiq," Lily memulai dengan nada ragu. "Kenapa Bapak melakukan semua ini? Setelah saya mengatakan bahwa ada tembok di antara kita... kenapa Bapak tetap mendekat?"