Maaf Mas, Keponakanmu Jauh Lebih Jantan
Pesan itu datang dari sebuah nomor tanpa nama, namun isinya begitu intim dan gamblang.
"Aku merindukanmu, Dania... Sangat rindu. Kamar ini mendadak terasa sangat dingin tanpamu. Aku tidak bisa berhenti memikirkan sentuhanmu semalam."
Dania menahan napas, dengan cepat menyambar ponsel itu dan membalikkan layarnya ke bawah. Namun, sedetik kemudian, getaran kedua kembali masuk. Kali ini, sebuah kalimat lanjutan yang jauh lebih berani dan menuntut muncul di baris baru.