Maaf Mas, Keponakanmu Jauh Lebih Jantan
"Aku mandul, Dania! Aku mandul!"
Pengakuan yang meloncat langsung dari mulut Bram membuat ruangan itu makin terasa panas. Dania tidak terkejut, dia justru terkekeh rendah.
"Kalau kamu sudah tahu mandul, kenapa selama ini tetap bersikeras menuduh aku yang mandul, Mas?!" sembur Dania, matanya menyala merah dipenuhi kebencian yang mendalam. "Kenapa kamu biarkan ibumu menghina, mencaci, dan menginjak-injak harga diriku seolah-olah aku ini wanita cacat yang tidak berguna?! Sekarang sudah jelas! Kamu yang selama ini menipu dan memojokkan aku!"