Pembalasan Sang Dokter Jenius
katanya sambil menepuk sakunya, di mana pusaka di dadanya sudah memancarkan kehangatan yang menetralisir hawa dingin dari buhul itu.
Ia lalu berdiri tegak. Matanya tidak lagi menatap pot anggrek yang kini telah ternoda itu. Ia berbalik, tatapannya menyapu teras, dan berhenti pada sebuah pot keramik besar lainnya di sudut yang lain. Sebuah pohon bonsai tua yang terlihat begitu indah dan mahal.
“Bukan cuma ini,” kata Joko pelan, suaranya datar.