Pendekar Bukit Meratus
Kalamenjengnya d leher sampai bergerak menncium bau gorengan yang harum ini.
“Ngapain kamu ke sini, eh kamu terlihat lapar, tuh makan gorengan di depanmu itu, nggak usah jaim!” lagi-lagi si nenek menegur dan kini sudah duduk di depan Japra sambil mengunyah sesuatu, seperti ‘menginang’ sirih.
“Makasih nenek, aku mohon maaf kalau lancang ke sini, sebenarnya aku…!”