Suatu Senja di Tanah Senja
“Oh, ya. Aku memang melihatnya sesaat lalu. Dia bertolak naik burak dari Masjidil Haram. Tetapi, aku tidak tahu hendak pergi ke mana dia.”
“Terima kasih banyak, wahai malaikat allah. Kalau begitu, kami permisi. Kami harus segera pergi ke Masjidil Haram. Kami khawatir sesuatu yang buruk menimpa saudara kami.”
“Tunggu dulu, para semut. Ada suatu berkat yang ingin kuberikan pada golonganmu. Berbaliklah. Sekarang, angkatlah kedua tanganmu. Tahan, sebenatar. Ya, begitu. Tahan, sedikit lagi. Nah, selesai sudah. Sekarang golonganmu memiliki sayap. Sayap-sayap ini memang tidak sekuat sayap elang. Tetapi, itu sudah lebih cukup untuk membantu kalian.”
Sikat na Kabanata