Momen halaman terakhir membuatku menahan napas. Aku nggak bakal bohong — aku langsung ngulang beberapa bab karena merasa penulis menyisipkan petunjuk halus yang baru kelihatan setelah mengetahui akhir. Di 'Dan Kemudian Ada Empat' penutupnya bekerja dua lapis: satu lapis menjawab nasib fisik tokoh-tokohnya, lapis lain menantang pembaca untuk menilai motif mereka.
Secara plot, penutupnya memperlihatkan bahwa dari kelompok awal yang lebih besar, empat karakter bertahan bukan karena keberuntungan belaka, melainkan karena keputusan sadar—ada pengorbanan, ada pengkhianatan yang disengaja untuk melindungi yang lain, dan ada pilihan meninggalkan konflik demi hidup yang sederhana. Penulis nggak menulis semua secara gamblang; beberapa adegan epilog cuma berupa potongan memori atau surat yang membuat pembaca merangkai sendiri.
Secara tematik aku suka bahwa akhir itu nggak cuma soal siapa hidup dan mati, tapi soal harga kebebasan, konsekuensi trauma, dan bagaimana kenangan bisa jadi warisan. Aku keluar dari bacaan itu dengan perasaan getir tapi puas, kayak habis ngobrol lama sama sahabat mengenai moralitas yang abu-abu.