Kuhibahkan Cincin dan Calon Suami pada Sepupuku
Masih pagi, aku belum diijinkan naik, malah ditahan Kak Luna--adik ipar Ko Heru–diajak ngobrol di antara etalase yang berderet, bergabung dengan keluarga pemilik toko perhiasan ini.
"Nadira ini, baru di Medan sebentar, sudah berkunjung ke banyak tempat wisata, ya."
Gadis dua puluh dua tahun itu terkekeh, hingga mata yang sipit itu tinggal segaris.
"Iya, Kak," jawabku sambil tersenyum. Teringat pesan Sony semalam, supaya tak bercerita, tapi ini, kenapa malah jadi obrolan pagi?
"Dia nggak berenti, lho. Jalan terus, kayak nggak habis-habis tenaganya. Saya aja kalah," celetuk Ko Heru. Lagi-lagi aku menanggapi dengan senyuman.
Hot Chapters