SUJUD TERAKHIR EMAK
“Ah, kamu terlalu khawatir. Aku tahu cara mainnya. Justru ini baru permulaan. Percaya deh, Git, hidupku bakalan makin hebat ke depan.”
Gita memandang layar ponselnya, tersenyum samar. Dalam hatinya ia bergumam, “Permulaan, iya. Tapi bukan permulaan kemenangan, Rin. Ini permulaan kejatuhan yang jauh lebih kejam daripada yang pernah kamu bayangkan. Kamu belum tau saja pawangnya Om Herman. Sekali dia bertindak, aku yakin kamu bisa dit3nd4ng dari peredaran.”