Selir Yang Terlupakan
Aku berdiri di sampingnya, dan saat ia menyerahkan kertas itu, tangannya sedikit gemetar.
"Gempa bumi besar," katanya pelan, namun kata-katanya terasa berat seperti batu. "Mengguncang wilayah selatan tiga hari yang lalu. Kota-kota di kaki gunung hancur. Ribuan rumah runtuh. Jalan-jalan putus, sungai-sungai berubah arah, dan tanah longsor menutup jalur perdagangan utama. Korban jiwa diperkirakan puluhan ribu — dan yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang terjebak di antara reruntuhan, tanpa makanan, tanpa air, tanpa tempat berlindung."
Aku menutup mulutku dengan tangan, air mata seketika jatuh di pipiku. "Itu tanah kelahiranku... banyak orang yang kukenal tinggal di sana. Kita harus membantu