KEMBALINYA SANG PEWARIS TRILIUNER
Mesin batuk, lalu mati total di tengah jalan yang sunyi.
“Hebat,” desahnya kesal. Ia menatap ke sekitar, hanya ada beberapa rumah kecil dan warung di kejauhan. Tak jauh, seorang tukang ojek duduk di motornya, merokok santai.
Aksa keluar, melambaikan tangan. “Bang, bisa antar saya ke alamat ini? Nanti saya bayar lebih.”
Tukang ojek menatap kartu nama itu, mengangkat alis. “Villa Pramudita? Waduh, jauh banget itu, Mas. Tapi ya udah, naik aja.”