Brondongku Psikopat
Ciuman itu tidak lagi lembut seperti di aparteme, ini adalah ciuman perpisahan yang liar, seolah Bram ingin menanamkan eksistensinya sedalam mungkin ke dalam jiwa Kiana agar wanita itu tidak berpaling selama ia berada di benua lain.
Kiana mengerang pelan, tangannya otomatis mengalung di leher Bram, menjinjitkan kaki demi membalas cumbuan panas yang memabukkan itu. Air mata Kiana akhirnya menetes, membasahi pipi mereka yang saling menempel. Bram mengisap bibir bawah Kiana dengan lembut sebagai penutup, sebelum perlahan-lahan menjauhkan wajahnya, meskipun kening mereka masih saling bersentuhan. Napas keduanya memburu.