Ada kalanya lirik sebuah lagu terasa seperti ruang rahasia yang cuma aku yang diajak masuk. 'Untouchable' menurutku bicara tentang jarak dua orang yang bukan cuma fisik—melainkan pemosisian hati dan identitas. Di permukaan, liriknya sering terdengar seperti pujian untuk seseorang yang dianggap sempurna atau tak tersentuh; tapi kalau dengar perlahan, ada rasa iri, penyesalan, dan pengakuan bahwa si penyanyi sadar hubungan itu timpang.
Aku merasa bagian paling menarik adalah bagaimana kata-kata itu menempatkan subjek di atas pedestal—seolah-olah memuja sesuatu yang nyata sekaligus ilusi. Itu bukan cuma cerita cinta satu arah; kadang itu tentang ketakutan menyentuh karena takut merusak, atau tentang trauma yang membuat orang memilih untuk menjaga jarak. Musik dan vokal yang mendukung memberinya nuansa melankolis, membuat kita tidak hanya mendengar kata-kata tapi merasakan kehampaan di baliknya.
Di sisi lain, ada interpretasi sosial: 'untouchable' bisa merepresentasikan status, kekuasaan, atau bahkan ketidakmampuan untuk menjangkau mimpi. Bagiku, liriknya menantang pendengar buat jujur sama perasaan sendiri—apakah kita mengidealkan seseorang atau sedang melindungi diri? Pada akhirnya lagu itu manis, pahit, dan sedikit nakal karena membuat kita bertanya siapa yang sebenarnya tak tersentuh.