Ada sesuatu yang menggelitik di hati ketika hubungan bertahan hanya karena belas kasihan. Rasanya seperti memakai sepatu yang terlalu kecil—tidak nyaman, tapi terus dipaksakan karena tak mau menyakiti si pemilik sepatu. Aku pernah terjebak dalam situasi ini, dan pelajaran terbesar adalah: kejujuran yang penuh empati adalah jalan terbaik. Mulailah dengan mengakui perasaanmu sendiri dulu—jika tidak ada cinta, bertahan justru akan melukai lebih dalam. Lalu, sampaikan dengan bahasa yang lembut tapi tegas, misalnya, 'Aku sangat menghargai semua usahamu, tapi aku merasa kita tidak cocok untuk lanjut.' Beri ruang untuk dia bereaksi, dan jangan terburu-buru menghindar setelahnya.
Proses ini pasti berat, tapi bayangkan beban yang lebih besar jika terus berbohong. Hubungan yang dibangun di atas rasa kasihan ibarat rumah dari kartu—rapuh dan mudah runtuh. Lebih baik membiarkannya pergi dengan hormat daripada menunggu sampai kebencian atau kekecewaan menggerogoti kalian berdua. Aku belajar bahwa terkadang, melepaskan dengan baik-baik adalah bentuk cinta yang paling dewasa.