Bos yang Memecatku, Kini Memaksaku Jadi Istrinya
"Tapi nggih ampun tebih-tebih mlampahipun, Den Ayu. Hawanipun tasih adem sanget, mbenjang saget masuk angin. Menawi badhe pados unjukan anget, teng mriki mboten wonten warung (Tapi ya jangan jauh-jauh jalannya, Den Ayu. Udaranya masih sangat dingin, nanti bisa masuk angin. Kalau mau cari minuman hangat, di sini tidak ada warung)."
"Nggih, Pak. Matur nuwun sanget atas perhatiaannya. Saya hanya sebentar saja di sini," ujar Btari, membungkuk kecil menghormati nasehat tulus orang tua tersebut.
"Mangga, Den Ayu... dipun sekecakaken (Silakan, Den Ayu... silakan dinikmati jalannya)," pamit Mbok Darmi dan petani tua itu, kembali melanjutkan langkah mereka menuju ladang sembari sesekali menoleh denga
Hot Chapters