Dari Budak Menjadi Bencana
Sebelum transmigr
asi?
Tua Bangka tidak berkata apa-apa, hanya duduk di sampingku dalam keheningan yang nyaman, minum teh dan membiarkanku memproses.
Dan jauh di dalam kesadaran kolektif, empat suara lainnya mengirimkan gelombang dukungan tanpa kata—tidak menghakimi, tidak mendesak, hanya... hadir.
Mungkin itu jawaban untuk pertanyaanku. Aku bukan lagi hanya Wa Lang. Tapi inti dari siapa aku—kemampuan untuk peduli, untuk berjuang untuk sesuatu yang lebih besar—masih ada di sana.