LOGINPenduduk Kerajaan Amber Hill masih memegang teguh tradisi kuno, yakni setiap perempuan yang sudah berusia 30 tahun harus segera menikah. Bahkan setiap tahun, diadakan upacara Pasar Pengantin yang menjadi tempat para wanita dirias secantik mungkin untuk dipamerkan pada pria yang datang--supaya segra dinikahi. Caroline Walter yang tengah depresi akibat pengkhianatan ibu, adik dan kekasihnya, tak luput dari ketentuan ini! Ia dipaksa oleh warga untuk menghadiri upacara pasar pengantin di usianya yang ke-30. Namun, siapa sangka, lelaki yang memilihnya ternyata adalah William Harrington, sang putra mahkota?! Tak hanya itu, William bahkan bersedia memberikan uang, serta membantu Caroline membalas dendam....
View MoreThe Vane Pack ballroom was a gilded cage. Crystal glasses chimed over the low thrum of werewolf politics. The air was thick with roasted meat and heavy perfumes. It was suffocating. It was entirely wrong for someone like me.
My fingers turned white against the silver serving tray. The maid uniform they forced on me was three sizes too large. A row of cheap safety pins bit into my spine with every breath. It was a deliberate choice. Everything this family did was calculated.
Evelina Vane glided past me in blood red silk. She did not even turn her head. The smug satisfaction rolling off her scent said enough.
"Cassia. Fetch more champagne for the Alpha council table," Evelina called out. "And try not to embarrass yourself this time."
A few nearby guests snickered. These were pack members who had watched me grow up. They had watched me scrub their floors and eat their cold leftovers. They had witnessed my suffering for eighteen years. Not one of them had ever intervened.
I lifted my chin. I walked toward the Alpha council table with measured steps.
This was my reality. This was my everyday existence since the age of nine. The Vane family had taken me in after my parents allegedly defaulted on an unpayable debt. I was twenty seven now. That ledger never got smaller. They added the cost of my thin blankets, my meager meals, and my very breath under their roof.
My parents were dead. A tragic accident, they claimed. There was no funeral. There was no grave. It was a convenient tragedy that ensured I had no one to ask questions. No one to wonder why a nine year old girl was enslaved by a prestigious Alpha household.
I believed their lies when I was young. I cried for my parents' mistakes. But as I grew older, my mind sharpened. I noticed the glaring inconsistencies. I heard the older servants whispering. I saw financial documents vanish from the Alpha's study whenever I cleaned it. I caught the current Luna glaring at me with an expression that bordered on absolute dread.
My thoughts snapped back to the present as I reached the high table. Three commanding figures sat at the center. Their combined aura forced even the strongest territorial wolves to keep their distance. Kaelen, Jaren, and Thad Vane. The triplet Alpha heirs. Identical in face. Wildly different in their cruelty.
Kaelen was the eldest by three minutes. He slouched in his velvet chair with supreme boredom. His silver eyes swept the room with lazy disinterest. Yet, every few seconds, his gaze flickered to me. He hid the intensity quickly. He possessed the sharpest tongue, known for emotionally gutting grown warriors in public.
Jaren sat with rigid, perfect posture. His eyes were deceptive. They seemed warm, but that warmth could burn you alive if you stared too long. He was the observer. He cataloged every micro expression for future manipulation. Lately, he had been watching me far too closely.
Thad sat with his broad back partially turned to me. He was volatile and quick to rage. He was the one who caught me stealing a stale loaf of bread at twelve years old. The phantom pain of his bruising grip still haunted my arm. He had dragged me before the entire household to be shamed.
Caroline terus mendesah. Mengeluarkan suara seksi yang membuat gairah William semakin memuncak. Dia memiliki keinginan yang besar untuk menghentikan aktifitas ini secepatnya agar mereka tidak semakin jauh. Namun sentuhan William seolah menjadi candu yang baru bagi Caroline. "Aku... tidak bisa..." ucap Caroline yang tentu saja berkebalikan dengan isi hatinya. Kini, William telah melepaskan celana dalam Victoria Secret yang dia kenakan dan mulai memainkan jari - jarinya di antara kedua paha Caroline. "Ini sangat basah, ternyata kau juga menginginkannya Caroline," ucap William lirih. Kalimat - kalimat erotis yang keluar dari bisikan William membuat Caroline semakin sulit untuk menguasai dirinya. "Hentikan William, kita tidak boleh begini... kita tidak bisa aakh..." ucapan Caroline terputus dengan lenguhan nikmatnya karena William tiba - tiba melesakkan miliknya di bawah sana. "Akh... William, apa yang kau lakukan? Itu... sakit..." Caroline merintih. William sedikit terkejut karena
"Eeengh...," Caroline merintih saat dirinya berusaha keras untuk tersadar dari koma. "Kau sudah bangun?" William segera menekan tombol perawat saat melihat tanda - tanda kesadaran pada Caroline. Segera, dokter kerajaan masuk bersama beberapa orang perawat. Mereka melakukan beberapa pemeriksaan pada Caroline. Suara para tenaga kesehatan dan juga gumaman William terdengar samar - samar di telinga Caroline. Pergerakan mereka juga tidak lebih dari sekedar bayangan yang saling bekelebat. Caroline masih belum punya tenaga untuk tersadar sepenuhnya. Matanya masih berat dan badannya masih sulit digerakkan. Dalam waktu singkat, dia kembali pingsan. *****Caroline terbangun lagi di ruangan yang berbeda dari sebelumnya. Tidak seperti percobaan pertama, tubuhnya kali ini terasa lebih ringan walaupun masih susah digerakkan. "Caroline, kau sudah sadar? Apa kau bisa mendengarku?" tanya William. "Ya, aku bisa mendengarmu," jawab C
Jantung Caroline berdetak kencang menunggu bukti apa gerangan yang akan Daniel berikan. "Aku punya banyak foto dan video kebersamaan kita. Kau bisa menilai sedekat apa kita. Kau juga bisa melihat tanggal foto dan video ini diambil. Kau akan tahu bahwa kita masih bersama saat kau sudah menjadi tunangan William," Daniel menyerahkan ponselnya yang telah membuka sebuah folder kepada Caroline. Caroline dibuat terperangah oleh foto - foto dan video itu. Siapapun yang melihat gambar - gambar ini tidak akan percaya bahwa Daniel dan Ariana hanya teman biasa. "Ki- kita terlihat sangat akrab," komentar Caroline."Akrab? Menurutmu hanya akrab?" Daniel mengulas senyum miringnya. "Bagaimana dengan video yang ini?" Daniel menunjukkan satu video lagi. Hanya saja, video kali ini tidak dia simpan di folder yang sama dengan video sebelumnya, melainkan tersimpan di folder privat yang memerlukan kata sandi saat membukanya. Caroline memutar video itu dan jantungnya serasa nyaris melompat dari dadanya.
"Ya. Aku memang menemui mereka beberapa hari yang lalu," Caroline menunduk. Tidak ada gunanya mengelak, semua bukti sudah sangat jelas. "Lantas, kenapa kau tidak melapor padaku? Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" William tidak akan berhenti mencerca Caroline sampai dia mendapatkan jawaban sejelas yang dia mau. "Banyak hal. Kau ingin tahu?" "Ya! Semuanya, ceritakan padaku!" "Baiklah," Caroline mendudukkan dirinya di sofa sebelum dia mulai bicara. William juga duduk di sofa lain yang berada di hadapan Caroline. Jika perbincangan ini akan panjang, dia sudah siap. "Katakanlah!" "Pertama kami membicarakan mengenai hubungan Ariana dan Daniel," Caroline mulai bercerita. Belum apa - apa, William sudah mendengus. "Memangnya apa hubungan mereka? Mereka hanya teman saat kuliah. Kurasa Daniel terobsesi pada Ana." "Jadi, kau mau mendengarku atau tidak? Jika kau hanya ingin mengoceh sendiri maka lupakan saja! Aku tidak akan memberitahumu apapun.""Oke oke baiklah. Teruskan! Aku akan di
Caroline sedikit tegang. Dia tidak pernah menghadiri pesta bersama kaum elit sebelumnya. Semalam, dia begadang demi menghafal nama dan wajah teman - teman Ariana. Sekalipun dia berhasil menghafal semuanya, Caroline tetap khawatir ada data yang William lewatkan. Bagaimanapun, tidak mungk
"AARGH!" teriak Casandra dari luar ruangan. Teriakannya cukup keras, membuat Jessica membatalkan aksinya. "Casandra, ada apa?" Jessica berteriak agar Casandra mendengarnya dari dalam. Belum sempat Jessica mengecek keadaan, segerombolan pria masuk dengan paksa dengan menggebrak
"Di- dia..." Caroline terbata. "Dia adalah Ariana Bellwood," ucap William. "Siapa dia Yang Mulia? Dia sangat mirip dengan saya." "Bukan mirip, tapi sama persis. Dia adalah kekasihku, calon istriku yang seharusnya menjadi puteri kerajaan dua bulan lagi. Tapi seseorang mencoba mencelakainya hingga
"Kau mau pergi?" tanya Jessica kepada Caroline yang sedang mengenakan sepatunya. "Iya. Aku harus menemui seseorang," jawab Caroline. "Apa kau akan bertemu dengan Pangeran William?" tanya Casandra dengan nada mengejek. "Benar. Aku tahu kau tidak percaya. Tapi, kau juga harus tahu bahwa aku tidak p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.