MasukDi saat berbagai persiapan pernikahan telah dilakukan, semua harus dibatalkan karena kecelakaan yang menewaskan Axellino William–calon pengantin pria yang seharusnya menikah dengan Arandra. Sebagai gantinya, Arandra menikah dengan Alexander William. Saudara Axel–laki-laki yang seharusnya menjadi kakak iparnya. Meski tidak lagi menjadi pernikahan yang diinginkannya, Arandra memutuskan untuk menjalani pernikahan itu sebagaimana pernikahan pada umumnya–meski tanpa adanya cinta. Namun, apa yang akan terjadi ketika Arandra tersadar bahwa Alex ternyata telah menyimpan rasa untuknya begitu lama?
Lihat lebih banyakIt’s the day of my Alpha ceremony. My father, Liam Holstin, couldn’t wait to pass the Alpha title over to me. He’s been training me to take over our pack, the Shadow Falls pack, since I was a child. Unlike him, I’ve had my parents to help raise and guide me. I’m ready to take over the pack. And, unlike many Alphas that don’t want to give up the power and control that comes with being an Alpha, my father couldn’t wait to spend all his time with his mate, my mother, Angel.
My parents are disgustingly happy. I may be the oldest, but I have six brothers and sisters ranging in ages from 6 months younger than me to three years younger. Four of us are only two years apart if that gives you any idea of how much my father enjoys my mother. The thought of my parents together still makes my stomach churn. I've walked in on them in a compromising position way too many times.
My parents plan to take my three youngest sisters with them to the house that they built for their retirement, but my brothers and oldest sister will stay here in the packhouse with me. Since I haven’t found my mate yet, it’s no problem having them here. My sister, Leana, can help with Luna duties until she finds her mate, or mom can come and fill in as needed until I find my mate.
I’m the first child of our allied packs to reach adulthood and take over as Alpha for my pack. While the first child of Canyon Ridge pack, Lily, is my age, she is a female and has known that she was mated to fae royalty her entire life. There was never a plan for her to take over their pack. Cohen, Rik and Cara's first-born son and my brothers’ best friend, is still a couple years away from reaching adulthood. Emerson, the Alpha heir of Safe Haven pack, is still a year away from taking over for his father, Eli. So, that makes me, Richard Holstin, the first to ascend to Alpha.
The children of the three packs have all grown up together. Our mothers are all Guardians, werewolves blessed by the Moon Goddess with extra strength and senses compared to other wolves, including Alphas. Cara Nelson, the current Luna of Canyon Ridge pack, was the first Guardian born to two Guardians. However, this generation, my generation, has shown that when a Guardian mates with their fated mate, they produce more Guardians. Every Alpha female in all three packs has the Guardian gene. None of the males show the tell-tale signs of the Guardians, the golden eyes, but we are stronger than most Alphas our age. And, if we happen to be mated to one of our neighboring packs’ Guardians, we will take on their strengths as our fathers have done.
My father comes to find me. He and my mother have always told me how proud they are of me. Compared to the lives of my parents, my brothers, sisters and I have led charmed lives. We’ve always been safe, loved and well cared for. Our pack has thrived and our alliance with our neighboring packs is strong. I plan to continue this pattern when I take over as Alpha.
“Are you ready son?” My father asks me. He comes to stand behind me in the mirror. I am a perfect replica of my father except for my gray eyes. I have my mother’s eyes. But, I have my father’s curly, unruly dark blond hair, his tall, muscular build and his dominant personality. I am my father’s son in all ways.
“I’m ready.”
After standing in front of the pack, taking my oath as Alpha and having the entire pack swear their loyalty to me, it’s time to party.
"Alexander! Pulang sekarang! Arandra akan melahirkan!"Alexander memacu kakinya secepat mungkin. Berlari menyusuri koridor rumah sakit setelah melewati satu jam perjalanan.Jadi ini saatnya...Setelah melalui sembilan bulan yang panjang–mereka yang masih beberapa kali bertengkar perihal masalah yang sama, Arandra yang beberapa kali kesakitan, dan Alexander yang terus diliputi ketakutan–sekarang akan berakhir. Dan semuanya akan baik-baik saja."Bagaimana Arandra?" tanya Alexander cepat begitu sampai di hadapan Anggy dan Arthur yang duduk di depan ruang persalinan. Napasnya tidak beraturan."Arandra di dalam. Cepat temani dia," kata Arthur pelan sembari menepuk bahu putranya. Sementara Anggy masih duduk dengan kepala tertunduk–berdoa untuk keselamatan menantu dan kedua cucunya.Alexander menarik napas dalam. Dia berjalan memasuki ruangan tempat Arandra akan melahirkan. Degup jantungnya berpacu dengan keras, serta tangannya yang men
Arandra menunduk dengan kedua tangan tertaut. Punggungnya menempel di kepala ranjang, selimut menutupinya kakinya yang diposisikan lurus. "Maaf, Ibu. Pesta kejutan untuk ayahnya jadi batal karena aku," katanya merasa bersalah.Sejak Arandra bangun, Anggy sudah ada di sini dengan tatapan kesal pada Arandra Dia tidak mengatakan apapun, hanya diam saja. Jadi tidak salah jika Arandra berpikir wanita itu marah padanya."Kau pikir Ibu kesal karena itu?" balas Anggy dengan nada bicara garang.Arandra lantas mengangkat kepalanya, mendongak menatap Anggy yang berdiri di sebelah ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada."Kau hamil. Sampai sudah berapa bulan itu? Tapi Ibu tidak tahu sama sekali," sindir Anggy. Arandra membuka bibirnya, baru tahu kenapa Ibunya kesal seperti itu. Dia menarik sudut bibirnya, tersenyum merasa bersalah. "Aku ingin memberitahu Ibu dan Ayah. Tapi belum ada waktu," berinya alasan."Belum ada waktu?" Anggy berd
Kelopak mata Arandra bergerak-gerak karena terusik oleh kecupan-kecupan yang mendarat di wajahnya. Perlahan dia membuka mata, lalu mendapati Alexander di depannya dengan sebuah senyuman tipisnya."Kau sudah pulang?!" Arandra langsung bangun, menerjang Alexander dan langsung memeluknya sambil tertawa riang. Alexander terkekeh kecil. "Rapatnya tadi lebih lama dari biasanya. Jadi aku pulang telat," beritahunya. "Aku menghubungimu beberapa kali. Tapi kau tidak mengangkatnya."Arandra menyengir. "Aku tidur.""Sepanjang hari?"Arandra mengangguk. "Aku bermain sebentar dengan Zzar tadi. Setelah itu kembali tidur."Alexander mengusap puncak kepala Arandra sambil mengamati wajahnya. "Wajahmu kenapa pucat?" Lelaki itu memperhatikan wajah Arandra dengan teliti, baru menyadarinya.Kening Arandra berkerut. "Memangnya iya?" Dia menyentuh wajahnya sendiri–memeriksa tanpa melihat wajahnya. "Tapi aku baik-baik saja. Mungkin karena terlalu banyak tidur," jawabnya asal. Alexander berdecak, dia akan me
Arandra sedikit mendongakkan kepala untuk menatap wajah Alexander. Lelaki itu berbaring di sebelahnya–menyangga kepalanya dengan satu tangan di saat tangannya yang lain mengusap kepala Arandra."Tidur," kata Alexander dengan raut tenangnya sembari terus mengusap kepala Arandra. Sudah cukup dia marah pada wanita ini. Alexander tidak bisa terus melakukannya. Arandra selalu memiliki cara untuk menghentikan amarahnya.Arandra memperlihatkan deretan giginya yang tersusun dengan rapi–tersenyum cerah. Lalu dia menempelkan wajahnya di dada Alexander, memejamkan matanya."Aku sangat menyayangimu, Ara."Arandra membuka lagi matanya, menatap Alexander. Lalu sebelah tangannya terangkat, menyentuh rahang Alexander."Alex..." Arandra menatap serius Alexander. "Aku berjanji akan melahirkan mereka dengan selamat. Mereka berdua akan baik-baik saja sampai dilahirkan nanti."Alexander mengangguk dengan senyum kecil. "Dan kau juga harus baik-baik saja," ucapnya menambahkan.Arandra tidak memberikan tangg
"Sebuah teori menyebutkan bahwa Ayah akan lebih cenderung merawat anaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang jika anak tersebut mirip dengannya." Kening Arandra berkerut membaca sebuah kalimat dalam buku yang sedang dibacanya. Arandra merebahkan tubuhnya dengan posisi telungkup–mencari posisi yang
Alexander menampilkan wajah datar di saat matanya menatap tanpa berkedip layar monitor yang memperlihatkan dua janin seukuran buah stroberi. Mereka kembar. Karena itu Arandra menyebut kata 'mereka' dalam kalimatnya sebelumnya.Apakah Alexander merasa senang? Dia tidak tahu. Setelah kehilangan anaknya
Alexander tidak kembali ke kamar mereka hingga malam tiba. Dia tidak mau berbicara dengan Arandra. Ketika memiliki masalah, mereka hanya perlu saling membicarakannya–lalu masalah mereka selesai begitu saja. Tapi jangankan untuk berbicara, Alexander bahkan sepertinya tidak mau melihat wajahnya. Arand
Arandra memberikan gelasnya kembali ke pelayan setelah meminum sedikit airnya. Kemudian meletakkan kepalanya lagi di kepala ranjang–masih merasa pusing."Nyonya Arandra pingsan karena terlalu kelelahan." Rosaline bersuara. Lalu dia menatap Arandra dengan wajah garang–seperti seorang ibu yang siap mem


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan