Masukعندما يأتي الغدر من اقرب شخص لديها، عندما يتركها زوجها فجأه وبدون اي سبب!! وعندما تكتشف فجأه مرضها الذي يؤدي بها للقاء بطبيبها ! هذا الذي اشفي مرضها وقلبها معا
Lihat lebih banyak01
Ketukan palu hakim pengadilan agama Bandung yang menandakan bahwa sidang perceraian telah usai, membuat hati Lilakanti Risniar hancur berkeping-keping.
Perempuan berambut sebahu itu sekuat tenaga menahan tangisan yang hampir keluar. Dia menggigit bibir bawah sambil mempererat pegangan ke tangan Anita, sahabat karibnya.
Lilakanti berdiri dengan kaki yang sedikit goyah. Dia tetap berpegangan pada Anita yang menuntunnya menuju meja hakim dan menyalami pria berkumis tipis yang memandanginya dengan sorot mata prihatin. Kemudian Lilakanti dan Anita menyambangi tim kuasa hukum untuk berbincang sesaat.
Sementara pria yang berada tidak jauh dari tempat Lilakanti dan Anita berdiri, menyalami hakim dengan wajah semringah. Sekilas pria tersebut melirik Lilakanti, kemudian membalikkan tubuh dan jalan bersama pengacaranya ke luar ruang sidang.
Lilakanti menatap punggung Baron dengan hati yang sangat hancur. Pengabdiannya selama lima tahun lebih pernikahan ternyata tidak berarti apa-apa buat Baron. Bahkan, pria berusia tiga puluh tiga tahun tersebut seolah-olah tidak peduli dengan keberadaan perempuan yang sangat setia padanya.
"Mau langsung pulang atau gimana?" tanya Anita dengan suara pelan. Sebagai seorang sahabat yang sudah menemani Lilakanti dari masa SMU dulu, membuatnya sangat paham dengan kerapuhan hati sahabat baiknya tersebut.
"Aku ... mau ke kafe aja," jawab Lilakanti dengan lirih.
"Kamu yakin?"
Lilakanti mengangguk dengan lemah. Dia belum sanggup untuk pulang ke rumah dan berhadapan dengan anaknya, Azrina Althafia. Lilakanti takut dia akan menangis di hadapan sang putri, karena malaikat kecilnya itu tidak boleh mengetahui kehancuran hatinya.
Kedua perempuan tersebut berjalan sambil bergandengan tangan menuju tempat parkir. Mereka berhenti tepat di teras pengadilan agama dan memandangi seunit mobil sedan merah yang melintas. Sementara pengemudinya sama sekali tidak menghiraukan mereka.
"Boleh nggak kalau aku lemparin batu ke kepalanya?" tanya Anita sambil memelototi mobil milik Baron.
"Terus dia benjut, gitu, ya?" Lilakanti balas bertanya.
"Hu um, kalau perlu sekalian kucakar itu muka sok gantengnya!"
"Dia memang ganteng, Nit."
"Kamu masih aja muji-muji. Padahal dia udah nyakitin kamu," keluh Anita. Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana sahabatnya itu bisa bertahan untuk sabar, padahal mantan suaminya tersebut telah menyakiti hati sedemikian rupa.
Lilakanti mengulaskan senyuman tipis. Dia mengalihkan pandangan dan mengajak Anita menuju mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil sedan putih telah melaju menjauhi area parkir.
Lilakanti memandangi langit siang hari yang mendung, seakan-akan menggambarkan perasaannya saat itu.
Perempuan bermata cokelat tua, menghela napas berat dan mengembuskannya perlahan. Dia melakukan hal itu berulang kali, berharap bisa sedikit membantu dirinya agar bisa lebih tenang.
Sepanjang perjalanan menuju kafe milik Anita, Lilakanti merenungi nasibnya. Dia menyesal telah memilih Baron untuk menjadi suami. Padahal kedua orang tuanya tidak menyetujui hal itu, karena Baron dinilai kurang sopan dan egois.
Lilakanti tidak menduga jika karakter Baron benar-benar buruk. Berbanding terbalik dengan arti namanya yang bagus. Selain itu, Lilakanti juga menyesal telah berbuat baik pada keluarga Baron. Padahal mereka tidak mengindahkannya yang dianggap sebagai perempuan miskin.
Hanya Deandre, Adik Baron yang bersikap baik padanya. Deandre pula yang rajin mengunjungi Azrina dan bermain dengannya. Sedangkan keluarga Baron yang lainnya mengabaikan Azrina.
Dulu, Lilakanti bertahan karena sangat mencintai Baron. Dia meyakini jika pria tersebut juga mencintainya. Namun, semuanya hancur, justru di saat karier Baron menanjak, hingga dipercaya bosnya untuk menjadi direktur operasional.
Lilakanti yang mendukung karier Baron, harus menerima kenyataan pahit. Suaminya kian sombong dan akhirnya berselingkuh dengan seorang model muda bernama Calista.
Setibanya di kafe kecil milik Anita, kedua perempuan itu turun dan bergegas masuk sambil menutupi kepala dengan tas agar tidak kehujanan.
"Tin, aku pesan menu yang biasa," ujar Anita pada Titin, asistennya yang bertugas sebagai kasir.
"Siap, Bos," jawab Titin. Dia mengalihkan pandangan ke Lilakanti. "Teteh mau pesan apa?" tanyanya.
"Aku nggak lapar," sahut Lilakanti.
"Pesenin aja menu kesukaannya. Dia akan makan. Kalau perlu ... kupaksa!" ancam Anita sembari menggusur tubuh sahabatnya ke meja terdekat.
"Aku beneran nggak lapar, Nit," tolak Lilakanti.
"Mau lapar atau nggak, kamu tetap harus makan. Bukan buatmu, tapi buat Azrina!" tegas Anita.
Lilakanti terdiam sesaat, saat itu dia harus mengakui bahwa ucapan Anita itu benar. Dia tidak boleh egois. Bila dia sakit, atau hancur, lalu bagaimana nasib Azrina kelak. Padahal hanya mereka berdua sekarang yang mesti berjuang hidup, tanpa Baron.
***
Waktu bergulir dengan kecepatan maksimal. Perlahan tetapi pasti, Lilakanti sudah bisa menata hati dan kehidupannya. Bersama Azrina, Lilakanti sangat menikmati masa-masa tenang dan membahagiakan.
Hari itu, keluarga besar Lilakanti tengah berbahagia. Harun, Adik sepupu Lilakanti telah mempersunting gadis pujaannya, Sherli Marlina. Pernikahan mereka dilangsungkan dengan meriah di sebuah gedung pertemuan di kawasan Buah Batu.
Keluarga besar Lilakanti sangat bangga pada Harun yang berhasil menjadi salah satu pengawal andalan PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia.
Pesta pernikahan yang megah buat Harun dan Sherli, juga merupakan hadiah dari para petinggi PBK yang dikenal sebagai 7 Power Rangers. Yakni, Alvaro Gustav Baltissen, Yanuar Kaisar, Wirya Arudji Kartawinata, Zulfi Hamizhan, Yoga Pratama, Andri Kaushal dan Haryono Abisatya Putra Daryana.
Wedding organizer yang menjadi penanggung jawab acara tersebut adalah milik Mutiara Iryana dan Edelweiss Indira Kusuma. Mutiara merupakan istri dari Arkhan Maheswara. Sedangkan Edelweiss adalah istri Axelle Dante Adhitama.
Lilakanti bekerja sebagai staf di WO itu cabang Bandung, sejak setahun terakhir. Dia dulu pernah bekerja di perusahaan sejenis. Namun, seusai menikah, Baron memintanya berhenti bekerja dan fokus mengurus rumah tangga.
Harun menjadi penghubung Lilakanti hingga bisa menemui Mutiara dan Edelweiss untuk melamar pekerjaan. Lilakanti sangat bersyukur, di tengah carut-marut kehidupannya, ada orang yang mau mengulurkan tangan membantunya. Hingga Lilakanti bisa menghidupi dirinya dan Azrina dengan layak.
"Teh, bisa tolong antarkan ini ke meja bos PC?" pinta Hasna, Adik Harun sambil mengulurkan nampan penuh cangkir kopi dan teh.
"Bisa. Sini, Teteh yang nganterin," sahut Lilakanti sembari mengambil nampan dari sepupunya.
"Punten, ya, Teh Aku lagi repot di stand makanan."
"Enggak apa-apa. Teteh juga lagi nyantai. Kamu langsung kembali ke sana."
Hasna mengangguk mengiakan. Dia berbalik dan jalan cepat menuju tempat tugasnya. Sementara Lilakanti mengayunkan tungkai menuju tempat VIP khusus bos PG dan PC.
Lilakanti mengulaskan senyuman setibanya di tempat tujuan. Dia meletakkan nampan ke meja, kemudian menyajikan minuman buat kesepuluh orang tersebut.
Lilakanti tidak menyadari bila dirinya diperhatikan pria berjas biru tua di kursi sebelah kanan. Setelah menuntaskan tugas, Lilakanti berpamitan pada orang-orang tersebut dan segera menjauh.
Perempuan bersetelan kebaya abu-abu melenggang menuju stand minuman. Dia hendak mengambilkan sop buah buat putrinya, ketika satu suara yang sangat dikenalnya memanggil dari belakang.
Tubuh Lilakanti menegang. Dia mengerjap-ngerjapkan mata sambil menenangkan diri. Kemudian dia memutar badan untuk berhadapan dengan Baron dan Calista.
"Ternyata kamu memang tidak berubah. Dari dulu gemar sekali menjadi pembantu," ledek Baron.
"Kenapa memangnya? Ini pesta adikku. Sudah sewajarnya aku turut membantu," jawab Lilakanti sambil berusaha tetap tenang.
"Posisi ini memang pantas buatmu."
"Mungkin begitu, seenggaknya aku masih berguna buat orang lain. Bukan menjadi parasit."
"Justru kamu itu parasit. Selama menikah, kamu numpang hidup sama aku!"
"Kan, kamu yang memintaku berhenti kerja. Lagi pula, kalau memang tidak mau menafkahi, nggak usah nikah. Bikin repot orang aja."
"Kamu memang nggak tahu diuntung! Sudah bagus aku menjadikanmu istri dan memberimu hidup nyaman!"
"Justru itu yang sangat kusesali. Mengenal dan menikah denganmu. Dasar, Brengsek!"
"Sudahlah, Mas. Jangan bertengkar," sela Calista sambil mengusap lengan Baron. "Enggak perlu beradu mulut dengan sampah," cibirnya.
"Heh! Kamu bilang aku sampah? Lalu, pelakor dan perebut suami orang, itu namanya apa? Septic tank!" hardik Lilakanti. Dia benar-benar sudah tidak bisa bersabar menghadapi hinasn Calista.
"Mbak, harusnya kamu ngaca, deh. Lihatlah, penampilan kita beda jauh. Kamu nggak bisa mengurus diri. Makanya ditinggal suami, dan nggak laku lagi," hina Calista.
"Siapa bilang nggak laku? Aku bisa mendapatkan orang yang jauh lebih kaya dan tampan dibandingkan si brengsek ini!"
"Buktikan saja. Aku sama sekali tidak percaya kamu sanggup melakukan itu."
"Ada apa, Sayang?" tanya seorang pria yang telah berada di samping kiri Lilakanti. "Kenapa ribut-ribut? Lihat, kalian ditonton banyak orang," lanjutnya sambil memindai sekitar.
Lilakanti terkejut menyaksikan pria yang tadi diantarkan minuman olehnya, telah memanggilnya dengan sebutan sayang. Otak Lilakanti berputar cepat, hingga dia meyakini jika lelaki tersebut tengah berakting dan Lilakanti akan mengimbanginya.
"Ini, mantan suamiku dan septic tank. Maksudku, selingkuhannya," terang Lilakanti seraya memaksakan senyuman.
"Oh, yang kamu ceritakan itu, ya?" tanya pria berjas biru.
Lilakanti mengangguk mengiakan. Dia kaget ketika pria tersebut mengulurkan tangan kanannya pada Baron, yang sempat terdiam sesaat sebelum berjabatan.
"Perkenalkan, saya, Farisyasa Kagendra. Calon suaminya," ungkap pria berparas tampan seraya mengulaskan senyuman.
جلس علي في أحد الكافيهات الهادئة المطلة على شاطئ ستانلي، كان كوب القهوة أمامه قد برد تماماً، وعيناه مسمرتان على مدخل الكافيه بترقب وقلق. منذ أن هاتفته تارا بصوت مبحوح ومضطرب تطلب لقاءه فوراً، وقلبه لم يهدأ. يعرف تارا جيداً؛ إنها الفتاة المرحة التي لا تفارق الابتسامة وجهها، فأن تطلبه في الصباح الباكر بنبرة بكاء، فهذا لا يعني سوى أن كارثة قد وقعت في بيت عائلتها.لم يمر وقت طويل حتى دلفت تارا من الباب. كانت ترتدي عباءة بسيطة باللون الكحلي، وعيناها متورمتان بشدة من قلة النوم والبكاء.. ووجهها شاحب يخلو من أي مساحيق. تقدمت نحو الطاولة بخطوات متعثرة كأنها تجر خلفها جبالاً من الهموم. وقف علي فوراً، وسحب لها المقعد، وجلس أمامه يمسك بيديها الباردتين المرتجفتين، وقال بنبرة يملؤها الخوف الحقيقي:= "تارا! مالك يا حبيبتي في إيه؟ وشك عامل كده ليه وعينيكي منفوخة؟ إيه اللي حصل من امبارح بعد ما سبتكم؟ طمنيني أرجوكي وقعتي قلبي."لم تتحمل تارا نظرة الحنان في عيني خطيبها، فانفجرت في بكاء صامت، ودموعها تنساب بغزارة على وجنتيها. حاولت استجماع أنفاسها وتحدثت بصوت متقطع ومبحوح:= "البيت بيخرب يا علي.. خال
مع أولى خيوط الفجر التي بدأت تنسحب تدريجياً لتعلن ولادة صباح جديد على مدينة الإسكندرية، لم يكن أيّ منهما قد ذاق طعم النوم لثانية واحدة. غلف الهدوء القاتل كلا المكانين، لكنه كان هدوءاً أشبه بسكون ما قبل العاصفة، أو بالأحرى، هدوء ما بعد الخراب.في بيت أهله، تحديدا داخل غرفته القديمه الذي اعتاد المبيت فيها استيقظ خالد – إن كان يُسمى ما عاشه استيقاظاً – مع دقات الساعة السابعة صباحاً. كان ممدداً فوق سريره القديم في غرفته التي هجرها منذ شهرين ونصف. ذراعه موضوعة فوق عينيه لتحجب أشعة الشمس المتسللة عبر الستائر، لكنها لم تحجب الصور الذهنية التي كانت تمزق عقله. شعر بفراغ غريب وجليد يزحف إلى أطرافه؛ فقد اعتاد طوال الأسابيع الماضية أن يفتح عينيه ليجد وجه سما الملائكي بجانبه، يداعبها بنعومة الياسمين .. ويستمع إلى أنفاسها المنتظمة التي تمنحه الطمأنينة قبل أن يبدأ يومه الشاق في المستشفى.تلمس الفراش بجانبه، فلم يجد سوى ملاءات باردة وقاسية لا تحمل رائحتها. هذا الفراغ المفاجئ كان كالحوت الجائع الذي يبتلع روحه ببطء. تقلب في فراشه بزفرة حارقة، وشعور الذنب والغضب يتنازعان داخله. عقله المنهك كان لا ي
خرج خالد من بوابة البرج السكني في جليم والكسر يملأ جوارحه، ركب سيارته وقادها في شوارع الإسكندرية شبه الخالية تحت ضوء قمر ليل لئيم لم يرحم لوعته. كان يمسك مقود السيارة بقوة وعروق يده بارزة من فرط الغضب والوجع، وصوت صراخ سما ونحيبها يتردد في أذنيه كصوت المشرط وهو يمزق الأنسجة. تداخلت في عقله مشاعر الإرهاق الجسدي بعد جراحة دامت لساعات طويلة، مع جرح كبريائه كرجل شعر للحظة أن تضحيته وحمايته السرية التي خرجت من أجلهقوبلتا بالدفاع المستميت واللوم لأجل رجل آخر. لم يكن يرى الطريق أمامه بوضوح، فالضباب لم يكن في الجو بل كان في عقله الذي أظلمه الشك المفاجئ والمشحون بالتعب.قاد سيارته تلقائياً نحو المكان الوحيد الذي يمثل له الملاذ القديم قبل أن يعرف الحب؛ فيلا والده الدكتور نديم، حيث تقيم والدته السيدة زينب وشقيقته تارا. أوقف السيارة بعنف أمام البوابة، ونزل منها بخطوات ثقيلة ومبعثرة، وفتح الباب الخارجي بالمفتاح الذي لم يفرط فيه يوماً.كانت الساعة قد تجاوزت الثانية والنصف صباحاً، والهدوء التام يلف جدران الفيلا، باستثناء ضوء خافت كان ينبعث من المطبخ حيث كانت السيدة زينب تجلس لتناول كوب من الأعشا
في تمام الساعة الحادية عشرة مساءً، سُمِع صوت مفتاح الباب وهو يدور في قفل الشقة بهدوء. دخل خالد بخطواته الموزونة الواثقة، وكانت علامات الإرهاق الشديد ترتسم على وجهه الوقور بعد ساعات طويلة قضاها بين جدران غرفة العمليات يصارع الموت لإنقاذ أرواح المرضى. خلع سترته ببطء ووضع حقيبته الطبية على الطاولة القريبة من الباب، والتفت بعينيه المتعبتين باحثاً عن سما، كعادته في كل ليلة يعود فيها ليعوض عناء يومه بابتسامتها العذبة ونسمة الأمان التي تمنحها له.لكنه لم يجد الابتسامة هذه المرة.كانت سما تقف في منتصف الصالون، جسدها الضئيل يرتجف بشدة، وعيناها الصافيتان اللتان كانت تلمعان بالفرح قبل ساعات في حديقة الفيلا، قد تحولتا الآن إلى جمرتين من القلق والذهول، والدموع المحبوسة تجعل حدقتاها تبرقان في ضوء الشقة الخافت. لم تكد خطوات خالد تقترب منها حتى انفجرت بصوت متهدج، تملؤه نبرة الخوف والهلع الطاغي التي تحولت رغماً عنها إلى حدة وهجوم:= "إنت عملت إيه يا خالد؟! روحت له بصفتك إيه وعشان إيه؟! إزاي تخبي عليا حاجة زي دي؟!"توقف خالد في مكانه، وتصلبت ملامحه الرجولية تماماً، وقطب جبينه بذهول وعتاب وهو ينظر إلي
لا تصدق ما سمعته للتو هل الطبيب خالد واقع في غرامها هل هي مازلت مرغوب فيها نظرت لنفسها في المرآه هل هي تلك الانثي الذي ممكن ان يحبها احد جلست علي سريها وهي ترمي كل الافكار بعيدا وتضع يداها علي قلبها من الصدمه بينما هو في مكتبه يخاطب قلبه وعقله هل لفظها لها! وهل متامل من مشاعره تلك
وااه من الدموع الحارقه عندما تشق خذنا وااه من قهرالحزينه عندما يتجاهلها الجميع وااه منوحده لا تجد لا ونيسا تعبت هي حقا من كلمه " اصمتي"فان كانوا يريدوها صامته الي هذا الحد لما لم يلدوهاخارسه..!هذا ما اردفته بحزن وفكرت فيه قبل ان تتركمكانها ذاهبه لغرفتهاتنزل الجموع علي مخذتتا بلا اي صوت واليس
انهارت كارما علي الارض جالسة وهي محنية رأسها تبكي بشدة و كلامته القاسية لازالت ترن باذنيها شعرت وكأن عالمها قد انهار من حولها فلم تكن تظن في اسوء تخيلاتها ان يكون هذة ردة فعله بان يقوم بالسخرية منها ومن مشاعرها فلم تكن تدرك بانها قليلة الى هذه الدرجة بالنسبة له لتبكي بحرقة وحسره علي قلبها الذي تم ك
في بيت بعيد عن تلك المشفي كان يجلس هو مع عائلته الصغيره المكونه من امه "امنيه" واخته " تارا" الذين كانوا يملئون عليه حياته بعد موت والده.. فاق من شروده اللحظي علي صوت امه تنادي = خالد حبيبي تعالي جبلي الصحون من فوق الرف تارا مش طيلاها قام من مكانه سريعا يتجه للمطبخ جالبا لهم ما يريدوا قبل ان






Ulasan-ulasanLebih banyak