LOGIN“คืนนั้น... ฉันไม่ได้ตั้งใจจะมีอะไรกับเขา แต่เขากลับมองว่าฉันเป็นแค่ผู้หญิงไร้ค่าที่คิดจะจับเขาด้วยลูก!” ณิชชา หนีไปพร้อมกับบาดแผลและความลับที่ซ่อนไว้ในท้อง ห้าปีต่อมา... เธอกลับมาพร้อมลูกแฝดสามที่หน้าตาถอดแบบเขาราวกับพิมพ์เดียวกัน “คืนนั้นแค่ครั้งเดียว จะมาบอกว่าท้องกับฉันได้ยังไง” “แต่ลูกทั้งสามของฉัน... มีดีเอ็นเอของคุณนะคะ ท่านประธาน” รามิลไม่เคยรัก และไม่เคยคิดจะให้อภัย เขาพร้อมเหยียบย่ำเธอซ้ำๆ แต่ลูกแฝดสามกลับค่อย ๆ ทำลายเกราะน้ำแข็งของชายผู้ไร้หัวใจ... และปลุกให้เขาได้รู้ว่าคนที่เขาเคยขับไล่ไป คือความรักเดียวทั้งชีวิตของเขา!
View MoreTahun 2076 teknologi dan ilmu pengetahuan telah berkembang dengan cepat. Semua pekerjaan mengandalkan internet. Berhitung, berdagang, atau bersekolah. Tidak ada lagi pekerjaan yang terlalu susah atau menguras tenaga. Anak-anak tak perlu lagi berangkat ke sekolah, bahkan bangunan sekolah hampir tidak pernah ditemukan lagi, kecuali di daerah kumuh tempat orang-orang yang terbuang dari masyarakat tinggal. Sekolah kuno yang masih menggunakan buku fisik.
Kehidupan sosial masyarakat telah banyak berubah. Hidup mereka serba gelamor. Tentunya itu bagi sebagian orang, karena sisanya hanyalah pengangguran atau penjahat. Jika dihitung-hitung memang hampir tidak ada yang bekerja secara jujur.
Berkembangnya teknologi berarti semakin sempurnanya kecerdasan buatan. Para ilmuwan berhasil menciptakan AI tercanggih yang kemudian dimasukkan ke dalam program robot dan komputer. Kecerdasan yang bahkan bisa menyaingi otak manusia.
Robot-robot itu sudah bukan lagi mesin yang bergerak dengan kaku. Tampilan mereka sudah mendekati sempurna. Tutur kata dan bahasanya pun sangat fasih. Jika tidak teliti, mereka akan terlihat seperti manusia biasa.
Manusia tidak lagi dibutuhkan sebagai pembantu atau pelayan. Peran mereka sudah digantikan oleh robot yang umumnya dirancang sebagai wanita cantik.
Di antara robot-robot itu, yang paling terkenal adalah Ellie. Ia tidak hanya memiliki kecerdasan buatan paling sempurna, tetapi juga dipercaya memiliki sensor rasa sakit, sehingga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh manusia. Satu-satunya humanoid sempurna yang berhasil diciptakan oleh seorang ilmuwan setengah gila bernama Edward Fuller, setelah kehilangan putrinya yang juga bernama Ellie. Hanya saja robot Ellie memiliki singkatan E.O.A.E di belakang namanya. Tidak ada yang tahu apa kepanjangan dari E.O.A.E.
Edward sendiri ditemukan meninggal dunia setelah karya terbesarnya, Ellie E.O.A.E tercipta.
Ellie adalah robot sekaligus penyanyi idol yang diidolakan oleh banyak orang di seluruh dunia, dari tua sampai muda. Setiap orang selalu menantikan penampilannya.
Hari ini, ia akan tampil di stadion Rungrado May Day di Pyongyang, Korea Utara, stadion terbesar di dunia sejak dulu. Sekarang bahkan lebih besar lagi. Jika dulu hanya dapat menampung 114.000 orang maka sekarang dapat menampung sampai satu juta orang.
Penampilannya kali ini untuk mempromosikan produk parfum terbaru bernama End Spray. "Parfum yang wanginya bisa membawamu sampai ke surga" begitulah semboyan perusahaan itu. Tidak ada yang tahu siapa pemilik perusahaan tersebut, tetapi siapapun orangnya pastilah dia sangat kaya, karena dapat menyewa idol termahal. Tidak hanya sampai di situ, semua orang dari berbagai penjuru dunia boleh menonton konser tanpa harus membeli tiket. Gratis.
Konser terbesar sepanjang zaman.Di depan pintu rumah berlantai dua, tampak seorang perempuan muda berwajah cantik dengan bibir merah sedang menggerutu. Mengenakan kacamata hitam. Pakaiannya sangat rapi dan bagus. Ia segera membunyikan bel beberapa kali dengan wajah marah.Tak berselang lama pintu itu pun terbuka. Tampak seorang perempuan yang lebih muda darinya berdiri di sana, memperlihatkan senyuman termanisnya.
"Eh, Kak Shinta, Kakak pasti ingin bertemu dengan Kak Argo, kan?"
"Ya, di mana dia sekarang, Meina?" tanya perempuan bernama Shinta itu masih dengan ekspresi kesal.
"Dia masih tidur."
"Apa? Dia masih tidur?"
Gigi geligi Shinta berkertak-kertuk. Ia memasuki rumah dengan kedua tangan dikepalkan. Wajahnya tampak merah padam, pertanda marah besar.
"Fufufu, pasti bakal seru nih," gumam Meina seraya membuntuti Shinta dari belakang.
Shinta mengetuk pintu kamar di lantai dua dengan keras sambil berteriak-teriak. "Woi, Argo! Bangun! Apa kau sudah lupa dengan janjimu?"
Sementara itu di dalam kamar, Argo terperanjat bangun. Lalu menggosok-gosok kedua matanya. Ia segera berdiri dan berjalan dengan limbung menghampiri pintu. Kepalanya terasa pusing karena dibangunkan secara tiba-tiba.
"Iya, iya, aku sudah bangun," jawabnya seraya membuka pintu. "Ada apa sih, Shin? Pagi-pagi begini sudah bikin ribut?"
"Pagi apanya? Ini sudah tengah hari!" semprot Shinta.
"Oh, kau benar," kata Argo seraya menatap jam tangannya dengan wajah tenang-tenang saja.
"Kau tidak lupa dengan janjimu kemarin, kan?" Shinta menatap Argo lekat-lekat.
"Eh … janji? Janji apa ya?" Argo mengerutkan keningnya.
"Huh, ya ampun, kau ini selalu saja seperti ini!" Shinta menghela napas. "Kemarin kau berjanji akan menemaniku menonton konsernya Ellie."
"Iya, tenang saja, aku ingat, kok." Mulutnya memang berkata begitu tetapi di dalam hatinya ia mengeluh, 'Ck, kenapa kemarin aku menyetujuinya, sih!'
"Baguslah, tapi apa kau ingat, kapan konsernya mulai?"
"Hemm, kalau tidak salah, hari ini pukul tiga sore."
"Dan sekarang pukul berapa?"
Argo segera melihat jam tangannya lagi. "Pukul satu lebih empat puluh menit."
"Kita sudah terlambat, bodoh!" Shinta menarik kerah baju Argo dan mengguncangnya.
"Tenanglah! Kalau naik kereta Super Lightning kau akan sampai dalam sejam."
Shinta segera melepaskan kerah baju Argo.
"Itu memang benar, tapi tiketnya sangat mahal! Lima juta! Memangnya kau mau membelikanku tiket untuk kita berdua?" ujarnya.
"Tidak mau, kau beli saja sendiri untuk dirimu sendiri, terus pergi ke konser itu sendirian saja. Aku punya pekerjaan yang jauh lebih penting daripada menonton konser membosankan itu."
"Huh, kau ini pacar macam apa sih!" Shinta menghela napas. "Untung aku cinta, jika tidak, sudah lama aku meninggalkanmu, dasar es batu!"
Ia merutuk tiada henti seperti biasa, setiap Argo tidak menuruti keinginannya. Hanya akan berhenti mengoceh saat kemauannya dituruti.
Diam-diam Argo membuka gadget untuk melihat sisa saldo rekeningnya. Jumlahnya tiga puluh juta. Bukan nominal yang besar di zaman yang serba maju dan serba mahal ini, hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari saja. Ia membuang napasnya, kemudian berkata. "Baiklah, baiklah, aku akan membelikan tiketnya!"
Seketika wajah masam Shinta berubah menjadi ceria. Ia segera memeluk pacarnya. "Ah, kau memang pacar yang terbaik, aku tidak salah memilihmu."
"Iya, sudah! Cepat lepaskan aku! Konsernya akan segera dimulai, kan?"
"Baiklah, ayo berangkat!" kata Shinta seraya menarik tangan Argo.
Di balik dinding kamar mandi dekat tangga, mereka berpapasan dengan Meina yang segera menyembunyikan kamera ke belakang punggungnya. Ia terlihat sangat gugup.
"A-aku tidak merekam kalian, aku hanya mau ke kamar mandi," kata Meina salah tingkah.
"Lupakan soal itu!" kata Shinta seraya tersenyum manis. "Kau mau ikut menonton konser Ellie bersama kami?"
"Benarkah? Aku boleh ikut?" Meina menatap wajah kakaknya dengan sorot mata penuh harap.
Argo menghela napasnya. "Huh, iya, kau boleh ikut, tapi kau harus menghapus rekaman itu!"
"Oke, aku akan menghapusnya nanti."
Mereka segera pergi ke stasiun kereta Super Kilat yang kecepatannya mencapai 1 km/menit. Dengan kereta Super Kilat, mengelilingi dunia tak lagi membutuhkan waktu berbulan-bulan. Namun, bagaimana bisa? Apakah kereta ini bisa mengapung di atas air? Tentu saja tidak! Kereta ini bisa berkeliling ke seluruh dunia karena jaringan relnya telah dibangun di seluruh bawah laut. Namun, hanya orang-orang kaya yang dapat menikmati kecepatannya.
Setelah membeli karcis, Argo beserta Shinta dan Meina segera menaiki kereta. Bagian dalam kereta itu tampak berkelas. Orang-orang berjas hitam duduk di kursi-kursi yang saling berhadapan, membicarakan bisnis dengan bisik-bisik. Di hadapan mereka sudah tersedia makanan mewah.
Mereka menikmati pemandangan bawah laut melalui jendela kereta, di sepanjang jalan.
Sesampainya di Korea Utara, suasana di sana sangat ramai seperti yang telah diperkirakan. Banyak orang menongkrong di tepi-tepi jalan dan di depan toko. Kapasitas stadion Rungrado sepertinya sudah penuh. Penjaga gerbangnya tidak mengizinkan siapapun untuk masuk lagi, sehingga terpaksa mereka menonton dari layar monitor yang sengaja dipasang di gedung-gedung.
"Tuh, kan, semua ini gara-gara kamu! Kita jadi kehabisan tempat!" gerutu Shinta dengan bibir manyun.
"Berisik! Aku sudah membuang banyak uang tabunganku hanya untukmu, jadi jangan banyak mengeluh!"
"Huh, ya sudah, apa boleh buat."
"Woah, jadi inikah Korea Utara." Mata Meina jelalatan, terkagum-kagum. Ia belum pernah pergi ke luar negeri sebelumnya.
Semua tempat direkamnya dengan kamera yang tak pernah lepas dari tangannya itu.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 15:00. Konser akan segera dimulai saat Ellie beserta anggota idolnya naik ke atas panggung. Siapapun yang melihatnya akan terpesona oleh kecantikannya dan tingkah lakunya yang agak centil, benar-benar humanoid yang sempurna.
Konser berlangsung hingga tengah malam. Ellie membawakan lagu-lagu yang terkesan sedikit kelam dan berbumbu kesedihan pada penampilannya kali ini, mungkin karena suasana hatinya sedang tidak baik. Namun, itu alasan yang tidak masuk akal, karena ia adalah robot, tidak mungkin punya hati.
Di penghujung acara, para staf membagikan sebotol parfum gratis kepada para penonton, tak terkecuali yang berada di luar stadion. Semua orang dapat, tanpa terkecuali.
"Teman-teman!" teriak Ellie dari atas panggung. "Apakah kalian semua sudah mendapatkan hadiahnya?"
Seketika para penontonnya balas berteriak dengan kompak. "Ya!"
"Kalau begitu, sekarang aku akan membawakan lagu terakhir untuk kalian!"
Sontak para penonton bersorak-sorai. Musik segera dimainkan dan Ellie pun mulai bernyanyi, diikuti oleh penontonnya.Acara konser segera berakhir saat jarum jam telah menunjukkan pukul 01:30."Oke, ayo kita pulang!" kata Argo seraya berjalan lebih dulu.
"Hah, kenapa kita tidak menginap di hotel dulu?" tanya Shinta yang terlihat sangat mengantuk.
"Jangan konyol! Uangku hanya tinggal sedikit lagi! Hanya cukup untuk mengantarkan kita pulang dengan pesawat."
"Ugh, ya sudah."
เช้าวันรุ่งขึ้น รามิลสั่งให้เด็ก ๆ แต่งตัวให้เรียบร้อยเป็นพิเศษ เพราะจะมีครูจากโรงเรียนเอกชนชื่อดังมาทำการคัดเลือกเพื่อเข้าเรียนในภาคเรียนถัดไปเขาได้ทำการให้เด็กๆ ลาออกจากโรงเรียนรัฐ เพื่อเข้าโรงเรียนเอกชนที่เขาเป็นคนคัดสรรว่าดีที่สุด“อย่าทำให้ผมอับอายขายหน้า หากลูกของคุณสอบไม่ผ่าน นั่นหมายความว่าเพราะคุณสั่งสอนไม่ดี” เขาเอ่ยขึ้นด้วยน้ำเสียงเย็นเฉียบขณะยืนแต่งสูทเรียบหรูหน้ากระจก โดยไม่แม้แต่จะหันมามองณิชชาที่กำลังจัดชุดให้เด็ก ๆ อยู่บนโซฟา“เด็กทั้งสามคนมีศักยภาพและมีความสามารถค่ะ ฉันมั่นใจในตัวพวกเขา” เธอตอบกลับด้วยน้ำเสียงเรียบ พยายามอย่างยิ่งที่จะไม่ให้มือที่กำลังติดกระดุมเสื้อของเมฆาสั่น“ความมั่นใจลม ๆ แล้ง ๆ ของคุณ ไม่ใช่หลักประกันที่เชื่อถือได้สำหรับผม” เขาย้อนทันควันด้วยน้ำเสียงที่เต็มไปด้วยความดูถูก“ค่ะ ดูเหมือนว่าฉันพูดอะไรไปก็จะผิดหูสำหรับคุณไปหมดเลยนะคะ”“นั่นเพราะคุณมันเป็นแบบนั้นจริงๆ นี่”“ค่ะ เข้าใจแล้วค่ะ คุณจะเหน็บ จะแซะ จะแขวะอะไรฉัน
“ตุ๊กตาแพนด้าของเมฆหายไปฮับ แงงงง” เสียงร้องไห้ของเมฆาดังลั่นบ้านในเช้าวันจันทร์ที่ควรเริ่มต้นด้วยความสดใส เมฆานั่งกอดหมอนบนโซฟา น้ำตาไหลอาบแก้ม ดวงหน้าเล็ก ๆ ยู่ยี่ด้วยความเสียใจและไม่เข้าใจว่าทำไมตุ๊กตาตัวโปรดถึงหายไป ณิชชานั่งย่อตัวลงตรงหน้าลูกชายอย่างอ่อนโยน มือเรียวลูบศีรษะเล็ก ๆ เบา ๆ อย่างปลอบโยน“เมฆแน่ใจนะว่าเอาตุ๊กตามาด้วยจริง ๆ”“แน่ใจฮับคุณแม่ เมฆวางไว้บนหัวเตียงเมื่อคืนก่อนนอน เมฆกอดมันทุกคืนเลย”“ไม่ร้องนะครับคนเก่ง เดี๋ยวแม่ช่วยหานะ” หญิงสาวยิ้มให้ลูกชายอย่างให้กำลังใจ แล้วลุกขึ้นเดินหาทั่วบ้านพร้อมกับภูผาและวารินที่ช่วยกันค้นหาอย่างขะมักเขม้น ครู่ต่อมา วารินวิ่งหน้าตื่นมาจากหลังบ้าน “คุณแม่... วาเห็นตุ๊กตาอยู่ในถังขยะค่ะ”ณิชชาชะงัก หัวใจเหมือนถูกบีบอย่างแรง เธอรีบตามลูกสาวไปที่หลังบ้าน และก็เป็นอย่างที่วารินบอก... ตุ๊กตาแพนด้าขอ
เช้าวันใหม่ เด็กทั้งสามนั่งเรียงกันอยู่บนพรมผืนนุ่มในห้องนั่งเล่น วารินกำลังสานริบบิ้นหลากสีกับแม่ด้วยใบหน้ายิ้มแย้ม เมฆากำลังจัดเรียงรถของเล่นคันโปรดอย่างขะมักเขม้น ส่วนภูผาเงียบกว่าทุกครั้ง เขานั่งอยู่ข้างน้องชายแต่สายตากลับคอยชำเลืองมองแม่ตลอดเวลาด้วยความกังวล“แม่ฮะ... วันนี้เราไปเดินเล่นที่สวนสาธารณะได้ไหมฮับ” เสียงเล็กของเมฆาถามขึ้นอย่างมีความหวัง ดวงตาเป็นประกายด้วยความอยากออกไปข้างนอกหญิงสาวหันไปสบตากับลูกชายแล้วลูบศีรษะเล็ก “ถ้าพ่ออนุญาต แม่ก็พาไปได้จ้ะ”เด็กทั้งสามหันไปมองบิดาที่เพิ่งเดินลงมาจากบันไดเกือบจะพร้อมกัน รามิลมองภาพนั้นนิ่ง ๆ ด้วยแววตาเย็นชา“พ่อครับ พวกเราขอออกไปเดินเล่นที่สวนสาธารณะได้ไหมคับ” ภูผาเป็นคนลุกขึ้นก่อนใคร และออกปากขออนุญาตตามประสาพี่ใหญ่หญิงสาวเห็นสายตาของเขา ก็รู้สึกขนลุก เลยรีบพูดว่า “แค่เดินเล่นเองค่ะ ช่วงนี้เด็กๆ โรงเรียนหยุดยาวด้วย ให้ได้ไปเปิดหูเปิดตาบ้างเถอะนะคะ ฉันจะดูแลเป็นอย่างดีค่ะ”เขาพยักหน้าอนุญาตอย่างไม่เต็มใจนัก “ได้ แต่คุณต้องพาคนขับรถไปด้วย ห้ามพาเด็ก ๆ ไปในที่แออัด หรือสถานที่ที่คุณเคยไปสมัยทำงานในบริษัทเด็ดขาด” น้ำเสียงเข้มเต็ม
คืนนั้น ณิชชาแทบไม่ได้หลับเลย เธอนั่งเฝ้าลูก ๆ ที่เพิ่งกลับมาจากโรงพยาบาล นอนพักฟื้นอยู่ในห้องนอนส่วนตัว ร่างเล็ก ๆ ที่เพิ่งหายจากอาการป่วยยังดูอ่อนแรง หากแต่ก็ยังส่งยิ้มสดใสให้เธอเสมอ ราวกับต้องการบอกว่าพวกเขาไม่เป็นไรและไม่อยากให้เธอต้องเป็นห่วงหัวใจของคนเป็นแม่เจ็บปวดราวกับถูกกรีดเป็นริ้ว ๆ หากแต่ก็ไม่อาจเอ่ยคำใด หรืออธิบายความรู้สึกใด ๆ ให้ใครได้รับรู้เลย เธอทำได้เพียงกอดลูกๆไว้ และภาวนาให้ทุกอย่างผ่านพ้นไปโดยเร็วเช้าวันถัดมา รามิลเดินเข้ามาในห้องอาหารด้วยสีหน้าเรียบนิ่งราวกับไร้อารมณ์ เขาไม่แม้แต่จะชายตามองเธอสักครั้ง ขณะที่ณิชชายกถาดอาหารเช้าไปวางตรงหน้าลูก ๆ“ตั้งแต่วันพรุ่งนี้เป็นต้นไป ผมจะให้แม่ครัวเป็นคนจัดเตรียมอาหารสำหรับเด็ก ๆ เอง คุณไม่จำเป็นต้องเข้ามาในครัวอีกต่อไป” เขาเอ่ยขึ้นด้วยน้ำเสียงราบเรียบ โดยไม่แม้แต่จะหันมามองหน้าเธอ“แต่ว่า…” ณิชชาพยายามจะค้านอย่างอ่อนแรง“อย่าได้คิดที่จะโต้แย้ง ผมไม่มีเวลามากพอที่จะมาเสี่ยงกับความสะเพร่าของใครบางคน” รามิลตัดบทอย่างเด็ดขาด น้ำเสียงของเขาเย็นชาและเฉียบขาดจนณิชชาไม่อาจโต้เถียงได้อีกถ้อยคำเหล่านั้นราวกับตอกย้ำว่าเธอเป็นเพียงคว
ณิชชานั่งกุมมือตัวเองแน่น ดวงตากลมโตเต็มไปด้วยความสับสนและความกังวล เธอไม่รู้ว่าควรจะเชื่อใจคำพูดของรามิลได้มากน้อยแค่ไหน แต่สิ่งที่ทนายพูดถึงเรื่องกฎหมายก็ทำให้เธออดหวั่นใจไม่ได้"คุณณิชชาครับ คุณรามิลต้องการที่จะให้โอกาสเด็ก ๆ ได้เติบโตในสภาพแวดล้อมที่ดีที่สุด ท่านสามารถมอบทุกสิ่งที่พวกเขาต้องการ
"ลูก ๆ ของฉันมีความสุขดีอยู่แล้ว พวกเขาไม่ต้องการพ่อที่ไม่เคยมีตัวตนในชีวิตของพวกเขามาตลอดห้าปี" ณิชชาตอบโต้ทันที"แต่พวกเขาควรจะมีพ่อ และผมต้องการที่จะเป็นพ่อคนนั้น ผมอยากจะชดเชยเวลาที่ผมเสียไป ผมอยากที่จะ...""มันสายเกินไปแล้วค่ะ ท่านประธาน มันสายเกินไปมากแล้ว" ณิชชาตอบเสียงเด็ดขาด"ไม่สายเกินไปห
บทที่ 5ต้องการสิทธิ์ความเป็นพ่อเช้าวันรุ่งขึ้น รามิลเดินทางไปยังร้าน ‘บ้านขนม ณิชชา’ อีกครั้ง ข้างกายเขามีทนายวรุตม์ยืนอยู่ด้วยท่าทีสุภาพ ราวกับเป็นเงาที่คอยสนับสนุนความต้องการของเจ้านายเมื่อรามิลก้าวเข้าไปในร้าน กลิ่นหอมหวานของขนมอบไม่ได้ทำให้บรรยากาศตึงเครียดลดลง ณิชชาก็ชะงักมือจากการจัดขนม ดวง
บทที่ 4ผลตรวจดีเอ็นเอ หลังจากรามิลเดินออกจากร้านไป ความเงียบก็ปกคลุม ‘บ้านขนม ณิชชา’ อีกครั้ง มือของเธอสั่นเทาเล็กน้อย หัวใจเต้นระรัวด้วยความกังวล ความกลัวที่เธอพยายามกดเอาไว้ตลอดห้าปีที่ผ่านมาเริ่มปะทุขึ้นอีกครั้งเขาต้องการอะไรกันแน่? ทำไมถึงเพิ่งมาสนใจเรื่องลูกในตอนนี้? คำถามมากมายวนเวียนอยู่ใ