Mag-log inเสพตัญหา เป็นเนื้อหาเกี่ยวกับ อีโรติก ล้วนๆ "ตัญหา... ไม่ว่าจะที่ไหน เมื่อไหร่ จะอายุน้อยหรือมาก แค่ ถ่างขา อารมณ์ก็เปลี่ยนไปโดยไม่ต้องการเหตุผลใดๆ " "ราคะ... ความเร่าร้อนดั่งไฟโหมกระหน่ำ ปลุกอารมณ์ให้หาเซ็กซ์ ดับใคร่ร้อน จากสัมผัสอัศจรรย์ชายหญิง" “เสพราคะ” คือเรื่องราวของราคะต่อจาก “ตัญหา” อาจเกิดขึ้นได้ เมื่อความเปล่าเปลี่ยวใจ อารมณ์ความต้องการที่ไร้เหตุผล ทำให้การร่วมรัก หรือมีเพศสัมพันธ์ มีอำนาจเหนือเหตุผลทั้งปวง เมื่อชายหญิงพร้อมใจต้องการ เมคเลิฟ "สวาท... คือ ความพึงพอใจในรสรัก ทางกามารมณ์ อันเกิดจากชายและหญิง ต้องการสร้างแรงรักแรงสวาทร่วมกัน" “เสพสวาท” คือเรื่องราวต่อจาก “ราคะ” เมื่อมีความรัก เป็นแรงจูงใจในการพยายามใกล้ชิด และร่วมรักในที่สุด เริ่มจากการสัมผัสเรือนกาย และลุกล้ำมากยิ่งขึ้น หากมีความต้องการเป็นแรงผลักดัน ทำให้เกิดการร่วมรัก หรือมีเพศสัมพันธ์ มีอำนาจเหนือเหตุผลทั้งปวง เมื่อชายหญิงพร้อมใจต้องการ เมคเลิฟ
view moreUdara siang di kafetaria Fakultas Bisnis terasa pengap, tapi Jihan Andexa seolah memiliki pasokan oksigennya sendiri. Jari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme cepat, sementara bibirnya tak henti menembakkan rentetan kalimat tanpa koma.
"Pokoknya, abis ini kita harus mampir ke kafe baru yang di ujung jalan itu. Kamu tahu kan, Yang, aku butuh banget ngerjain revisi skripsi dengan view laut lepas," cerocos Jihan, matanya berbinar-binar penuh harap menatap pria di hadapannya. Ia menopang dagu, memajukan wajah. "Biar jiwa aku sejuk. Sama satu lagi, aku butuh banget lari dari kebisingan otakku yang rasanya mau meledak gara-gara ngejar target marketing plan sialan ini!" Di seberang meja, Kalandra Exder hanya tersenyum. Senyum yang selalu sama: teduh, sabar, dan tak pernah menghakimi sekecil apa pun keanehan Jihan. Tangannya terulur lembut, merapikan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "Iya, Jihan cantik," suara Kalandra mengalun tenang, bagai air es yang menyiram bara kepanikan di kepala Jihan. "Apa pun buat kamu. Aku bahkan udah siapin tote bag isi baju ganti kamu di mobil. Nanti sore kamu nggak perlu capek bolak-balik ke rumah cuma buat ganti baju." Jihan tertegun. Bahunya yang sejak tadi tegang, perlahan merosot santai. Sorot matanya melembut seketika, menyadari betapa beruntungnya ia memiliki pria ini. "Aaaa... makasih banyak, sayangnya aku. Kamu kok selalu tahu sih apa yang aku butuhin, bahkan sebelum aku minta?" Kalandra mengusap puncak kepala Jihan dengan gerakan sayang. "Dihabisin dulu jusnya. Kita masih ada satu kelas lagi sebelum pulang, oke?" Di sudut lain kampus—tepatnya di pelataran parkir Fakultas Teknik—atmosfernya terasa bertolak belakang. Jauh dari kata manis. Angin siang meniup rambut ikal Marvin Alexander yang sengaja dibiarkan berantakan. Gaya khas seorang berandal kampus yang entah bagaimana justru jadi magnet bagi para perempuan. Jaket kulit hitamnya hanya disampirkan asal di sebelah bahu. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan, kosong dan terkesan bosan, sementara gadis di sampingnya terus mengoceh tanpa henti. Maudy Martin melipat kedua tangannya di dada. Wajah cantiknya ditekuk kesal. "Aku nggak mau tahu ya, Marvin! Pokoknya kamu harus pakai pengaruh kamu di anak-anak mesin buat voting aku jadi ketua promosi kampus tahun ini." Marvin menghela napas panjang dan kasar. Ia merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan pemantik api besi dan memainkannya di sela-sela jari. Klik. Klik. "Nggak bisa, Dy," jawabnya datar tanpa menoleh. "Kali ini anak-anak milih kandidat murni karena prestasi sama portofolio. Bukan jalur backing." Maudy mendelik. Ia maju selangkah, menuntut atensi penuh dari kekasihnya. "Kamu harus bisa, dong! Kamu itu cowok aku, Marvin! Masa kamu nggak bisa ngusahain hal kecil yang dipengenin cewek kamu sendiri, sih?" tuntutnya egois. Gerakan tangan Marvin terhenti. Ia akhirnya menoleh. Sorot matanya sedingin es, tak ada sisa kehangatan di sana. "Kalau lo butuh validasi orang lain cuma buat ngerasa berharga, jangan jadiin gue alatnya, Dy." Tanpa menunggu balasan Maudy yang mematung karena syok, Marvin menyambar helm full-face miliknya dan menghidupkan mesin motor sport kesayangannya. Deru knalpot membelah pelataran parkir yang bising, meninggalkan Maudy yang menghentakkan kaki dengan amarah meledak-ledak di tengah kepulan asap tipis. Sore itu, awan abu-abu mulai menggantung rendah, menyelimuti langit kampus. Kelas Jihan kebetulan selesai lebih awal. Ia berdiri di lobi fakultas, jempolnya menggeser layar ponsel, membaca pop-up pesan yang baru saja masuk. Kalandra: Sayang, maaf banget ya aku nggak bisa jemput kamu sekarang. Kondisi Mamah lagi drop, aku harus temenin beliau terapi hari ini. Tapi tenang aja, aku udah suruh Pak Maman bawa mobil buat jemput kamu di lobi. Hati-hati ya pulangnya. Jihan menghela napas pelan. Kecewa? Bohong kalau ia bilang tidak. Namun, ia buru-buru menepis perasaan egois itu. Ia tahu betul seberapa berat beban Kalandra merawat ibunya yang mengidap kanker. Dengan cepat, jempolnya mengetik balasan. Jihan: Iya, Sayangku. Nggak apa-apa, fokus aja ke Mamah, ya. Titip salam buat beliau. Kamu juga hati-hati. Love you more. Gadis itu baru saja memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Belum sempat ia melangkah mencari tempat duduk, suara deru knalpot yang memekakkan telinga sengaja digeber, tepat di depannya. Brummm! Jihan terperanjat kaget, mundur selangkah sambil memegang dadanya. Asap knalpot mengepul dari motor sport hitam yang berhenti tepat di depan anak tangga lobi. Sang pengendara membuka kaca helmnya perlahan, menampilkan senyum miring—senyum smirk menyebalkan yang paling Jihan benci di muka bumi ini. Marvin Alexander. "Tuan Putri sepertinya butuh tumpangan?" ledek Marvin. Suara baritonnya terdengar mengejek, diiringi kilat jenaka di kedua matanya. Jihan memutar bola mata malas, refleks melipat tangan di depan dada. Sentimennya pada pria di depannya ini sudah mendarah daging sejak mereka masih berseragam putih abu-abu. "Makasih udah repot-repot nawarin, Alexander. Tapi sorry, gue nggak butuh tumpangan dari cowok playboy cap buaya bermulut tajam kayak lo," balas Jihan super sarkas. Marvin malah terkekeh pelan, suaranya terdengar renyah berbaur dengan gerimis yang mulai turun. "Yakin? Syukurlah kalau gitu." Pria itu memajukan sedikit tubuhnya, menumpu kedua lengan di atas tangki motor, menatap Jihan lekat. "Soalnya biasanya, gue bakal kena sial tujuh turunan kalau jarak gue terlalu dekat sama cewek galak plus aneh kayak lo." "Sialan lo, Marvin!" desis Jihan tajam, wajahnya memerah menahan kesal. Tepat saat Jihan berniat melontarkan makian kebun binatang, klakson mobil Alphard hitam berbunyi dari arah gerbang. Itu mobil jemputannya. Pak Maman. "Jemputan gue udah datang. Minggir, lo ngalangin jalan!" Jihan mengibaskan tangan seolah mengusir lalat, lalu berjalan menyamping menghindari motor Marvin dengan wajah ditekuk rapat. Ia bahkan tidak sudi menoleh lagi saat masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya menutup. Alphard hitam itu perlahan melaju, membelah gerimis sore yang perlahan berubah menjadi hujan. Namun di belakang sana, di depan lobi yang mulai sepi, Marvin tidak langsung memutar kemudinya. Ia mematikan mesin motor. Senyum mengejek yang tadi terlukis sempurna di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh raut lelah yang begitu kelam. Mata elangnya terus terpaku ke arah mobil Jihan, menatap tanpa kedip hingga kendaraan itu menghilang di belokan jalan. Tangan Marvin mencengkeram stang motornya erat-erat, urat-urat di punggung tangannya menonjol hingga buku-buku jarinya memutih. Gue masih di sini, Han, batinnya merintih lirih. Sejak kita SMA, gue selalu nunggu di tempat yang nggak pernah lo lihat. Lo selalu mandang terlalu jauh ke depan. Ada nyeri yang berdenyut konstan di dada Marvin setiap kali ia melihat gadis itu. Bagi semua orang, ia adalah pangeran kegelapan fakultas. Walking red flag yang harus dijauhi. Tak ada yang tahu, dan tak ada yang pernah sudi melihat lebih dalam, bahwa di balik semua topeng berandal yang ia kenakan, ada hati yang terus berdarah. Berdarah karena sibuk mencintai seseorang yang tak bisa ia genggam. Senang rasanya lihat senyum lo masih sama, Jihan. Sangat indah. Bahkan senja sore ini pun kalah telak. Marvin memejamkan mata sejenak, membiarkan rintik hujan yang makin deras menyamarkan setitik air yang menggenang di sudut matanya. Dengan embusan napas berat, ia kembali menghidupkan mesin, membawa pergi luka lamanya menembus badai. Setengah jam kemudian, Jihan melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya. Pintu kayu jati berukir itu tertutup di belakangnya, menciptakan suara debuman yang menggema ke seluruh sudut ruangan. Sepi. Hening. Lampu-lampu gantung kristal menyala begitu terang dan megah, namun entah kenapa rumah ini selalu terasa sedingin lemari es. Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada aroma masakan hangat dari dapur, tidak ada tegur sapa. Kedua orang tuanya, seperti biasa, tengah sibuk mengurus kerajaan bisnis mereka di luar negeri—atau entah di belahan bumi mana lagi sekarang. Jihan bahkan berhenti menghafal jadwal penerbangan mereka. Gadis itu melempar tasnya sembarangan ke atas sofa ruang tamu. Ia menjatuhkan diri di sana, menatap nanar langit-langit rumah yang menjulang tinggi. Perlahan, topeng gadis cerewet dan ceria yang ia pakai mati-matian seharian ini di kampus mulai retak. Luruh, hancur bersama rasa lelah yang menggerogoti jiwanya hingga ke tulang. Jihan menarik kedua kakinya, merapatkan lutut ke dada, lalu memeluk dirinya sendiri erat-erat. Hanya Kalandra. Ya, di dunianya yang bising namun terasa begitu sunyi dan hampa ini, hanya Kalandra yang menjadi pelindungnya. Sosok hangat yang menjadi satu-satunya jangkar kewarasannya. Memikirkan senyum lembut Kalandra, Jihan memejamkan mata rapat-rapat. Berusaha keras mencari secuil kehangatan di tengah dinginnya rumah yang perlahan menelannya hidup-hidup bak penjara.หลังจากนางสร้อยเงินเดินทางกลับมาถึงบ้าน พบเห็นว่าลูกสาวอาบน้ำเปลี่ยนเสื้อผ้า นั่งเย็บปักถักร้อยอยู่ภายในห้องขอตัวเอง โดยไม่ออกมาด้านนอกตามที่ตนสั่ง นางสร้อยเงินแวะไปเยี่ยมนายปวรุตม์เสียหน่อยว่ากำลังทำงานอยู่หรือเปล่าพบเห็นว่าชายหนุ่มดังกล่าว กำลังนั่งปอกเปลือกมะพร้าว และกำลังผ่าฟืนตามสั่ง เพื่อเป็นเชื้อเพลิงให้นางสร้อยเงิน ทำอาหารมื้อเย็นและเช้าวันถัดไป“ทำงานอยู่รึ ระวังมีดบาดนะ”“ครับ ผมทำงานใกล้จะเสร็จแล้วครับ” ปวรุตม์ยิ้มแย้มก่อนจะตั้งใจทำงานต่อไป แววตาของนางสร้อยเงินมองชายหนุ่มอย่างไม่ไว้ใจ ระหว่างที่ไม่อยู่นางน่าจะพากลิ่นจันทร์ไปด้วย แต่อยากให้ลูกสาวประหลาดใจ เมื่ออีกไม่กี่วันบิดาของเธอจะกลับมาวันเวลาผ่านไปราวอาทิตย์หนึ่ง ปรากฏร่างของชายหนุ่มสูงวัย เดินทางมาถึงบ้านของนางสร้องเงิน ปวรุตม์กำลังขุดดินปลูกต้นไม้อยู่ข้างบ่อน้ำ เขาถอดเสื้อสวมผ้าถุงสีทึบเพียงชิ้นเดียว ปวรุตม์พบเห็นร่างของชายดูดีมีภูมิฐาน เขารู้สึกกลัวขึ้นมาในทันใด หน้าตาก็คล้ายๆ กับกลิ่นจันทร์“ไอ้หนุ่ม... เอ็งเป็นใครมาจากไหน มาอยู่บ้านข้าวะ?” แววตาที่ดุดันมองมายังชายหนุ่มอย่างไม่ไว้ใจ“สวัสดีครับ ผมชื่อ ปวรุตม์ คุณส
หลังจากนั้นเป็นต้นมา... ปวรุตม์จึงเปลี่ยนเสื้อผ้า ทำตัวกลมกลืนกับคนที่บ้านของกลิ่นจันทร์ ช่วยเหลืองานบ้าน และงานสวน ทำให้สร้อยเงินรู้สึกพอใจว่า ชายแปลกหน้าจากกรุงเทพฯ ซึ่งหาบ้านยายแสงดาวไม่เจอ กลายเป็นคนงานคนสวนไปโดยปริยายชายหนุ่มอาศัยอยู่ในเรือนรับรองเล็กๆ อีกแห่งของเขตบ้าน เพราะนางสร้อยเงินไม่ยอมให้อยู่ในบ้านเดียวกับลูกสาว หวังว่าจะไหว้วานผู้ใหญ่บ้าน ช่วยเขียนจดหมายไปบอกสามีในเมืองว่า ช่วยแวะกลับมาบ้าน เรื่องไอ้หนุ่มกรุงเทพฯ มาอาศัยอยู่ในบ้าน“แม่เดินทางปลอดภัย โชคดีนะจ๊ะ” หลังจากที่แอบลักลอบได้เสียกับปวรุตม์ เธอระมัดระวังตัวมิให้มารดารู้ว่า ลูกเสียสาวไปแล้วกับชายแปลกหน้า แต่เขาทำให้กลิ่นจันทร์มีความสุขยามเมื่อได้สวมกอด และบางสิ่งที่ทำให้เธอหลงใหล“แม่จะรีบไปรีบกลับนะ อยู่ดูแลบ้านดีๆ ล่ะ” นางสร้อยเงิน ใช้แรงงานทาสขับเกวียนไปส่งนางที่บ้านผู้ใหญ่ หวังจะขอให้ผู้มีความรู้เขียนจดหมายส่งไปให้สามีทราบเรื่องที่บ้านทีหลังจากนั้นเมื่อไม่มีใครอยู่เป็นเพื่อน กลิ่นจันทร์จึงเดินไปที่เรือนรับรองของปวรุตม์ เพื่อขอมีอะไรด้วยกันเพราะความคิดถึงมากมาย...ชายหนุ่มกำลังรอเวลานี้ที่จะได้อยู่กับกลิ่นจันท
เรือนกายหญิงสาวยืนพิงหลังต้นไม้ใหญ่ บดบังเรือนร่าของเธอและปวรุตม์ให้พ้นสายตาใครอื่น สองแขนหญิงสาวซึ่งกันเอาไว้ระหว่างอกเขาและกายบางได้ลดลง แขนบางทั้งสองโอบกอดตอบรับชายหนุ่มเบื้องหน้าทำให้ปวรุตม์ดีใจเหลือเกินเมื่อเธอยินยอมเขาแล้ว มือของชายหนุ่มทั้งสองจึงทำงานปลดตะขอกางเกง ทำให้แววตาหญิงสาวตกใจว่า นี่เขาจะแก้ผ้าทำไมกันนะ...“ปวรุตม์ คุณจะทำอะไรรึ?” เธอไม่เข้าใจว่า เขากำลังทำอะไรแปลกๆ ออกมา หลังจากบอกรักเธอ ต้องแก้ผ้าด้วยรึ?“ผมอยากได้คุณ ปลดผ้าถุงสิ” เขาบอกให้เธอทำบ้าง หญิงสาวยังรู้สึกสับสนว่า ทำไม แต่ถ้าลองดูก็อาจจะคลายความสงสัยได้บ้างเพียงช่วงล่างเปล่าเปลือยปวรุตม์ไม่เห็นมีที่ร่วมรักใดได้ คิดเสียว่าคงต้องเลือกท่ายืนนอกสถานที่ในป่าลับเช่นนี้เขาโอบอุ้มเธอเอาไว้ใต้สองแขน ทำให้กายบางหญิงสาวลอยสูง ปลายเท้าไม่แตะพื้นและช่วงต้นขาของเธอต้องกางออก เพราะเขาดึงร่างบางเข้าหาชายหนุ่ม เรือนหน้าหญิงสาวตกใจและหน้าแดงก่ำ เธอรู้สึกอายจริงๆ“อย่าตกใจนะ กลิ่นจันทร์... ผมจะทำให้คุณรู้สึกดีเอง” ชายหนุ่มพยายามกระซิบข้างหู มิให้เธอตกใจดิ้นหลุดจากแขนเขา เธอกลัวจนตัวสั่น ระหว่างถูกดึงเข้าหาร่างชายหนุ่ม ต้นข
หลังจากเขาแนะนำตัวเองกับแม่ของกลิ่นจันทร์ เธอชื่อสร้อยเงิน กำลังทำอาหารกับทาสสองคน สีหน้าของเธอไม่ค่อยไว้ใจที่มีผู้ชายแปลกหน้ามาคุยกับลูกสาว“แม่ อย่าไปว่าเขาสิ เขาคงหลงทางมาถึงบ้าน ถามหายายแสงดาว แม่พอจะรู้จักคุณยายแสงดาวไหม” กลิ่นจันทร์ถามด้วยสีหน้ายิ้มแย้ม คิดว่าหากช่วยเหลือเขาไปแล้ว เธอกับแม่จะได้บุญ และเขาคงจะไปทำธุระเรื่องครอบครัวได้เสียที“โอ๊ย...อยู่มาตั้งนาน ไม่เคยได้ยินยายชื่อแสงดาวอะไรนั้นเลยนะ พ่อหนุ่มมาจากกรุงเทพฯ ลองไปถามญาติตัวเองใหม่เถอะ... กลับไปได้แล้ว ลูกสาวฉันจะเสียชื่อหมด” นางสร้อยเงินตอบปัด จึงอยากให้ทาสพาเขาออกจากเรือน“ไม่เป็นไรจ้าแม่... ให้ทาสช่วยแม่ทำอาหารเถอะ ฉันจะไปส่งเขาเองจ๊ะ” กลิ่นจันทร์รับอาสาเอง เพราะคิดว่าตนคงเป็นเหตุนำพาเรื่องวุ่นวายเข้าบ้าน คิดเสียว่าแนะนำให้เขาไปคุยกับผู้ใหญ่บ้าน เผื่อจะได้รับความช่วยเหลือที่ดีกว่านี้“ขอโทษนะครับ คุณแม่สร้อยเงิน ผมขอตัวกลับก่อนนะครับ” ปวรุตม์รู้สึกเสียใจที่ไม่ได้พบญาติหรือแม่ ทุกคนหายไปไหนหมด อีกทั้งทุกๆ คนที่นี่ใส่ชุดสมัยร.๕ทั้งนั้น เขามาหลงอยู่บ้านใครกันเนี่ย... ชายหนุ่มแอบคิด******กลิ่นจันทร์พาเขาเดินออกจากบร
แฝดชายหญิงคู่หนึ่ง ได้ถือกำเนิดมาพร้อมกัน สร้างความดีใจให้แก่ผู้เป็นแม่ ซึ่งพยายามเบ่งคลอดตามธรรมชาติ และคนเป็นพ่อย่อมมีความสุขมากกว่าปกติถึงสองเท่าพวกเขาเลี้ยงดูแฝดชายหญิง ด้วยความรักทั้งหมดที่มี เด็กน้อยทั้งสองจึงเติบโต อยู่ด้วยกันตลอดเวลา ไม่ว่าจะนอน นั่ง กินข้าว อาบน้ำ หรือจะเล่นอยู่ภายในบ้านด
หลังจากความจริงปรากฏในคืนนั้นมา... วิภาวีทำตัวอยู่ห่างๆ เตชิดในยามกลางวัน และเมื่อในเวลากลางคืนเข้ามา หลังจากทุกๆ คนในบ้านเข้านอน วิภาวีกางมุ้งและเข้านอนตามปกติ และนอนรออยู่ภายในห้องเพียงลำพัง เพื่อปล่อยให้เตชิดปีนหน้าต่างอย่างใจจดจ่อหัวใจหญิงสาวตื่นเต้นตูมตาม ใจหายวาบทุกๆ ครั้งที่รอชายอื่นซึ่งมิใ
รุ่งเช้าวันถัดมา วิภาวีตื่นก่อนใครตั้งแต่ตะวันยังไม่ขึ้น เธอเดินเซไปมา ราวกับถูกขย่มช่องสวาทจนเสียศูนย์ วิภาวีจึงพิงกำแพงไม้ในบ้าน เพื่อพยุงกายไปอาบน้ำล้างหน้าสายน้ำที่เย็นเยือก ระหว่างชำระล้างร่างกาย ภายใต้ผ้าถุงปิดทั้งหมด เธอตักน้ำในตุ่มสาดน้ำใส่ทั่วร่างกาย เมื่อพบว่ามีรอยจ้ำบนตัว วิภาวีจะต้องหา
วิภาวีต้องนอนเหงาเพียงลำพัง หลังจากสามีไปบวชพระ เธอรู้สึกเหงาและร้องไห้อย่างเศร้าโศก เพิ่งจะแต่งงานได้เพียงแค่สองอาทิตย์ กอดสามีได้ทุกคืน และมีความสุขไม่เว้นวาง มาคืนนี้เธอนอนเปล่าเปลี่ยว อ้างว้างถึงสามเดือน โดยไม่มีทักษ์ดนัยห้องนอนปิดประตูไม้ และเปิดหน้าต่างบานไม้รับลม กางมุ้งกันยุงมาไต่ตอม ครอบค





