Mag-log inตลอดแปดปี ฉันเป็นเพียงเงาที่ไร้ตัวตนในอาณาจักรของ ลอเรนโซ่ วาเลนติ ในตอนกลางวัน ฉันคือผู้ช่วยคนสำคัญ เป็นกลไกลสำคัญที่ช่วยขับเคลื่อนธุรกิจมืดของเขา แต่ในตอนกลางคืน ฉันเป็นเพียงนกที่เชื่องที่สุดในกรงทองของเขา และเป็นร่างไร้ชื่อที่อยู่ใต้เงาของเขา… บนเตียงของเขา ฉันรักเขาด้วยความทุ่มเทที่ใกล้เคียงกับความบ้าคลั่ง เป็นเปลวไฟโง่ ๆ ที่ฉันเฝ้าทะนุถนอมตั้งแต่วันที่ฉันเป็นแค่นักเรียนทุนที่ถูกดึงเข้าสู่วังวนของเขา ฉันเคยเชื่อว่าความรักที่เงียบงันของฉันจะสามารถละลายน้ำแข็งที่เกาะกุมหัวใจเขาได้สักวันหนึ่ง... แต่ฉันคิดผิด วันที่อิซาเบลล่า รักแรกที่เขาไม่มีวันลืมกลับมา ชายที่ฉันรู้จักก็หายไป รอยยิ้มแสนหายากที่เคยมีให้ฉัน กลายเป็นของเธอทั้งหมด การมีตัวตนของฉันข้างกายก็ถูกลบเลือน ถูกแทนที่ด้วยเธอ แม้กระทั่งตอนที่เธอใส่ร้ายฉัน เขาก็ยังเลือกที่จะเชื่อเธออย่างไม่ลังเล เขาเลือกเธอ... ครั้งแล้วครั้งเล่า ฉันยื่นใบลาออก และเขาเซ็นมันโดยไม่แม้แต่จะเงยหน้ามอง เขาคิดว่าฉันจะต้องคลานกลับมา โดยที่แตกสลาย และอ้อนวอนขอความเมตตาจากเขา เขาคิดผิด ในขณะที่เขามัวแต่เล่นบทครอบครัวแสนหวานกับ "ที่รัก" ของเขา ฉันก็ค่อย ๆ เก็บชีวิตที่เคยมีไว้ข้างกายเขาใส่กล่องทีละชิ้น เตรียมที่จะหายตัวไปจากโลกของเขาตลอดกาล
view morePagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela kamar Kimberly, menyusup di antara tirai tipis berwarna krem. Cahaya lembut menyinari sudut-sudut kamar, menciptakan nuansa hangat yang biasanya menenangkan. Namun, pagi ini, suasana hati Kimberly sama sekali tidak secerah sinar matahari di luar. Ada perasaan gelisah yang tak dapat ia jelaskan, seperti ada awan gelap menggantung di atas kepalanya, siap menurunkan hujan kapan saja.
Kimberly berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi bayangan dirinya yang belum rapi. Rambut pirangnya tergerai acak-acakan, seolah menggambarkan kekacauan yang ia rasakan di dalam hati. “Hari ini harus jadi hari yang baik,” ia bergumam kepada dirinya sendiri, mencoba memberi semangat. Dengan cepat, ia mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya. Setelah puas dengan penampilannya, ia melirik jam dinding yang menunjukkan waktu hampir pukul tujuh pagi. Terlambat bukanlah opsi bagi Kimberly, walaupun di dalam hatinya, ia merasa berat untuk menghadapi hari ini. Bukan karena tugas atau pelajaran yang menumpuk, melainkan karena satu alasan yang sudah lama membuatnya merasa terganggu—James, ketua OSIS yang terkenal di sekolahnya. Setelah berpakaian seragam sekolah, ia turun ke ruang makan. Aroma roti panggang dan kopi memenuhi ruangan, namun kali ini aroma itu tidak membuat perutnya terasa lapar. Ibunya duduk di meja, sibuk dengan teleponnya. Sementara itu, ayahnya sudah berangkat lebih awal seperti biasa, mengurus bisnis keluarganya. “Pagi, Kim,” sapa ibunya, meski tatapannya masih tertuju pada layar ponsel. “Pagi, Ma,” Kimberly menjawab singkat sambil meraih roti panggang. Perasaan aneh itu masih menghantuinya, seolah ada yang tidak beres, tetapi ia belum tahu apa. Tak lama kemudian, Kimberly bergegas keluar dari rumah, tas sekolah tergantung di bahunya. Dia berjalan menuju sekolah bersama Jennie, sahabat baiknya yang tinggal di jalan yang sama. Jennie selalu menjadi teman yang bisa diandalkan, orang pertama yang mendengarkan keluh kesah Kimberly tentang apapun, terutama tentang James. "Kenapa mukamu begitu kusut, Kim?" Jennie bertanya sambil tertawa kecil ketika mereka bertemu di jalan. Kimberly menghela napas panjang. "Gimana ya, Jenn, aku benci banget kalau ingat ketua OSIS itu. James lagi-lagi mengatur semua orang seperti biasa." Jennie tersenyum simpul. “Oh, si ketua OSIS kita yang ‘perfeksionis’ itu? Apa lagi sekarang?” “Setiap kali ada acara sekolah atau kegiatan apa pun, semua harus sesuai dengan standar dia. Seolah-olah dia merasa harus menyelamatkan dunia! Semua hal kecil dikritiknya, semua orang harus tunduk sama perintahnya,” jawab Kimberly sambil mengayunkan langkahnya dengan lebih cepat, menandakan kegusarannya. “Padahal, kita bisa mengatur semuanya sendiri, kan? Kita punya otak juga!” Jennie mengangguk, memahami amarah sahabatnya. “Iya, aku tahu dia suka bikin orang lain pusing, tapi coba deh, bayangkan betapa ribetnya jadi ketua OSIS. Mungkin dia merasa semua tanggung jawab ada di pundaknya.” “Tapi tetap saja!” Kimberly mengeluh. “Itu tidak berarti dia bisa memperlakukan semua orang seperti anak buahnya. Dia selalu terlihat dingin, serius, dan… ugh, dia sungguh menyebalkan!” Saat mereka tiba di sekolah, Kimberly melihat sosok yang paling ia hindari berdiri di depan pintu masuk sekolah. James, ketua OSIS yang selalu tampak sempurna dengan seragam rapi, tengah memimpin rapat singkat dengan beberapa anggota OSIS lainnya. James memang selalu tampak berbeda dari siswa lain—dia tinggi, berwajah tampan dengan aura yang sulit didekati. Semua itu membuatnya tampak lebih dewasa dari usianya. Tetapi bagi Kimberly, penampilan itu tidak menutupi sifat mengontrolnya yang menurutnya menjengkelkan. “Lihat, si pengatur itu lagi,” desis Kimberly, melirik ke arah James sambil mempercepat langkahnya. “Kenapa dia selalu harus ada di mana-mana?” Jennie tertawa kecil. “Kamu benar-benar kesal ya sama dia? Mungkin karena dia terlalu sempurna?” “Pfft. Sempurna? Bukan itu masalahnya,” Kimberly menatap James dengan tatapan tajam. “Aku tidak tahan kalau ada orang yang suka mengatur segalanya tanpa peduli dengan pendapat orang lain. Semua orang di sekolah ini seperti terhipnotis olehnya, tapi tidak denganku. Aku tidak akan membiarkan dia mengatur hidupku!” Saat pelajaran berlangsung, Kimberly mencoba fokus, tetapi pikirannya terus melayang ke sosok James. Dia tidak bisa berhenti memikirkan betapa menyebalkannya James dengan segala peraturan dan kontrolnya yang berlebihan. Di antara teman-temannya, James memang dipandang sebagai siswa yang cerdas, bertanggung jawab, dan berwibawa, tetapi bagi Kimberly, semua sifat itu hanya menambah daftar panjang alasan mengapa dia tidak menyukai pria itu. Ketika bel istirahat berbunyi, Kimberly dan Jennie berjalan menuju kantin. Udara di sekitar mereka dipenuhi suara obrolan teman-teman sekelas yang saling bercanda. Namun, di tengah suasana riang itu, Kimberly masih terus memikirkan James. Di kantin, setelah mendapatkan makanan mereka, Kimberly duduk bersama teman-temannya di meja sudut yang biasa. “Aku tidak paham, apa sih yang dilihat semua orang dari James?” tanyanya dengan frustrasi sambil menggigit sandwichnya. “Dia hanya suka mengatur orang!” “Ah, lagi-lagi soal James,” sahut salah satu teman sekelas mereka, yang ikut mendengar keluhan Kimberly. “Dia memang orang yang disiplin, Kim. Mungkin itu yang bikin dia dipilih jadi ketua OSIS.” Kimberly mendengus pelan. “Disiplin itu satu hal, tapi dia terlalu berlebihan. Semua harus berjalan sesuai dengan cara dia, seolah-olah kita ini nggak punya akal sendiri.” Jennie tertawa kecil, mencoba menenangkan suasana. “Santai, Kim. Mungkin kamu terlalu keras padanya. Dia memang punya tanggung jawab besar sebagai ketua OSIS.” “Ah, sudahlah. Aku nggak akan biarin dia mengatur hidupku. Aku mau jalani masa SMA ini dengan caraku sendiri,” ujar Kimberly tegas, meski di dalam hatinya ada sedikit kekhawatiran yang tak ia pahami. Waktu istirahat berlalu, dan akhirnya hari sekolah pun selesai. Kimberly pulang dengan perasaan lelah, bukan karena pelajaran, melainkan karena pikirannya yang terus dipenuhi amarah pada James. Saat tiba di rumah, ia melihat suasana yang sedikit berbeda. Kedua orang tuanya duduk di ruang tamu, berbicara dengan nada serius. “Kim, bisa ke sini sebentar? Ada yang ingin kami bicarakan,” kata ibunya dengan suara yang tenang namun terasa penuh tekanan. Kimberly merasa jantungnya berdegup lebih cepat. “Apa yang terjadi?” tanyanya, berjalan mendekati orang tuanya. Ayahnya menghela napas panjang. “Ini tentang bisnis keluarga kita, Kim. Kami sudah berdiskusi dengan keluarga James.” Mendengar nama itu disebut, perasaan Kimberly semakin tidak nyaman. “James yang satu sekolah dengan Kim pah? Kenapa dengan keluarga James?” tanyanya, kini benar-benar waspada. “Ada keputusan penting yang kami buat,” ibunya mulai menjelaskan dengan hati-hati. “Keluarga kita memerlukan dukungan bisnis dari keluarga mereka, bisnis keluarga kita mulai tidak stabil, dan untuk memperkuat hubungan bisnis ini, kami setuju untuk menjodohkanmu dengan James.” Kata-kata itu terasa seperti bom yang meledak di kepala Kimberly. Segala sesuatu di sekitarnya tampak berhenti. Napasnya tercekat. "Jodoh? Dengan James? Kalian bercanda, kan?” suaranya bergetar. “Ini keputusan yang baik untuk keluarga, Kim. Ini akan membantu bisnis papahmu tetap kuat,” ibunya mencoba meyakinkan. “Jadi ini semua soal bisnis?” Kimberly nyaris berteriak. “Kalian menjodohkanku hanya untuk kepentingan bisnis?!” “Kim, dengarkan kami,” ayahnya menengahi, suaranya tetap tenang. “James adalah pilihan yang baik. Dia pintar, berprestasi, dan keluarganya bisa membantu kita.” “Tapi aku tidak mau menikah dengan seseorang hanya karena bisnis!” Kimberly menolak keras. “Aku bahkan tidak suka dia! Dia hanya tahu bagaimana mengatur orang lain!” Dengan marah, Kimberly berlari ke kamarnya, mengunci pintu di belakangnya. Air mata mulai mengalir di pipinya. Dunia yang ia kenal seolah runtuh dalam sekejap. Masa SMA yang seharusnya ia jalani dengan kebebasan, kini terasa seperti penjara. “Aku tidak percaya ini. Aku tidak percaya!” katanya sambil menatap cermin di kamarnya. Bayangan dirinya terasa begitu asing. “Aku tidak akan biarkan hidupku diatur oleh orang lain… tidak oleh James, tidak oleh siapa pun.” Kimberly tahu, mulai saat ini hidupnya akan berubah. *Bersambung~*(มุมมองของเอมีเลีย)เสียงรถของตระกูลวาเลนติที่ค่อย ๆ เลือนหายไปในความมืด นั่นคือคำไว้อาลัยเพียงหนึ่งเดียวที่โลกใบเก่าจะได้รับ ฉันยืนอยู่ในโรงงานกว้างใหญ่ที่เงียบงัน กลิ่นดินปืนและเลือดติดค้างอยู่ในลำคอ กระดาษใบลาออกที่พับไว้ในมือหนักราวกับเหล็ก“ถือซะว่าเป็นใบลาออกของฉันจากชีวิตของเธอ”คำพูดของเขาดังก้องอยู่ในความว่างเปล่าที่เขาทิ้งไว้ ไม่มีการอ้อนวอนในแววตา ไม่มีความพยายามครั้งสุดท้ายที่จะครอบครอง มีเพียงความสิ้นสุดอันเหนื่อยล้า เขามองฉัน และเป็นครั้งแรกที่เขา เห็น ฉันจริง ๆ—ไม่ใช่เอมีเลียของเขา ไม่ใช่ผีของเขา ไม่ใช่แม้แต่ศัตรู แต่เป็นตัวตนที่แยกขาด เป็นอิสระ และเขาก็ปล่อยฉันไปชัยชนะนั้นว่างเปล่า มาเตโอถูกยิงและถูกจับ ความทะเยอทะยานของเขาถูกทำลาย ชายที่ฉันเคยรัก เพิ่งยอมทิ้งโลกทั้งใบของตัวเองและเดินจากไป โซเฟียจากไปแล้ว กลับไปหาพี่ชายที่เธอยังคงรัก แม้จะเกิดอะไรขึ้นก็ตาม ฉันยืนอยู่เพียงลำพัง บนยอดพีระมิดแห่งเถ้าถ่านในวันต่อมา ตระกูลรอสซี่ก็จมดิ่งสู่ความโกลาหล เมื่อมาเตโอถูกโค่น และลอเรนโซ่จากไป เหล่าหัวหน้าที่เหลือก็หันมาเข่นฆ่ากันเองราวกับสุนัขอดอยาก ฉันใช้ทั้งอำนาจที่ลอเรนโซ่
(มุมมองของลอเรนโซ่)คำสัญญาของคมมีดที่แนบอยู่กับผิวกายคือจุดเปลี่ยนสำคัญ มันตัดขาดเส้นด้ายแห่งการปฏิเสธที่หลงเหลืออยู่เป็นเส้นสุดท้าย ตลอดหนึ่งสัปดาห์ ฉันหลบอยู่ในเพนต์เฮาส์ ไม่ใช่ในฐานะกษัตริย์กลับสู่บัลลังก์ แต่เป็นสัตว์บาดเจ็บที่กลับเข้ารังของตัวเอง ความเงียบไม่ได้ว่างเปล่าอีกต่อไป มันอัดแน่นไปด้วยเสียงสะท้อนของความล้มเหลวของฉันเอง ฉันยืนอยู่ริมหน้าต่างเป็นชั่วโมง ๆ ไล่สายตามองไฟหน้ารถที่เคลื่อนไหวอยู่เบื้องล่าง แต่ละดวงคือเครื่องเตือนใจว่าเมืองทั้งเมืองกำลังก้าวต่อไปโดยไม่มีฉันฉันไม่แตะต้องรายงานการเงินหรือแฟ้มข่าวกรองเลย ภาษาที่เต็มไปด้วยข้อเท็จจริงเหล่านั้นไม่อาจถ่ายทอดความจริงที่ฉันถูกบังคับให้เผชิญในที่สุดได้—ฉันสูญเสียเธอไปแล้ว ไม่ใช่เพราะความตาย แต่เพราะความมืดบอดอันใหญ่หลวงของตัวฉันเอง ความหมกมุ่นที่ขับเคลื่อนฉันมาหลายเดือนกลับให้ความรู้สึกเหมือนโรคร้าย และวิธีรักษาเพียงอย่างเดียวคือการยอมแพ้อย่างสิ้นเชิง เจ็บปวดราวกับต้องตัดอวัยวะทิ้งในสภาพของการยอมจำนนที่กลวงนี้เอง มาร์โกพบฉัน เขาไม่เคาะประตู เพียงแค่เดินเข้ามา สีหน้าตึงเครียด “ดอนวาเลนติ” เขากล่าว น้ำเสียงตัดผ่านอากา
(มุมมองของลอเรนโซ่)ความอัปยศในคืนนั้นที่ตรอกซอยแผดเผารุนแรงยิ่งกว่าความโกรธใดที่ฉันเคยรู้จัก นอนอยู่บนพื้นเปียกชื้น ลิ้มรสเลือดและความพ่ายแพ้ในปาก ขณะที่เอมีเลีย—เอวา—ยืนค้ำฉันด้วยปืน มันคือจุดต่ำสุดที่ฉันไม่เคยคิดว่าจะมาถึงได้เธอไม่ได้แค่ปฏิเสธฉัน เธอเอาชนะฉันทางร่างกาย ปลดอาวุธฉัน และทิ้งฉันไว้บนพื้นอย่างพังพินาศ ความทรงจำนั้นเป็นตราประทับบนศักดิ์ศรี เป็นแผลเป็นที่เต้นระบมไปพร้อมทุกจังหวะหัวใจหลายวันต่อมา ฉันคือพายุที่ถูกกักขังอยู่ในเพนต์เฮาส์ของตัวเอง ฉันทุบทำลายทุกอย่าง—แจกันล้ำค่าที่เธอเคยชื่นชม แก้วคริสตัลที่เราเคยชนฉลอง จอมอนิเตอร์ที่แสดงรายงานการเงินซึ่งยืนยันความสำเร็จของเธอที่ยังคงเดินหน้าต่อไปฉันตะคอกใส่เงามืด ใส่มาร์โกที่ยืนอย่างระแวง ใส่กำแพงเงียบงันที่เหมือนตัดสินฉัน และสะท้อนคำพูดสุดท้ายของเธอซ้ำแล้วซ้ำเล่า “ครั้งหน้าที่คุณมาหาฉัน ฉันจะไม่พลาด”ดอนผู้เยือกเย็นและรอบคอบหายไป ถูกแทนที่ด้วยสัตว์ที่บาดเจ็บ มาร์โกรู้ดีพอจะเข้าหาฉันเฉพาะเรื่องจำเป็นที่สุด ส่วนโซเฟีย… โซเฟียหายตัวไปไม่ต้องเดาเลยว่าเธออยู่กับใคร คงหัวเราะเยาะฉัน ร่วมฉลองว่าลอเรนโซ่ วาเลนติผู้ยิ่งใหญ่ถ
(มุมมองของลอเรนโซ่)การตระหนักว่าฉันกำลังถูกชักใย—ว่าการจดจ่อกับเอมีเลียเพียงคนเดียวทำให้ฉันมองไม่เห็นการขยายอำนาจในวงกว้างของมาเตโอ—เป็นความอัปยศที่บาดลึกยิ่งกว่าคมมีด ฉันกลายเป็นสิ่งรบกวนเอง ลอเรนโซ่ วาเลนติ ถูกลดสถานะเป็นเพียงหมากตัวหนึ่งในสงครามของตัวเอง ถูกผู้หญิงที่ฉันพยายามต้อนให้จนมุมจูงจมูกไปมาความโกรธที่ตามมานั้นเย็นและคมเฉียบ เป็นเครื่องมือให้ใช้งาน ไม่ใช่ไฟให้ระเบิด ฉันเรียกมาร์โกเข้ามาในห้องทำงาน แผนที่เมืองถูกกางอยู่ตรงหน้า ราวกับร่างผู้ป่วยที่ถูกวางยาชาอยู่บนโต๊ะผ่าตัด“พอแล้ว” ฉันพูด เสียงราบเรียบ ปราศจากไฟคลั่งที่หล่อเลี้ยงฉันมาหลายสัปดาห์ “การโจมตีส่วนตัวต่อเอวา รอสซี่ หยุดทั้งหมด มีผลทันที”มาร์โกมองฉันอย่างประหลาดใจ “ดอนวาเลนติ?”“เธอคือเสียงไซเรน มาร์โก และฉันกำลังบังคับเรือพุ่งชนโขดหิน” ฉันชี้ไปยังดินแดนที่เรายึดมาจากลอมบาร์ดิ ซึ่งตอนนี้เริ่มถูกแทรกด้วยอิทธิพลของรอสซี่ “นี่แหละคือสนามรบที่แท้จริง ไม่ใช่ฝ่ายการขนส่งของเธอ ไม่ใช่เกมกฎหมายของเธอ แต่คือผืนดิน เราจะหยุดมองเธอ แล้วหันไปมองเขา มาเตโอกำลังได้ใจ ถึงเวลาต้องเตือนว่าทำไมชื่อวาเลนติถึงยังทำให้คนหวาดกลัว
(มุมมองของเอมีเลีย)ความเงียบปลอดเชื้อของโรงพยาบาลเป็นเพียงที่พักชั่วคราว หนึ่งสัปดาห์ต่อมา ฉันก็ได้ออกจากโรงพยาบาล ความทรงจำของอุบัติเหตุยังเป็นแผลสดในหัวใจ แพทย์เตือนให้ฉันพักผ่อน ปล่อยให้ร่างกายฟื้นฟู แต่เครื่องจักรของตระกูลวาเลนติไม่เคยหยุดเพราะชิ้นส่วนที่เสียหาย มันแค่คาดหวังว่าชิ้นส่วนนั้นจะถ
(มุมมองของเอมีเลีย)ความเจ็บปวดเป็นความปวดที่ตื้อและคงที่ เป็นเครื่องเตือนใจถึงอุบัติเหตุ ฉันนอนอยู่บนเตียงในโรงพยาบาลที่ปราศจากเชื้อ จ้องมองเพดาน นับรูเล็ก ๆ บนแผ่นกระเบื้องทีละรู แต่ละรูเหมือนชิ้นส่วนของจิตวิญญาณที่หายไปของฉันประตูถูกเปิดส่งเสียงเอี๊ยดเบา ๆ ฉันไม่คิดจะหันไปมอง คงเป็นพยาบาลที่เอ
(มุมมองของเอมีเลีย)หลายวันที่ตามมาคือบททดสอบของการอดทนอย่างเงียบ ๆ ฉันทำหน้าที่ของตัวเองด้วยความมีประสิทธิภาพเย็นชา ราวกับเครื่องจักร จนดูเหมือนจะทำให้ลอเรนโซ่รู้สึกไม่สบายใจ บางครั้งเขาจะยืนมองฉันจากหน้าประตูห้องทำงาน คิ้วขมวดเป็นรอยบาง ๆ ดูสับสน ราวกับพยายามถอดรหัสการเปลี่ยนแปลงในตัวฉัน ผู้หญิงท
(มุมมองของเอมีเลีย)สุดสัปดาห์ผ่านไปท่ามกลางความเจ็บปวดและการหลับ ๆ ตื่น ๆ อย่างไม่เป็นสุข พอถึงเช้าวันจันทร์ ขาของฉันยังปวดตุบ ๆ ทุกครั้งที่ก้าวเดิน แต่ฉันก็ไปถึงคฤหาสน์หลักของตระกูลวาเลนติตรงเวลาเป๊ะ—8:55 น. อาคารโอ่อ่าสง่าข่มขวัญนั้น อนุสาวรีย์แห่งอำนาจของลอเรนโซ่ ให้ความรู้สึกเหมือนคุกมากกว่าที





