Momo
Pada hari ketika hasil ujian masuk perguruan tinggi diumumkan, aku refleks berteriak ke arah ruang tamu.
"Ayah, Ibu, aku dapat tujuh ratus dua puluh poin!"
"Aku bisa pergi ke Universitas di Sentara untuk bareng Kakak dan Ardi!"
Namun yang menjawabku, tetap saja hanya keheningan.
Di atas sofa, duduk empat boneka kecil.
Ayah, ibu, kakak, dan, Ardi, sahabat masa kecilku.
Mereka menatapku dengan mata bulat, sama seperti pada malam-malam tak terhitung sebelumnya, hanya menemaniku dalam diam.
Baru saat itu aku teringat.
Setahun lalu, adikku yang bernama Citra jatuh sakit.
Mereka berkata, itu karena nilai akademisku yang terlalu bagus dan membuatnya tertekan hingga hampir bunuh diri.
Akhirnya, aku menjadi orang yang paling harus disembunyikan dalam keluarga, dan diusir ke rumah sewa ini.
Malam pertama setelah pindah, seorang pemabuk dari rumah sebelah salah menggedor pintu.
Aku bersembunyi di balik selimut, merasa ketakutan hingga tak berani mengeluarkan suara saat menangis.
Aku hanya bisa berulang kali menelepon ayah, ibu, kakak, dan Ardi.
Di ujung telepon, yang terdengar hanyalah nada sibuk yang dingin.
Menjelang fajar, ibu baru mengirim satu pesan singkat.
[Jangan menelepon lagi, Citra akan sedih kalau melihat nomormu.]
Sejak saat itu, aku membuat empat boneka kecil yang menyerupai mereka.
Mereka menemaniku makan dan tidur.
Mendengarkan setiap kemajuan yang kucapai, juga mendengarkan kesedihanku yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun.
Namun saat air mataku jatuh, aku tidak lagi memeluk boneka-boneka itu.
Setelah terlalu lama berjalan sendirian dalam kegelapan, akhirnya aku memiliki keberanian untuk tidak lagi menoleh ke belakang.