Novels
Short Stories

Genres

All
Romansa
Realistis
Manusia Serigala
Mafia
Vampir
Mitologi
Fantasi
Kehidupan Sekolah
Imajinasi
Reinkarnasi
Gairah
Misteri/Thriller
Mistis Rakyat
Romansa Sejarah
POV Pria

Characters

27
All
Mandiri
Pelakor
Psikopat
Munafik
Wanita Kuat
Mafia
Istri Muda
Cinta Pertama
Kejam
Teman Masa Kecil
Dokter
Cinta Sejati
Pengasuh
Bestie
Pengganti
Guru
Bucin
Menantu
Sekretaris
Identitas Tersembunyi
Tetangga
Influencer
Vampir
Ahli Forensik
Pilot
Selebriti
Teman Sekamar
Show more

Plot & Setting

27
Hubungan Keluarga×
All
Penyesalan
Pernikahan
Selingkuh
Dewasa 18+
Menggoda
Karma
Hubungan Keluarga
Balas Dendam
Kesadaran Diri
Pura-pura Mati
Kriminal
Dunia Kerja
Perundungan
Penebusan
Sistem
Kehamilan
Nikah Kontrak
Cinta Lama Bersemi Kembali
Melawan Takdir
Kutukan
Dunia Hiburan
Dunia Paralel
Perjalanan Waktu
Kekuatan Super
Pusat Perhatian
One Night Stand
Petualangan
Show more

Themes

15
Plot Twist×
All
Plot Twist
Drama
Cerita Enak
Reinkarnasi
Bangkit
Manis
Obsesi
Toxic
Healing
Cinta Terpendam
Motivasi
Pusing
Kocak
Semangat
Multi POV
Show more

Plot Twist Hubungan Keluarga Short Stories & Novels

Discover a collection of engaging Plot Twist Hubungan Keluarga short stories with compelling plots and immersive storytelling. Perfect for readers seeking one-hour short stories and quick, immersive reads online.
Pacar Bodohku Salah Memilih Korban - undefined novels & stories
KarenW
Pacarku, Marko, akhirnya mengundangku untuk makan malam Natal bersama keluarganya. Tapi aku pingsan dalam perjalanan ke sana. Dalam keadaan setengah sadar, aku mendengar dia berbisik, “Maaf, Erin. Para preman itu bilang kau tipe bos mereka. Kau terlalu cantik, Sayang. Salahkan saja itu, bukan aku.” “Jangan takut. Kalau kau membantuku melunasi utang … mungkin mereka akan mengizinkanku mendapatkanmu kembali. Aku akan menebus semuanya seumur hidupmu, aku sumpah.” Dia membawaku melewati pintu belakang sebuah kasino. Kasino milik keluargaku. Ternyata bos yang dia maksudkan … adalah kakakku sendiri. Sejak orang tua kami meninggal dalam baku tembak, kakakku telah mengambil tanggung jawab penuh atas diriku. Lebih dari sekadar kakak, dia telah menjadi sosok ayah dan pelindungku. Pacarku yang bodoh itu seharusnya takut. Dia tidak tahu betapa keras kakakku melindungiku, atau betapa kejam dia terhadap siapa pun yang berani menyakitiku.
Terlahir Kembali: Menjauhi Keluarga yang Membunuhku - undefined novels & stories
Makjos
"Setelah terlahir kembali, aku menjauhi keluargaku dan pacarku. Mereka ingin merayakan ulang tahunku, aku berpura-pura sedang dinas luar kota. Orang tuaku menyuruhku pindah kembali ke rumah, aku langsung membeli sebuah rumah sendiri di malam itu juga. Bahkan ketika pacarku mengatakan ingin menikah, aku malah berbalik dan mendaftarkan pernikahan dengan orang lain. Semua ini karena aku dan adikku terjebak dalam banjir di kehidupan sebelumnya. Aku beruntung karena tersangkut di dahan pohon dan selamat, sementara adikku, Greta, tenggelam dan meninggal. Orang tuaku mencekik leherku sambil memaki, "Kalau bukan karena kamu, mana mungkin Greta bisa mati!" Pacarku, Ardhen, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Setelah menghiburku, dia menikah denganku. Namun, saat seluruh keluarga berlibur dengan kapal pesiar pada hari ulang tahun pernikahan kami, aku malah didorong sendiri oleh mereka dari dek kapal. "Biar kamu juga merasakan, bagaimana rasanya mati karena tenggelam!" Ternyata, mereka semua menganggap kematian adikku adalah salahku. Sedari awal, orang yang dicintai pacarku juga adalah adikku. Di kehidupan ini, aku memilih hidup untuk diriku sendiri. Saat membuka mata lagi, aku kembali ke hari ketika aku dan adikku sama-sama jatuh ke air."
Kebisuan dalam Kedalaman Air - undefined novels & stories
Burung Laut
Aku telah bergentayangan di dasar air selama lima tahun, sebelum akhirnya tulang-belulangku tersangkut pada kail seorang pemancing dan ditarik ke daratan. Meski tim forensik telah merekonstruksi wajahku melalui tengkorak yang ditemukan, kebencian Kakak terhadapku tidak berkurang sedikit pun. "Baguslah kalau dia mati!" "Sudah kabur lima tahun, mati pun nggak bakal bisa nebus semua dosanya!" "Keluarga Manggala punya pembunuh kayak dia ... benar-benar bikin malu!" Semua orang mengira dia sangat membenciku sampai ke tulang sumsum. Akan tetapi, saat mengucapkan kata-kata itu, seluruh tubuh Kakak gemetar hebat. Siapa yang menyangka? Telepon minta tolong yang kuhubungi kepadanya lima tahun lalu, justru menjadi tangan tak terlihat yang mempercepat kematianku.
Anak Tak Terlihat, Anak Terlupakan - undefined novels & stories
Cravez
Saat Tahun Baru Imlek, kami pulang ke kampung halaman. Di jalan tol, adikku ribut minta ke toilet. Ibu mendesakku dan kakakku, "Rest area berikutnya masih jauh. Kalian sekalian saja, biar nanti nggak bolak-balik mau ke toilet lagi." "Cepat sedikit, jangan lama-lama!" Aku langsung lari ke sana, tetapi begitu keluar, aku melihat mobil yang familier itu sudah menyalakan lampu dan mulai jalan. Suhu di luar hampir di bawah nol, tetapi ayah dan ibuku malah meninggalkanku di rest area yang sepi. Aku buru-buru berlari mengejar sambil berteriak keras, "Ayah! Ibu!" Namun, mobil itu sudah berbelok dan menyatu dengan arus kendaraan, sampai akhirnya benar-benar tak terlihat lagi.
Setelah Aku Menurut, Keluargaku Menjadi Gila - undefined novels & stories
Mulafa
Pada tahun keenam setelah diusir dari keluarga kaya karena dianggap sebagai putri palsu, aku bertahan hidup dengan menjual darahku. Baru saja aku menerima sedikit uang dan hendak menghubungi dokter untuk membeli obat, seorang pengawal menendang belakang lututku dengan keras. Saat jatuh berlutut, aku mendengar seorang wanita kaya berteriak tak terkendali. "Dasar anak nggak tahu terima kasih! Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mau coba celakai Sophia-ku lagi?" Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku. Aku baru menyadari bahwa itu adalah ibuku yang sedang mengumpulkan sumber darah untuk putri kesayangannya, Sophia. Melihat ibuku yang putus asa, kakak laki-lakiku, Owen, segera memerintahkan para pengawal untuk mengusirku. Dia menatap uang di tanganku dan mencibir, "Sepertinya, beberapa tahun terakhir masih belum mengubah sifatmu. Demi kemewahan semu, kamu bahkan rela menjual darah untuk dapatkan beberapa ratus ribu." "Sophia akan lulus dan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi dalam setengah bulan. Dia nggak butuh perhatian eksklusif keluarga lagi, sedangkan kamu juga nggak akan bisa menindasnya. Nanti, aku akan jelaskan alasannya kepada Ayah dan Ibu, lalu membawamu pulang. Kamu akan tetap menjadi tuan putri di rumah." "Pulang ... tuan putri?" gumamku. Akhirnya, aku hanya menggeleng dan tertawa terbahak-bahak. Aku mengidap penyakit ALS, penyakit saraf yang bisa menyebabkan tubuh lumpuh secara perlahan. Penyakit ALS-ku berkembang terlalu cepat dan aku bahkan tidak akan mampu bertahan sebulan lagi. Lagi pula, ketika dia menuduhku sebagai putri palsu demi Sophia yang hanyalah seorang anak dari keluarga miskin, aku sudah lama kehilangan rumah.
Sistem Yang Memberiku Keadilan - undefined novels & stories
Aria Salvatore
Ketika aku kembali ke Keluarga Virera sebagai anak perempuan mereka yang telah lama hilang, aku malah mengenakan pakaian bekas adik angkatku, dan sopir keluarga hanya datang untuk menjemputnya. Namun, mereka justru merasa bersalah terhadap anak perempuan yang telah mereka besarkan selama ketidakhadiranku. Jadi, ketika pemerintah meluncurkan Sistem Perlakuan Adil, mereka mendaftarkan seluruh keluarga sebelum aku sempat menyadarinya. Ayahku menghela napas lega. "Sistem ini akan menegakkan keadilan yang tidak bisa diganggu gugat, dan Bianca tidak akan pernah menderita lagi." Ibu menggenggam tanganku, suaranya tidak memberi ruang untuk bantahan. "Kau kembali ke rumah ini dan mencuri semua yang sudah menjadi miliknya. Itu tidak adil buat Bianca." Kakakku bahkan tidak berusaha menyembunyikan rasa jijiknya. "Aku hanya mengakui satu adik. Kau sudah mendapatkan lebih dari yang pantas kau terima. Jangan coba-coba berulah." Aku menyantap makanan sisa, sementara dia memiliki koki pribadi. Aku berkeringat tinggal di dalam gudang, sementara dia tidur di kamar yang dirancang khusus. Aku hampir tertawa. Ketika Sistem tersebut mulai beroperasi, justru merekalah yang hancur berantakan.
Pembalasan Untuk Nenekku yang Dikhianati - undefined novels & stories
Ding
Kakekku adalah seorang pencuri. Dia mencuri nama nenekku dan identitasnya. Dia memakai semua itu untuk melarikan diri dari sudut desa terpencil yang miskin dan terlupakan di Barat, lalu kabur bersama wanita lain. Dia tumbuh menjadi seorang profesor hukum, berdiri di podium-podium dan pelajaran kuliah tentang keadilan. Wanita itu menjadi pelukis terkenal, memberi wawancara tentang integritas. Sementara nenekku menghabiskan seluruh hidupnya terjebak di ladang tandus yang perlahan mati itu. Semua orang menyebutnya perawan tua. Namun, dia tak pernah berhenti menunggu kakekku. Bahkan sampai di ranjang kematiannya. Lima puluh tahun kemudian, aku mati-matian keluar dari tempat terkutuk itu dengan kekuatan dua generasi sebelumku. Nenekku dan ibuku. Akhirnya, aku berhasil menjadi partner di salah satu firma hukum terbaik. Saat musim kelulusan tiba, aku duduk di kursi pewawancara utama. Di hadapanku duduk seorang gadis. Rapi dan percaya diri. Lulusan paling menonjol dari sekolah hukum terbaik di seluruh provinsi. Aku membuka resumenya dan membaliknya halaman demi halaman. Kemudian, tanganku berhenti di bagian informasi keluarga. Aku menatap nama itu cukup lama. Kemudian, aku mengangkat kepala, menatapnya, dan berkata pelan, "Kamu nggak diterima."
Harga Sebuah Keluarga - undefined novels & stories
Muriaz
Saat aku berusia tujuh tahun, ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Tak lama kemudian, ibuku menikah lagi dengan cinta pertamanya dan membawaku tinggal bersama keluarga barunya. Pada makan malam pertama di rumah itu, ayah tiriku mengumumkan sebuah aturan keluarga. "Mulai sekarang, di keluarga ini masing-masing menanggung biaya hidupnya sendiri." Saat itu aku mengambil sepotong daging sapi dan memakannya. Namun setelahnya, ayah tiriku meminta aku yang baru berusia tujuh tahun membayar enam juta untuk biaya makanan tersebut. Aku menoleh ke arah kakak tiriku yang sedang makan dengan lahap. "Kakak juga makan daging sapi. Kenapa Papa nggak minta Kakak bayar?" "Karena dia anak kandung Papa," jawab ayah tiriku. "Papa sayang dia, jadi dia punya hak istimewa karena ada hubungan darah." Aku pun memandang Ibu. Ayah tiriku melanjutkan, "Mamamu itu istriku. Papa cinta dia, jadi dia juga punya hak istimewa." "Sedangkan kamu, kita nggak punya hubungan darah, juga nggak ada ikatan perasaan. Papa nggak punya kewajiban untuk membesarkan kamu."
Kak, Aku Kedinginan - undefined novels & stories
Nani
Putri palsu itu hanya bersin sekali. Namun, ketiga kakakku langsung panik seolah langit runtuh, terus berada di sisinya untuk merawatnya tanpa beranjak sedikit pun. Oleh karena itu, ketika putri palsu itu kembali menjebakku dengan menuduhku mendorongnya hingga jatuh ke dalam danau, ketiga kakakku langsung mengurungku di ruang pendingin terbengkalai bersuhu -50 derajat, bahkan memutus satu-satunya sakelar penyelamat di dalamnya. Aku menangis dan berteriak meminta pertolongan kepada Kak Bobby yang seorang presdir, tetapi dia malah mengatakan bahwa aku kejam dan hanya mencari perhatian. Aku memohon kepada Kak Eki yang seorang dokter, tetapi dia justru berkata bahwa semua ini adalah balasan yang pantas kuterima. Aku meminta maaf kepada Kak Dimas yang merupakan pengacara ternama, tetapi dia hanya mencibir dingin. "Kalau selama ini kau iri sama Nara, aku masih bisa memakluminya. Kau tahu tubuhnya lemah, tapi masih mendorongnya ke danau. Kau benar-benar kejam!" "Orang sekeji kau memang pantas dikurung di ruang pendingin supaya sadar diri!" Setelah mengatakan itu, mereka memeluk putri palsu yang terus bersin itu lebih erat agar tetap hangat, lalu buru-buru pergi ke rumah sakit. Suhu tubuhku terus menurun, aku bisa merasakan darahku sedikit demi sedikit membeku. 36 jam kemudian, napasku benar-benar terhenti. Baru tiga hari kemudian, ketika kakak-kakakku pulang dari rumah sakit bersama putri palsu itu, mereka teringat padaku. Namun, mereka tidak tahu bahwa aku telah membeku hidup-hidup, menjadi sesosok mayat beku yang kaku.
Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu - undefined novels & stories
Nini
Saat pengisian pilihan perguruan tinggi, semua orang mengerubungi adik kembarku sambil sibuk memberikan saran. Kakakku menunjuk kode universitas di urutan paling atas. “Sudah pasti pilih Universitas Orlena. Jadi adik tingkatku. Nanti Abang yang jagain kamu.” Sahabat masa kecil kami segera menyodorkan brosur Universitas Marion ke hadapannya. “Jangan dengarkan abangmu. Masuk Universitas Marion saja. Empat tahun lagi kita bisa jadi teman sekampus.” Ayah dan ibu tersenyum sambil mengangguk setuju. “Belajar di ibu kota memang lebih baik. Ada yang menjagamu, jadi kami juga tenang.” Baru setelah cukup lama, mereka teringat kalau aku juga baru saja menyelesaikan ujian masuk perguruan tinggi. “Nindi… nilaimu kurang bagus, ‘kan? Pilih saja universitas mana pun yang ada di Marion.” “Iya. Nanti kita berempat ada di kota yang sama. Akhir pekan jadi gampang kumpulnya,” sahut kakak tanpa mengangkat kepala. Sahabat masa kecilku pun mulai mengomel seperti biasa. “Tinggal setengah jam lagi batas pengisian pilihan ditutup. Jangan ceroboh lagi seperti biasanya.” Sedikit demi sedikit, genggamanku pada buku panduan pendaftaran itu semakin mengencang.
Aku Mati Karena Sebuah Lelucon April Mop - undefined novels & stories
Faisal
Setiap tanggal 1 April, tepat di Hari April Mop, kakakku selalu bersekongkol dengan adik perempuanku untuk mengerjaiku. Tahun lalu, mereka mengunciku di dalam ruang pendingin. Akibatnya, aku mengidap asma yang sangat parah. Tahun ini, kakak tiba-tiba meminta maaf. Katanya, sebagai bentuk permintaan maaf, dia akan mengajakku cave diving. Aku menyelam dengan penuh harapan. Namun ketika mencapai kedalaman sekitar dua puluh meter, sesak napas yang mematikan tiba-tiba menyerang. Tanpa kusadari, adikku diam-diam telah menutup katup oksigenku. Tawa puasnya langsung terdengar dari alat komunikasi bawah air. “Kak Hans, lihat, ‘kan? Aku bilang apa? Kak Salsa pasti bakal tertipu!” “Memang kamu paling pintar. Bisa-bisanya kepikiran cara seperti ini buat ngerjain kakakmu. Dasar usil!” timpal Hans lembut penuh kasih sayang. Wajahku perlahan berubah ungu kebiruan karena kehabisan napas. Aku mati-matian berusaha membuka katup oksigen cadangan. Namun adikku justru berenang mendekat, lalu menepis tanganku. “Kak, lihat tuh! Kak Salsa jago banget aktingnya. Baru juga beberapa detik sudah pura-pura nggak kuat,” katanya manja melalui alat komunikasi. Suara Hans terdengar dingin. “Tahan sebentar lagi. Kamu memang terlalu dimanja. Baru segitu saja sudah nggak kuat.” “Dasar memalukan! Kamu nggak ada apa-apanya dibanding Fara.” Aku menatap sosok kakakku dengan penuh keputusasaan. Kak... Apa kakak sudah lupa? Karena lelucon kalian tahun lalu… Paru-paruku telah mengalami kerusakan permanen. Napasku semakin berat. Pandanganku perlahan menggelap. Tubuhku akhirnya tenggelam ke dasar laut yang sunyi dan gelap. Kak... Lelucon kali ini... Sama sekali tidak lucu. Karena... Aku benar-benar akan pergi… Untuk selamanya.
Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf - undefined novels & stories
Lucky Cat
Pada tahun keenam setelah adik laki-laki dan tunanganku meninggal, aku juga memilih sebuah makam untuk diriku sendiri. Sebelum pergi berziarah ke makam mereka untuk terakhir kalinya, ibu tiba-tiba berkata, "Alex, tahun ini nggak usah pergi. Sebenarnya mereka nggak mati." Aku terpaku. Tepat saat itu, kulihat mereka berdua berjalan keluar dari kamar adikku. Kenzo Ganendra menyunggingkan senyum sambil menggoda orang di sampingnya. "Aku menang taruhan. Sudah kubilang, kakak nggak bakal pernah sadar." "Kelak siapa yang di atas? Hm? Mila?" Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, perempuan yang dulu bahkan akan menangis setiap kali melihatku diperlakukan sedikit tidak adil itu, kini menatapku dengan penuh jijik. "Ah, dia memang terlalu bodoh. Padahal kita tinggal di rumah sebelah, tapi dia sama sekali nggak sadar." Rupanya alasan ibu melarangku masuk ke kamar itu bukan karena khawatir aku akan bersedih jika melihatnya, melainkan karena kamar tersebut terhubung dengan rumah di sebelah. Aku memang terlalu bodoh. Bahkan sebulan sebelum kematianku, yang kupikirkan masih bagaimana caranya berziarah ke makam mereka.
Suami Memaksaku Mengakui Kembar Tiga yang Bukan Anakku! - undefined novels & stories
Biru
Suamiku membawa pulang anak kembar tiga dan bersikeras menyebut mereka sebagai anak kandungku. Aku bergegas melakukan tes DNA di malam itu juga untuk membuktikan bahwa ketiga anak tersebut tidak memiliki hubungan darah denganku dan suamiku. Suamiku berulang kali menamparku, menyebutku jalang, lalu memaksaku untuk bercerai dan pergi tanpa membawa apa pun. Aku sangat marah dan mengadu kepada sahabatku. Ketika sahabatku melihat ketiga anak tersebut, dia mengambil pisau buah dari meja dan menggores wajahku. "Kalau kamu berani bilang mereka bukan anakmu lagi, pisau ini akan menyayat lehermu lain kali!" Hatiku terasa sangat pedih. Aku membeli tiket dan langsung pulang ke kampung halamanku di malam itu juga. Aku menangis dan mengeluh kepada orang tuaku. Selesai mendengarkan, orang tuaku mengambil cangkul dan memukulku sampai mati. Sampai ajal menjemput, aku masih tidak mengerti mengapa semua orang memaksaku untuk mengakui ketiga anak yang tidak diketahui asal-usulnya itu. Saat aku membuka mata lagi, aku kembali ke hari di mana suamiku membawa pulang ketiga anak itu.
Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya - undefined novels & stories
Gaston
Di kehidupan sebelumnya, aku dibawa kembali ke Keluarga Shafron. Demi seorang putri angkat, kakak kandungku memfitnahku, menuduhku membuat penyakitnya kambuh. Orang tua kandungku percaya dan mengusirku dari rumah. Tak lama kemudian, aku mati karena sakit di pinggar jalan. Saat terbangun lagi, aku kembali ke hari di mana diriku dijemput oleh Keluarga Shafron. Michael menghalangi jalan orang tua, menunjukku dan berkata, “Ayah, Ibu, dia bukan adikku!” Pasangan suami istri itu menatapku dengan rasa kecewa, lalu berbalik dan pergi. Aku berdiri di tempat, tak mengeluarkan liontin giok yang bisa membuktikan identitasku, lalu diam-diam berjalan kembali ke panti asuhan. Dua puluh tahun kemudian, aku telah menjadi salah satu ahli penyakit dalam terkemuka di dalam negeri. Pria yang duduk di hadapanku menyodorkan rekam medis dengan suara gemetar, “Dokter, kumohon tolong selamatkan adikku.” Saat melihat nama di berkas itu, gerakanku pun terhenti. Pandanganku tertuju pada wajah yang tampak lesu dan kusam itu. Setelah menatapnya agak lama, barulah aku berpaling ke arah pria itu dan berkata, “Aku nggak menerima pasien ini.”
Ramalan yang Membunuhku - undefined novels & stories
Makjos
Saat aku dan kakakku lahir, orang tuaku sampai memanggil seorang peramal untuk meramal nasib kami. Kata peramal itu, kakakku akan menderita depresi berat karena prestasiku yang terlalu cemerlang. Setelah nilai ujian masuk universitas diumumkan, dia akan melompat dari atap sekolah dan mengakhiri hidupnya. Demi menyelamatkan kakakku, mereka mendidikku dengan penuh tekanan dan caci maki selama 18 tahun. Bahkan, pada hari ujian, mereka merampas kartu ujianku. Aku berlutut memohon pada mereka, dahiku membentur ubin dengan keras. Ayah menendangku sampai terpental ke dalam ruang pembeku, lalu mengunci pintunya rapat-rapat dari luar. "Kamu tahu 'kan kakakmu bisa mati gara-gara kamu, tapi kamu masih ngotot mau ikut ujian. Apa kamu sengaja mau mendesaknya sampai mati, hah?" Suhu di dalam ruang pembeku itu minus 30 derajat Celcius. Aku cuma pakai seragam sekolah lengan pendek. Aku menggedor-gedor pintu dengan sekuat tenaga. "Ibu, di sini dingin banget! Tolong keluarin aku …." "Ngapain sih ngada-ngada?" Suara Ibu melengking tajam. "Di dalam sana sama sekali nggak dinyalain pendinginnya! Kakakmu tinggal selangkah lagi buat lepas dari ramalan sialan itu, dan kamu masih aja mikirin diri sendiri?" Suara langkah kaki menjauh. Darah terus mengalir deras dari dahiku, menetes membasahi seragam sekolah, dan seketika terasa membeku. Aku meringkuk di sudut ruangan. Tubuhku perlahan-lahan .... Menjadi kaku ....
Kesunyian Di Tengah Kehampaan Hati yang Perih - undefined novels & stories
Alaska
Hari pengumuman nilai ujian masuk perguruan tinggi, aku menggenggam ponsel sambil menunggu dengan gelisah selama 40 menit. Saat angka 708 muncul di layar, baru saja aku hendak berseru kegirangan, kakakku sudah lebih dulu menjerit lalu menerjang ke pelukan Sylas. "Aku dapat 670! Kamu 675, Sylas, kita berdua pasti bisa masuk Universitas Kedokteran Jekova!" Aku baru saja ingin mengatakan kalau aku juga bisa, tetapi pacarku, Sylas, sudah menarik kakakku dan berlari keluar. Baru pada pesta perayaan, Sylas akhirnya teringat padaku. "Oh ya, Nasha, Sekolah Vokasi Jekova letaknya tepat di sebelah Universitas Kedokteran. Kamu ambil jurusan keperawatan saja. Nanti kita bertiga masih bisa sering berkumpul." Kakakku tersenyum sambil mengetuk pelan kepalaku. "Nanti aku dan Sylas si bodoh jadi dokter, sedangkan kamu jadi perawat yang membantu kami. Kombinasi yang sempurna, 'kan?" Mereka seimbang dalam segala hal, benar-benar pasangan yang serasi. Bagaikan dua bayangan yang menyatu tanpa celah, tak lagi menyisakan tempat bagi orang ketiga. Dulu, sekeras apa pun aku berusaha, yang bisa kulakukan hanyalah memandangi lampu belakang mereka dari kejauhan. Kali ini, aku memilih untuk berhenti mengejar mereka.
Sistem Kebahagiaan: Kehancuran Keluarga Setelah Mengusir Pewaris Palsu - undefined novels & stories
Adrian
Aku terlahir dengan sebuah sistem keberuntungan. Setiap kali aku merasa bahagia, semua orang di sekitarku akan menghasilkan uang. Demi menjaga suasana hatiku tetap baik, ayahku yang seorang miliarder mengajakku berpetualang setiap hari. Dia memanjakanku dengan sepatu edisi terbatas, menyewa kapal pesiar pribadi, dan menghadiahkan berbagai barang mewah yang hanya ada satu di dunia kepadaku. Semua itu ditentukan oleh satu hal. Keberuntungan Grup Kuncoro terikat langsung dengan suasana hatiku. Selama aku tertawa sampai terpingkal-pingkal, harga saham perusahaan akan terus naik dan uang mengalir tanpa henti. Begitu suasana hatiku memburuk, kerugian langsung bermunculan. Bahkan yang terburuk, seluruh grup bisa bangkrut. Contohnya bulan lalu. Salah seorang petugas kebersihan tanpa sengaja membuang setengah makaron yang kutinggalkan di atas meja. Aku hanya kesal sesaat, bahkan tidak sampai sedetik. Keesokan harinya, Grup Kuncoro Wilayah Barat mencatat kerugian sebesar 1,5 triliun. Ayahku menghabiskan semalaman membeli sepuluh toko roti premium sekaligus memutus kontrak perusahaan kebersihan itu hanya untuk menenangkanku. Sejak saat itu, tak seorang pun dari kalangan elite Manhattan berani bersikap kurang ajar sedikit pun di hadapanku. Sampai akhirnya ayahku terbang ke Los Angeles untuk urusan bisnis, dan Isabella, putri kandung yang baru saja ditemukan setelah bertahun-tahun terpisah, masuk ke kamarku. "Selama bertahun-tahun kamu cuma numpang hidup di keluarga ini," katanya sambil menatapku dengan penuh penghinaan. "Apa kamu benar-benar mengira menguras nama besar Keluarga Kuncoro bisa membuatmu jadi pewaris yang sebenarnya? Akulah yang memiliki darah Keluarga Kuncoro. Sekarang aku sudah kembali, jadi sudah waktunya kamu angkat kaki dari rumahku." Aku tidak bereaksi. Dia mengambil secangkir kopi hitam yang ada di dekatnya lalu menyiramkannya begitu saja ke atas keyboard laptopku. Aku hanya bisa melihat layar itu langsung mati, sementara kehampaan perlahan memenuhi dadaku. "Berlutut dan bersihkan." Aku mengusap kopi yang membasahi wajahku. Udara di sekelilingku seolah-olah berubah menjadi dingin. Grup Kuncoro sebentar lagi akan hancur berantakan. Tanpa sadar, aku bertanya-tanya apakah ayahku yang berada ribuan kilometer jauhnya di Los Angeles saat ini sudah mulai meraih obat jantungnya saat melihat ratusan triliun lenyap dari nilai saham perusahaan.
Putri yang Dibuang, Bintang yang Bersinar - undefined novels & stories
Momo
Pada hari ketika hasil ujian masuk perguruan tinggi diumumkan, aku refleks berteriak ke arah ruang tamu. "Ayah, Ibu, aku dapat tujuh ratus dua puluh poin!" "Aku bisa pergi ke Universitas di Sentara untuk bareng Kakak dan Ardi!" Namun yang menjawabku, tetap saja hanya keheningan. Di atas sofa, duduk empat boneka kecil. Ayah, ibu, kakak, dan, Ardi, sahabat masa kecilku. Mereka menatapku dengan mata bulat, sama seperti pada malam-malam tak terhitung sebelumnya, hanya menemaniku dalam diam. Baru saat itu aku teringat. Setahun lalu, adikku yang bernama Citra jatuh sakit. Mereka berkata, itu karena nilai akademisku yang terlalu bagus dan membuatnya tertekan hingga hampir bunuh diri. Akhirnya, aku menjadi orang yang paling harus disembunyikan dalam keluarga, dan diusir ke rumah sewa ini. Malam pertama setelah pindah, seorang pemabuk dari rumah sebelah salah menggedor pintu. Aku bersembunyi di balik selimut, merasa ketakutan hingga tak berani mengeluarkan suara saat menangis. Aku hanya bisa berulang kali menelepon ayah, ibu, kakak, dan Ardi. Di ujung telepon, yang terdengar hanyalah nada sibuk yang dingin. Menjelang fajar, ibu baru mengirim satu pesan singkat. [Jangan menelepon lagi, Citra akan sedih kalau melihat nomormu.] Sejak saat itu, aku membuat empat boneka kecil yang menyerupai mereka. Mereka menemaniku makan dan tidur. Mendengarkan setiap kemajuan yang kucapai, juga mendengarkan kesedihanku yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun. Namun saat air mataku jatuh, aku tidak lagi memeluk boneka-boneka itu. Setelah terlalu lama berjalan sendirian dalam kegelapan, akhirnya aku memiliki keberanian untuk tidak lagi menoleh ke belakang.
Rumah yang Tak Pernah Menyambutku - undefined novels & stories
Yubo
Setelah menyelesaikan ujian mata pelajaran terakhir, dari kejauhan aku melihat Ibu sudah berdiri mengenakan pakaian terbaiknya. Saat hendak berlari menghampirinya, kakak kembarku, Reina, sudah lebih dulu berlari dan memeluk Ibu. "Sayang, kamu capek, ya?" Ibu mengusap kepala Reina dengan lembut, sementara kakak laki-lakiku, Rafael, menyodorkan jus dingin yang sudah disiapkan dan dengan sigap mengambil tas sekolahnya. Aku hanya berdiri terpaku di tempat, memandangi ibu dan Rafael yang berjalan di sisi kanan dan kiri Reina, seolah melindunginya sambil membawanya masuk ke mobil pribadi. Tepat ketika mobil hendak melaju, Reina tiba-tiba berseru, "Eh, masih kurang satu orang." Aku kira, yang dimaksud adalah aku, jadi aku segera mempercepat langkah menghampiri mereka. Tak kusangka, dia justru melambaikan tangan ke arah belakangku. "Kak Stefan, di sini!" Setelah sahabat masa kecil kami, Stefan Janitra, naik ke mobil, barulah mereka menyadari bahwa aku masih berdiri di samping pintu mobil. "Vinna, kok kamu ada di sini? Bukannya kamu satu tingkat di bawah kakakmu?" Karena kondisi kesehatanku, aku masuk sekolah setahun lebih lambat daripada Reina. Setelah kesehatanku pulih, perhatian mereka sepenuhnya beralih kepadanya. Sampai-sampai mereka tidak tahu bahwa aku sudah melompati satu tingkat.
Rumah Baru Untukku - undefined novels & stories
Ges
Di Kota Batama, setiap kali ada keluarga yang melahirkan anak perempuan, mereka akan menanam sebatang pohon kamper pada tahun tersebut. Saat putrinya menikah nanti, pohon itu akan ditebang dan dijadikan dua peti besar untuk menampung mas kawin, sebagai simbol doa agar pernikahan mereka langgeng. Setengah bulan sebelum hari pernikahanku dan adik perempuanku, kakak laki-laki kami pulang membawa dua peti yang sudah selesai dibuat. Dia bersusah payah membawanya masuk dan mata adik langsung berbinar gembira. Ibu mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. “Anak kesayangan Ibu sudah mau menikah saja. Padahal rasanya baru kemarin kamu masih anak kecil yang belum dewasa.” Ayah juga mengerutkan kening, nada bicaranya terdengar tegas. “Kalau dia berani bertindak semena-mena dengan Elis, bakal kuhabisi dia!” Tidak ada satu orang pun yang merasa aneh dengan peti itu. Mataku pun menatap ke belakang Kakak. Kosong, tidak ada apa-apa di sana. Aku pun bertanya, “Kak, di mana punyaku?” Kakak terkejut, seolah-oah baru teringat kalau pernikahanku juga diadakan di hari yang sama. “Saat selesai buat satu untuk Elis, ternyata kayunya kurang. Mau bagaimana lagi, jadi pohon milikmu juga ikut kupakai.” Ibu tampak agak kesal. “Sudahlah, sudah terlanjur terpakai, mau bagaimana lagi? Nanti kamu tinggal beli saja dua tas, nggak perlu pasang muka cemberut begitu, mau dikasih lihat ke siapa?” Aku menatap punggung mereka yang sedang mengerumuni adik, lalu teringat pesan yang pernah disampaikan Ayah dan Ibu pada Kakak sebelumnya. “Peti mas kawin anak perempuan itu harus dibuat dengan sungguh-sungguh, soalnya ini menyangkut kebahagiaan seumur hidupnya.” Ternyata, anak perempuan yang mereka maksud tidak termasuk aku. Jika begitu, aku juga tak membutuhkan mereka lagi.
PREV
12345
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status