Towa
Suamiku, Ryan, sudah terbiasa memprioritaskan hidupnya dengan jelas. Di kalender bersama, penanda warna merah berarti tidak dapat diubah, kuning berarti dapat dikoordinasikan, sedangkan abu-abu berarti dapat ditunda kapan saja.
Ulang tahun ibunya berwarna merah, makan malam bersama teman berwarna kuning, dan hal-hal yang berhubungan denganku selalu berwarna abu-abu. Setelah tujuh tahun bersama, aku selalu menduduki peringkat terakhir di hatinya.
Pada hari peringatan ulang tahun pernikahan kami, aku menunggu di restoran sampai lilinnya padam. Dia menunda makan malam itu sampai minggu depan dan mengirimiku pesan suara.
"Nova sangat pentingkan kebersihan. Dia nggak mau petugas pindahan menyentuh barangnya. Aku akan membantu. Kamu paling pengertian. Aku akan menebusnya di lain hari."
Aku menatap makanan yang sudah dingin dan tidak menanyakan apa pun. Aku hanya membuka riwayat kalender bersama.
Ryan menggeser jadwal pemeriksaan gastroskopiku demi menjemput kucing Nova. Saat ayahku menjalani operasi, dia tidak hadir demi mengganti kunci rumah Nova. Bahkan di hari mendaftarkan pernikahan, dia terlebih dahulu menemani Nova memilih kasur dan meninggalkanku sendirian di Kantor Catatan Sipil sampai jam kerja berakhir.
Di balik setiap jadwal dengan penanda abu-abu yang digesernya, selalu ada jadwal Nova yang berwarna merah sebagai gantinya. Hanya ada satu catatan di bawahnya.
[ Prioritas tanpa syarat. ]
Aku menatap kalimat itu lama sekali sebelum teringat bahwa Ryan selalu berkata, "Jadwal nggak pernah memihak, cuma bedakan mana yang lebih penting."
Ternyata, dalam prioritasnya, kesehatanku, keluargaku, dan pernikahan kami masih tidak sebanding dengan kardus-kardus milik Nova.
Aku menghapus kalender bersama itu, lalu mengirimkan surat kesepakatan cerai ke pengacara.
Bukankah dia suka hidup sesuai rencana? Mulai hari ini, aku akan menarik diri dari semua jadwalnya selamanya.