Novels
Short Stories

Genres

All
Romansa
Realistis
Manusia Serigala
Mafia
Vampir
Mitologi
Fantasi
Kehidupan Sekolah
Imajinasi
Reinkarnasi
Gairah
Misteri/Thriller
Mistis Rakyat
Romansa Sejarah
POV Pria

Characters

27
All
Mandiri
Pelakor
Psikopat
Munafik
Wanita Kuat
Mafia
Istri Muda
Cinta Pertama
Kejam
Teman Masa Kecil
Dokter
Cinta Sejati
Pengasuh
Bestie
Pengganti
Guru
Bucin
Menantu
Sekretaris
Identitas Tersembunyi
Tetangga
Influencer
Vampir
Ahli Forensik
Pilot
Selebriti
Teman Sekamar
Show more

Plot & Setting

27
Penyesalan×
All
Penyesalan
Pernikahan
Selingkuh
Dewasa 18+
Menggoda
Karma
Hubungan Keluarga
Balas Dendam
Kesadaran Diri
Pura-pura Mati
Kriminal
Dunia Kerja
Perundungan
Penebusan
Sistem
Kehamilan
Nikah Kontrak
Cinta Lama Bersemi Kembali
Melawan Takdir
Kutukan
Dunia Hiburan
Dunia Paralel
Perjalanan Waktu
Kekuatan Super
Pusat Perhatian
One Night Stand
Petualangan
Show more

Themes

15
All
Plot Twist
Drama
Cerita Enak
Reinkarnasi
Bangkit
Manis
Obsesi
Toxic
Healing
Cinta Terpendam
Motivasi
Pusing
Kocak
Semangat
Multi POV
Show more

Penyesalan Short Stories & Novels

Discover a collection of enchanting Penyesalan short stories that explore the depths of passion. Perfect for readers seeking one-hour short stories to inspire and ignite their imagination about Penyesalan.
Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus - undefined novels & stories
Airey
Carol memeluk putranya yang kehilangan lengan akibat kecelakaan sambil menunggu bantuan di bandara. Tiba-tiba, dia menerima kabar bahwa pesawat itu telah disewa secara mendadak oleh seseorang. "Nggak bisa! Tolong bantu beri kelonggaran ...." Carol menggenggam tangan petugas sambil memohon. "Lengan anakku putus. Aku harus membawanya pulang ke negara kami untuk menjalani operasi dalam waktu tiga jam!" Kantong es yang berisi lengan putus itu dipeluk erat di dadanya. Meski tubuhnya menggigil kedinginan, dia sama sekali tidak mau melepaskannya. Petugas itu memasang ekspresi serba salah. "Maaf, Bu. Pak Brad membayar tiga kali lipat untuk menyewa seluruh pesawat ini demi mengadakan pesta perayaan untuk muridnya. Dia sudah berpesan agar jangan ada siapa pun yang mengganggu." Pak Brad? "Brad yang mana?" tanya Carol. Petugas itu menjelaskan, "Pianis terkenal, Pak Brad." Brad, suaminya.
Suamiku Memilih Muridnya, Aku Memilih Pergi - undefined novels & stories
Anonima
Pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-8, mahasiswi miskin yang dibiayai suamiku mengirimiku pesan provokatif. Dalam foto yang dia kirim, dia mengenakan cincin pernikahanku sambil memegang hasil pemeriksaan kehamilan. [ Kak Selina, aku dan Kak Elian benar-benar saling mencintai. Relakan saja dia untukku. ] [ Kamu ini wanita mandul. Kamu nggak pantas untuknya. ] Aku tidak menanggapinya. Aku langsung mengirim tangkapan layar percakapan itu kepada suamiku. Tak lama kemudian, Elian menelepon dan langsung memarahiku habis-habisan, "Yara cuma bercanda. Kenapa kamu berpikiran sempit sekali? Bisa berhenti cari masalah, nggak? Kenapa kamu menjijikkan sekali!" Dari ujung telepon, terdengar pula suara isak tangis mahasiswi itu. Aku tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung menutup telepon. Sebelum memblokirnya, aku hanya meninggalkan satu kalimat. [ Kita cerai saja, supaya aku nggak buat kamu jijik lagi. ]
Tunangan Bermain Kabur dari Pernikahan Bersama Teman Kecilnya - undefined novels & stories
Lora
Teman masa kecil Gevano ingin bermain permainan kabur dari pernikahan. Saat upacara pernikahan baru berlangsung setengah jalan, Gevano menoleh kepadaku dan berkata, “Aku mau menemani Kalila main permainan kabur dari pernikahan. Lima menit lagi aku kembali. Kamu juga tahu dia memang suka iseng, jadi jangan terlalu dipikirkan.” Tanpa menghiraukan laranganku, Gevano langsung menggandeng tangan teman masa kecilnya dan pergi bersamanya. Para tamu memandangku dengan tatapan penuh iba. Aku menggigit bibir, menahan air mata agar tak jatuh, berusaha mempertahankan martabat terakhirku. Setengah jam berlalu, Gevano masih belum kembali. Melihat para tamu mulai hendak pergi, pengiring pengantin pria menelepon Gevano. “Kak Gevano, kapan kamu kembali? Kakak ipar masih menunggumu.” Gevano menjawab santai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, “Aku dan Kalila tiba-tiba memutuskan pergi ke pantai. Sepertinya kami belum bisa pulang dalam waktu dekat. Biarkan saja Thessa menunggu. Toh, dulu demi menikah denganku, dia sampai memutuskan hubungan dengan kedua orang tuanya. Dia nggak bisa hidup tanpaku, jadi menunggu sedikit lebih lama memangnya kenapa? Kalian awasi saja dia, jangan sampai dia buat keributan.” Tanganku yang sejak tadi terkepal erat seketika melemas saat mendengar nada bicara Gevano yang begitu acuh tak acuh. Tatapanku beralih kepada pria yang semula dijodohkan denganku, yang saat itu berada di bawah panggung. Aku tidak membuat keributan sedikit pun. Setelah menyelesaikan upacara pernikahan dengan pria itu, aku segera mengurus surat nikah.
Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang - undefined novels & stories
Mohini
Pacarku memiliki gangguan pendengaran. Sering kali, dia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang kukatakan. Aku bilang ingin membeli satu set produk perawatan kulit. Namun, dia malah pulang membawa dua set. “Aku salah dengar lagi. Yang satu ini kasih saja ke Luna.” Aku bilang ingin membeli kue manis rasa Osmanthus. Dia malah membelikanku rasa melati. “Aku salah dengar. Luna suka rasa ini. Kalau begitu, kasih dia saja.” Sampai akhirnya, setelah menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga untuk merancang rumah yang akan kami tinggali setelah menikah, aku memintanya membeli sebuah rumah di kota bagian selatan. Namun, pada hari rumah itu akan diperiksa, dia justru mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kota di bagian utara. Menyadari aku terus diam sepanjang perjalanan, dia kembali meminta maaf. “Aku benar-benar nggak mendengarnya dengan jelas. Aku kira kamu suka pemandangan kota bagian utara. Jadi, tanpa banyak pikir, aku langsung membelinya.” Namun aku tahu. Perusahaan tempat Luna bekerja berada tak jauh dari kota itu. Luna adalah teman masa kecil yang tumbuh bersamanya. Jadi, dia bukan tak mendengarku. Dia hanya tak pernah benar-benar mau mendengarkanku. Saat itu, aku tiba-tiba merasa seluruh tenagaku luruh. Aku membuka suara dengan sangat tenang. “Alvin, kita putus.”
Kenapa Panik Setelah Aku Meninggalkan Dunia - undefined novels & stories
Ijo
Selama tiga tahun ini, Leon Sinclair berselingkuh dariku. Dia menyembunyikan perempuan itu dengan begitu rapi, tanpa menyisakan celah sedikit pun. Aku pernah menemukan kalung renda yang masih hangat di jok belakang mobilnya. Bahkan di belakang telinganya, lebih dari sekali aku menemukan bekas gigitan yang masih baru, menyisakan jejak kemesraan dengan perempuan lain. Setiap kali, aku mengamuk seperti orang gila, mengobrak-abrik rumah sampai berantakan, dan menuntut jawaban tentang siapa wanita itu, Leon hanya mengernyit lelah, menatapku seakan akulah yang bermasalah. "Giselle, sampai kapan kamu mau curigaan begini? Kamu bilang aku selingkuh, ya tunjukkan buktinya." Jadi, aku mengikutinya 24 jam penuh. Aku beri tahu semua keluarga, semua teman, untuk berjaga di depan hotel di bawah apartemen, siap menangkap basah. Namun, setiap kali pintu kamar itu didobrak, yang kulihat hanya Leon, duduk rapi di sofa dengan kemeja terkancing sempurna, menatapku dingin. "Mau geledah?" Setiap kali aku keluar dengan tangan kosong, ibuku menggenggam tanganku sambil menghela napas. "Giselle, dalam pernikahan itu yang paling penting kepercayaan. Kamu ribut terus kayak gini, muka Leon mau ditaruh di mana?" Bahkan sahabat terdekatku pun berusaha menasihatiku dengan hati-hati. "Mungkin ... kamu emang lagi terlalu stres, Giselle. Bisa jadi itu cuma pikiranmu sendiri."
Perpisahan di Suhu Minus Lima Belas Derajat - undefined novels & stories
Jan
Malam sebelum keberangkatan, Marcel me-mention namaku di grup. [Coba cek tiket pesawatmu, deh.] Aku membuka detail pesanan. Statusnya menunjukkan tiket sudah dibatalkan. Waktu pembatalannya tiga hari yang lalu. Belum sempat aku mengetik balasan, pesan-pesan di grup langsung bermunculan satu demi satu. Vania: [Aku taruhan sama Marcel, kamu bakal cek tiket sebelum berangkat atau nggak. Aku yakin kamu nggak bakal cek. Eh, dia malah nyuruh kamu cek sendiri. Curang!] Marcel: [Udah, deh. Toh, kamu tetap kalah. Buktinya, dia baru sadar sekarang. Buruan pesan ulang sana. Cuma nggak bisa duduk bareng lagi aja.] Mereka mengobrol dengan begitu riangnya. Sama persis seperti taruhan yang mereka buat waktu itu. Tentang berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menyadari bahwa kamar hotel kami yang awalnya twin room telah diubah menjadi kamar bertiga, sampai-sampai aku harus tidur di folding bed. Begitu juga dengan taruhan-taruhan mereka sebelumnya. Apa aku akan menyadari bahwa satu-satunya galeri seni di dalam itinerary sengaja diganti menjadi escape room. Setiap kali aku bilang keberatan, jawaban mereka selalu sama. “Kalau kamu nggak bilang, gimana kita tahu kamu keberatan?” Padahal, mereka tak pernah sekalipun bertanya. Aku tak memesan ulang tiket itu. Sebaliknya, aku membuka aplikasi lain dan mencari penerbangan menuju Islavia. Melihat aurora di suhu minus lima belas derajat. Sendirian. Mungkin, justru itu yang terbaik.
Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal - undefined novels & stories
Flower
Menjalani hubungan rahasia dengan atasanku selama tiga tahun, kami telah menghabiskan 999 kondom. Sebelum bersamaku, setiap bulan dia berganti pasangan hingga 20 wanita. Namun, setelah bersamaku, dia hanya berhubungan intim denganku. Dia berjanji akan memberiku kejutan pada hari ulang tahunku. Awalnya, kupikir kejutan itu akan berupa lamaran yang megah. Namun, ketika jam berdentang menandakan pukul 12 tengah malam, dia justru meneleponku dan berkata. "Celine, sekarang belikan kondom dan antar ke lantai 31 Hotel Jenda." "Ingat, yang ekstra tipis." Saat itu, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Tanpa memberiku waktu untuk bereaksi, dia sudah kehilangan kesabarannya dan mendesak. "Jangan bengong saja, cepat kemari! Aku dan Lili lagi bergairah." Lili Bamanta, sekretaris seksi yang baru direkrut. Wajahku seketika memucat. "Daffa, kamu tidur dengannya? Lalu aku ... aku ini apa bagimu?" Di seberang sana, dia terdiam sejenak, lalu terkekeh pelan. "Kamu? Nggak lebih dari teman tidur buat melampiaskan hasrat seksual." Ternyata, kejutan yang dimaksud bukanlah lamaran, melainkan sebuah kesalahpahaman perasaan yang begitu menyeluruh. Di hari ulang tahunku yang ke-25, gelembung cinta itu akhirnya pecah. Kemudian, sebuah kecelakaan mobil mengubah segalanya. Saat mereka bertemu kembali, dia sudah tidak mungkin lagi mendapatkan kembali "peliharaan" yang dulu menjadi miliknya.
Cintaku Berakhir Di Surat Ke-100 - undefined novels & stories
Hes
Di hari reuni sekolah, sahabatku mengeluarkan sebuah kotak misteri. Di atasnya tertempel tulisan… [Ambil kutipan-kutipan bucin Anisa.] Seketika, seluruh ruangan langsung tertawa. Ada yang mendapatkan surat cinta yang kutulis untuk Karlos saat kelas 3 SMA. [Karlos tersenyum padaku hari ini. Aku ingin memberikan hari esokku juga padanya.] Yang lain mendapat surat yang kutulis saat kuliah. [Nggak apa-apa kalau dia nggak membalas pesanku. Setelah selesai sibuk, dia pasti akan mengingatku.] Namun, tak satu pun surat cinta yang kutulis untuk Karlos pernah mendapatkan balasan darinya. Selama ini, aku mengira semua surat itu sudah dibuang olehnya. Sampai akhirnya, sahabatku mengambil surat ke-99. Dia bersandar di pelukan Karlos sambil tertawa dan membacakannya, [Kalau suatu hari nanti kamu nggak menginginkanku lagi, aku tetap akan mendoakanmu bahagia.] Karlos langsung merebut kertas itu dari tangannya, lalu memarahinya sambil tertawa, “Jangan keterlaluan, dia itu pemalu.” Namun, saat dia tersenyum dan mengatakan jangan keterlaluan, jelas sekali bahwa dirinya juga sedang menunggu aku dipermalukan. Saat sahabatku membaca surat itu, kotak undian itu tak sengaja tersenggol dan jatuh. Aku membungkuk untuk mengambilnya, tapi malah melihat dua barisan tulisan kecil yang tertempel di bagian dasar kotak. [Diperbarui setiap bulan.] [Hanya untuk hiburan internal.] Barulah aku sadar. Ternyata, ketulusan yang selama ini kuberikan hanyalah bahan lelucon mereka.
Senar Merah Terputus, Cermin Retak - undefined novels & stories
Caca
Sepuluh tahun telah kuhabiskan untuk menemani Bagas Abimana, dari seorang pangeran yang hidup dalam keterpurukan hingga akhirnya naik ke takhta tertinggi. Namun, tepat setelah dia dinobatkan sebagai Raja, hal pertama yang kulakukan justru mengajukan permohonan untuk menghapus namaku dari daftar abdi istana dan meninggalkan istana. Sesuai peraturan istana, dayang biasa boleh meninggalkan istana pada usia 25 tahun. Tahun ini usiaku sudah 27 tahun, dua tahun lebih lambat dari seharusnya. Sudah waktunya aku keluar dan menikah. Setelah menyelesaikan pendaftaran di Biro Urusan Dalam Istana, sang kepala pengawas memberitahuku untuk kembali setengah bulan lagi guna mengambil surat jalan, dan saat itulah aku resmi boleh keluar istana. Mendengar jawabannya, aku menghela napas lega, seolah beban berat terangkat dari pundakku. Dalam perjalanan kembali ke kediaman, baru saja melangkah ke gerbang istana, aku melihat para dayang dan kasim berlutut di sepanjang jalan. Mata mereka sembab dan merah karena menangis, tubuh mereka gemetar ketakutan. Begitu melihatku, mereka seolah melihat penyelamat. "Bibi Maya! Anda akhirnya kembali!"
Musim Dingin Tak Mengenal Waktu - undefined novels & stories
Seanna
Tujuh hari setelah diselamatkan dari percobaan bunuh diri, Reina menjadi istri yang "pendiam" seperti yang diharapkan Bayu. Dia tidak akan terus-menerus berbagi hal-hal menarik yang baru ditemukannya. Tidak marah-marah dan mempertanyakan Bayu karena melihat bekas lipstik di kemejanya. Dia tidak akan terus-menerus mengawasi dan mencurigai Bayu yang mengaku telah berhenti selingkuh, dengan siapa saja dia berkomunikasi setiap hari. Seperti yang diharapkan Bayu, dia diam, tidak mengganggu, dan memberinya kebebasan mutlak. Jadi, ketika dia terluka setelah terseret dalam insiden penyanderaan besar saat berbelanja di mal, Reina hanya membuat laporan di kantor polisi sendirian, lalu diam saja pergi ke rumah sakit untuk mengobati lukanya. Bayu memandang lengan Reina yang dibalut perban dan ingin memeluknya. Dia menyingkir dengan hati-hati dan masuk ke dalam mobil, sambil berkata dengan datar, "Aku baik-baik saja, nggak perlu merepotkanmu." Tangan Bayu terdiam di udara. Suara Reina yang tenang membuatnya mengerutkan kening. Dia seharusnya tidak seperti ini. Reina telah menjadi istri sempurna yang dia harapkan, bahkan mengabulkan cintanya. Namun, setelah dia pergi, Bayu mencarinya kembali mati-matian.
Biarkan Aku Menikmati Momen Ini - undefined novels & stories
Taeyon
Saat menelepon Edy untuk mengecek keberadaannya, ternyata gadis muda di sampingnya sedang tidak mau diam. “Rancangan pernikahannya sudah dikirim ke emailmu. Asistenmu bilang sampai sekarang belum diterima.” “Kamu ... sedang apa?” Tiba-tiba, terdengar suara gesekan kain dari seberang telepon. Gadis itu sengaja menggodanya dari bawah, Edy mendengus pelan dan nyaris tidak mampu menahan diri. “Sedang berolahraga.” “Anak baik, nanti saja bahas soal pernikahannya.” Setelah menutup telepon, aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya membalas email yang sudah menunggu selama seminggu. Yang Edy tidak tahu adalah…. Tidak akan ada kata “nanti” lagi. Tanggal pernikahanku dimajukan.
Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai - undefined novels & stories
Rain
Suamiku, Jerico Adrian sudah ribuan kali main gila di luar sana, tapi dia tetap tidak mau bercerai. Keluarganya bilang, aku ini perempuan kampungan yang tidak tahu diri. Lima tahun lalu, saat aku pertama kali minta cerai, Jerico tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengurungku di vila selama satu bulan penuh. Satu bulan kemudian, aku mendapati diriku hamil. Tiga tahun lalu, saat aku minta cerai untuk kedua kalinya, Jerico langsung pulang ke rumah orang tuanya malam itu juga. Tidak lama setelah itu, aku hanya mendapatkan hak untuk menemui anakku seminggu sekali. Hari ini adalah yang ketiga kalinya, aku akhirnya bisa pergi. Karena aku menyadari bahwa anakku tidak mencintaiku, pernikahan kami juga palsu. Aku tidak ada bedanya dengan wanita-wanita di luar sana.
Sebatang Pensil Hampir Membawa Petaka - undefined novels & stories
Coco
Ujian masuk perguruan tinggi akhirnya selesai. Saat acara perayaan kelulusan, wali kelas menerima sebuah telepon. Setelah menutup telepon, dia memasang wajah serius dan memberi tahu semua orang bahwa ada seorang siswa di kelas kami yang seluruh lembar jawabannya kosong untuk semua mata pelajaran. Teman-teman sekelas langsung ramai membicarakannya. Semua menebak-nebak siapa orang itu. Saat semua orang masih kebingungan, ketua kelas, Sheva, menghampiriku dengan mata memerah dan terus meminta maaf. Dia mengatakan bahwa di antara pensil ujian yang dibelinya, ternyata ada satu yang cacat. Bekas arsiran dari pensil itu akan menghilang sepenuhnya setelah tiga jam dan kebetulan pensil itulah yang diberikan kepadaku. Dengan kata lain, orang yang dianggap mengumpulkan lembar jawaban kosong itu adalah aku. Sebelum aku sempat bicara, Rico langsung menarik Sheva ke belakangnya untuk melindunginya. "Mikha, Sheva nggak sengaja. Dia cuma ceroboh. Toh kamu juga memang dasarnya sudah pintar, sekalipun harus mengulang setahun, tahun depan kamu tetap bisa masuk universitas. Jangan terus nyalahin dia." Melihat Rico membelanya seolah itu hal yang sudah sewajarnya, dadaku terasa sesak dan getir. Hanya saja, Rico mungkin sudah lupa. Sebelum memasuki ruang ujian, aku dan dia sempat bertukar pensil ujian.
Setelah Kematianku, Keempat Targetku Menggila - undefined novels & stories
Awan
Setelah tiga target penaklukanku gagal, aku memilih bertunangan dengan Nadia Wijaya, putri Keluarga Wijaya yang lumpuh. Aku sampai menukar seluruh poin yang aku miliki demi membuatnya bisa berdiri kembali. Akan tetapi, hal pertama yang dia lakukan setelah pulih adalah membatalkan pertunangannya denganku dan menggelar pernikahan mewah di tepi laut bersama Raka Mahendra. Di tengah pesta pernikahan, empat target penaklukanku menatap Raka dengan penuh kelembutan. Di saat itu juga, aku tiba-tiba ingin pulang. Jadi, aku berbalik dan langsung melompat ke laut. Saat aku jatuh ke dalam lautan, empat sosok justru serentak menerjang ke arahku dengan wajah dipenuhi penyesalan dan ketakutan.
Dulu Aku Memahami, Kini Aku Melepaskan - undefined novels & stories
Sisi
Setiap kali ada acara kumpul keluarga, asisten wanita Steven kembali duduk di tempat yang seharusnya menjadi milikku. Aku bertanya pada Steven, “Dia duduk di tempat istri pemilik rumah, kamu tidak mau mengatakan apa-apa?” Steven menjawab dengan tidak sabar, “Kamu yang terlambat, jangan salahkan orang lain karena mengambil tempatmu. Kalau mau, duduk saja di kursi kosong sebelah sana. Kalau tidak mau, pergi!” Ketika aku hendak berbicara, suara hati Steven kembali terdengar. [Istriku, cepat marah ….] [Bilang kalau kamu membutuhkanku dan hanya mau duduk di sampingku ….] [Buktikan kalau kamu mencintaiku. Dengan begitu, aku baru bisa merasa tenang ….] Kali ini, aku tidak lagi menuruti isi hatinya. Aku hanya menunduk dan melepas cincin di jariku perlahan. “Jika di rumah ini bahkan tidak ada tempat untuk seorang istri, kurasa kalian juga sudah tidak membutuhkanku.” “Kita bercerai saja.”
Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan - undefined novels & stories
Melody
Saat Keenan Wijaya pulang sambil membawa seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, aku sedang melihat-lihat ranjang bayi. Anak itu memiliki sepasang mata yang persis sama dengan cinta pertama Keenan. "Dia baru pulang dari luar negeri dan nggak punya tenaga untuk mengurus anak ini. Mulai sekarang, aku yang akan membesarkannya." Suara Keenan dingin dan tegas, terkesan tidak memberi kesempatan untuk dibantah. Namun, tatapannya tertuju pada perutku yang sedikit membuncit. "Kalau anak dalam kandunganmu ... gugurkan saja. Anak ini sangat sensitif. Untuk sementara, dia belum bisa menerima kehadiran adik." Jari-jariku yang menggenggam hasil USG sedikit gemetar. Aku terdiam cukup lama. Saking lamanya hingga rasa kesal dan bersalah yang ditahannya mulai terlihat di mata Keenan. Barulah aku mengangguk patuh. "Oke, aku turuti kemauanmu." Keesokan harinya, aku keluar dari ruang operasi seorang diri dan menyerahkan surat keterangan aborsi kepadanya. Keenan meletakkan surat itu kembali ke atas meja dengan santai, lalu berkata datar, "Besok, penthouse dupleks di Peninsula akan dialihkan atas namamu." Aku mengangguk tenang. "Oke, terima kasih." Tidak melihat tangisan atau keributan seperti yang dia bayangkan, alis Keenan sedikit bergerak. Dia pun tidak berkata apa-apa lagi. Namun, dia tidak tahu kalau aborsiku hanya pura-pura, sedangkan rumah itu benar-benar menjadi milikku. Lagi pula, dalam profesi kami sebagai wanita simpanan, ada sebuah aturan mutlak. Air mata harus sungguhan, hati harus pura-pura. Setiap rasa bersalah seorang pria harus bisa diuangkan.
Kasih Sayang Hanya Untuk Kembaranku, Aku Memilih Pergi - undefined novels & stories
TJ
Di Keluarga Brahmin, setiap putri keluarga menerima sebuah batu permata saat lahir. Pada ulang tahunnya yang ke-18, Bos akan memasang batu permata itu pada mahkota pelantikannya, yang melambangkan bahwa dia resmi berada di bawah kekuasaan dan perlindungan Keluarga Brahmin. Seminggu sebelum aku dan saudari kembarku, Bianca, berusia 18 tahun, kakakku membawa pulang mahkota kami. Mahkota Bianca berkilauan dengan dua berlian. "Kenapa berlian milikku ada di mahkotanya?" tanyaku. Marco mengangkat bahu. "Bianca ingin mahkotanya lebih berkilau." Kemudian, dia menyerahkan sebuah mahkota tua dari brankas keluarga kepadaku. Mahkota itu sudah kusam dan separuh batu permatanya hilang. Ibu menghela napas. "Itu tetap mahkota Keluarga Brahmin, Elena. Jangan merusak acara pelantikan hanya gara-gara sebuah perhiasan." Seumur hidup, aku selalu mengalah dan menyerahkan satu demi satu hal demi Bianca. Aku kira acara pelantikan ini akhirnya akan membuktikan bahwa aku juga bagian dari keluarga ini. Namun, sekali lagi mereka menyingkirkanku seolah aku tidak berarti. Ponselku bergetar. Tenggat terakhir untuk menerima tawaran masuk dari MIT sudah tiba. Kali ini, kutekan "Terima". Jika Keluarga Brahmin memang tidak menyediakan tempat untukku, aku tidak akan lagi mengorbankan diriku hanya demi tetap menjadi bagian dari keluarga mereka.
Kutitipkan Tulusku pada Waktu, Kau Balas Khianat - undefined novels & stories
Danu
Pada hari ketika misi rahasia suamiku berakhir, aku mengajak putriku ke sekolah dasar untuk mengambil formulir pendaftaran. Petugas sekolah tampak keheranan. "Ayah putri Ibu sudah tercatat bersama nama anak lain di sistem. Coba periksa lagi, data yang dimasukkan sudah benar?" Aku mengerutkan kening. "Nggak mungkin. Coba saya tanya dulu." Saat membuka ponsel, aku menerima notifikasi postingan baru dari Dhani, suamiku. Dia pasti lupa menyembunyikannya dari akunku. [Tujuh tahun menikah rahasia, sekarang akhirnya bisa dengan bangga memberi tahu seluruh dunia, kamu adalah istriku.] Dalam foto itu, sahabatku menggendong putranya sambil bersandar di bahu Dhani, dengan mata berkerut karena senyum lebar. Yang mereka pegang adalah akta nikah yang persis sama dengan yang ada di tanganku. Otakku seketika kosong, jari-jariku tanpa sadar terus menggulir ke bawah. Kolom komentar penuh dengan ucapan selamat. Ada teman-teman yang sama-sama kenal denganku dan Dhani, ada juga rekan-rekan kerjaku. Komentar paling bawah adalah dari ibu mertuaku. [Kasihan dia sudah menyembunyikan pernikahan kalian selama tujuh tahun. Kamu harus menebusnya kepada mereka.] [Jangan lupa dirahasiakan dari Kania. Jangan sampai dia tahu akta nikahnya palsu, dia pasti patah hati.] Dhani membalas dengan emoji oke. Jari-jariku yang memegang ponsel mulai gemetar. Ternyata, selama tujuh tahun ini aku berbakti merawat ibunya dan membesarkan putrinya. Sementara dia sibuk menemani istri dan anak yang lain. Semua orang tahu, tapi mereka semua membantu menyembunyikannya dariku. Dadaku terasa sesak hingga sulit bernapas. Putriku menarik-narik bajuku, lalu menunjuk ke arah pintu dengan hati-hati. "Ibu, hujannya tambah deras. Kita masih mau nunggu Ayah?" Aku membuka payung dan menggenggam tangan mungilnya. "Jangan ditunggu lagi." "Mulai sekarang, kita nggak akan menunggunya lagi."
Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda - undefined novels & stories
Liz
Arga Setiawan terkenal sebagai sosok yang sangat berprinsip. Dia selalu tepat waktu dan taat aturan, tak pernah sekali pun membuat pengecualian. Namun, untuk urusan mengurus buku nikah bersama Rania Pranoto, dia sudah mengingkari janjinya hingga delapan kali. Pertama, karena Clara Gunawan, adik tingkatnya yang telah delapan tahun berada di luar negeri, kembali ke tanah air dan dia harus menjemputnya di bandara. Kedua, karena jari Clara memerah akibat tersiram air panas saat memasak. Ketiga, karena anak Clara jatuh sakit. ... Kini, untuk kedelapan kalinya, dia kembali tidak muncul. Dia hanya sempat menelepon terburu-buru dan berkata singkat, "Aku ada urusan. Nanti aku nyusul." Rania menatap nomor antrean mereka berkali-kali dilewati, hingga petugas di loket mengetuk kaca jendela. "Nona, kok pacarnya nggak datang lagi? Kami sebentar lagi tutup, lho." Saat dia bersiap menelepon lagi, pesan dari Arga justru lebih dulu masuk. [Urusanku belum kelar. Buku nikahnya kita urus lain hari ya.] Membaca pesan itu, ada rasa perih yang tak terlukiskan menyelimuti hatinya. Tepat saat dia hendak memasukkan ponselnya dan beranjak pergi, dia tak sengaja melihat linimasa media sosial. Sebuah unggahan terbaru dari Clara membuat tubuhnya terpaku. Dalam foto itu, Clara tersenyum riang. Di sampingnya, Arga sedang menggendong putra Clara, menatap Clara dengan tatapan penuh kasih sayang. Dengan keterangan: [Kenzy ingin main ke taman hiburan. Makasih, Kak, sudah menemani kami seharian!] Menatap foto itu, tenggorokan Rania terasa tercekat, seolah dipenuhi timah yang berat dan getir. Ternyata, 'urusan penting' yang pria itu maksud kali ini adalah menemani putra Clara ke taman hiburan. Dada Rania terasa nyeri menusuk. Rasa sakit hati dan amarah membakar dirinya hingga sekujur tubuh gemetar. Tepat saat dia bersiap menelepon Arga untuk menuntut penjelasan, dia melihat komentar dari teman-teman mereka yang mulai menggoda di kolom komentar. [Udah bertahun-tahun berlalu, Dokter Arga masih aja lebih manjain adik tingkatnya kayak dulu.]
Ketua Mafia Memilih Tangan Kanannya, Aku Memilih Pergi - undefined novels & stories
Null
Suamiku, Danu, adalah Ketua Keluarga Mahesa, seorang ketua mafia yang berdiri di puncak kekuasaan Valen. Dia memiliki satu aturan mutlak yang tak boleh dilanggar. Setiap kali keluar untuk mengurus urusan keluarga setelah pukul sembilan malam, dia tak akan pernah menjawab telepon apa pun. Aku memahami bahwa seluruh perhatiannya tercurah pada urusan keluarga. Karena itu, selama lima tahun terakhir, aku selalu berusaha untuk tak mengganggunya. Sampai tadi malam. Saat sedang berkendara sendirian melewati dermaga, aku tiba-tiba disergap sekelompok orang bersenjata dari keluarga musuh kami. Dalam kepanikan, aku menelepon Danu dan memohon agar dia menyelamatkanku. Telepon itu berdering cukup lama. Begitu akhirnya tersambung, yang terdengar justru suara dinginnya. “Nora, kita sudah menikah selama bertahun-tahun. Sebagai Nyonya Keluarga Mahesa, seharusnya kamu masih ingat aturan kita.” Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon. Malam itu, aku berjuang seorang diri sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil lolos dari hujan peluru. Aku menghabiskan satu malam di rumah sakit. Namun, saat pulang keesokan paginya, yang kudapat justru tegurannya. Dia menyalahkanku karena sudah mengganggunya saat sedang mengurus urusan penting keluarga malam itu. Bahkan, dia menuduhku sembarangan mengirimkan sinyal darurat. Aku tahu betapa berat tanggung jawab yang dipikulnya. Karena itu, aku hanya bisa menelan rasa sakit dan kecewa dalam hati. Namun, ketika suatu kali menggunakan komputer miliknya, tanpa sengaja aku melihat riwayat panggilannya. Ada satu nomor yang hampir setiap malam menghubunginya. Waktunya selalu lewat pukul sembilan malam. Dan itu sudah berlangsung selama lima tahun penuh. Nomor itu tak asing bagiku. Itu milik Alesha, tangan kanan Keluarga Mahesa. Perempuan yang selama lima tahun ini diakui seluruh anggota keluarga sebagai orang yang paling pantas berdiri di sisi Danu. Saat itu, semua rasa sakit dan kekecewaan yang selama ini kupendam akhirnya meledak. Setelah menenangkan diri, aku mengambil ponsel dan menemukan undangan pameran seni internasional yang kuterima beberapa hari lalu. Aku sejenak menatap undangan itu. Lalu menekan tombol “Terima”. Tiga hari lagi… Aku akan benar-benar menghilang dari dunianya.
PREV
12345
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status