Silas
Tepat di hari nilai ujian masuk universitas diumumkan, aku dan pacarku sedang berada di kereta cepat yang membawa kami pulang dari liburan kelulusan.
Yang ikut bersama kami adalah Sherly, kakakku yang tidak memiliki hubungan darah denganku.
Sherly selalu suka duduk di kursi F dekat jendela. Rian pun langsung mengambil kursi di sebelahnya.
Dan aku? Aku menjadi satu-satunya orang yang duduk sendirian sepanjang perjalanan.
"Alya, aku sama Sherly mau bahas pilihan jurusan dulu, ya."
"Nilai prediksimu 'kan nggak terlalu tinggi. Udah, kamu duduk di sana aja, nonton drakor dulu, deh."
Sepanjang perjalanan, mereka berdua tertawa dan mengobrol tanpa henti. Sementara aku, tak pernah benar-benar bisa masuk ke dalam percakapan mereka.
Inilah perjalanan kelulusan yang telah dijanjikan Rian kepadaku selama tiga tahun.
Tepat pukul sepuluh, hasil ujian pun diumumkan.
Sherly langsung memeluk Rian, nyaris melompat dari kursinya.
"Syukurlah! Dengan nilai kita berdua, semua jurusan di Universitas Nusa Bangsa bisa kita pilih!"
Rian tersenyum lebar. "Coba cek grup chat, deh. Orang tua kita semua lagi ngucapin selamat, nih."
Aku duduk di belakang mereka, mendengarkan. Tak lama kemudian, suara kedua orang tuaku terdengar.
"Sherly dan Rian dapat nilai sebaik ini! Mereka benar-benar kebanggaan kita!"
Lalu, disusul suara orang tua pacarku.
Aku menunduk. Membuka WhatsApp. Tak ada undangan masuk ke grup mana pun. Tak ada seorang pun yang bertanya bagaimana hasil nilaiku.
Sudahlah. Mereka telah memilih Sherly, juga masa depan yang ingin mereka jalani bersama.
Sedangkan aku ... akan melangkah menuju masa depan yang benar-benar menjadi milikku sendiri.