Eji
Aku menghabiskan delapan tahun penuh mendampingi suamiku, Kelvano Davendra, seorang pemain selo, melewati masa-masa ketika dia menutup diri, menghancurkan dirinya sendiri, dan berulang kali mencoba mengakhiri hidup, hingga akhirnya berhasil tampil di Gedung Musik Emas Valenne.
Pada tahun yang paling berat, dia bahkan tak mampu menggenggam busur selo dengan stabil. Berkali-kali, aku menemukannya di kamar yang terkunci dan menemaninya melewati saat-saat ketika dia kehilangan kendali dan mengalami kehancuran mental.
Dia menulis komposisi utuh pertamanya untukku dan memberinya judul [Orang yang Paling Dicintai].
Katanya, selama aku ingin mendengarnya, dia akan memainkan selo untukku seumur hidupnya.
Namun, setelah namanya mulai dikenal luas dan undangan pertunjukan memenuhi jadwalnya di seluruh dunia, ia menjadi begitu sibuk hingga hanya bisa meluangkan sepuluh menit setiap minggu untuk menemaniku.
Setiap kali akhirnya tiba saat yang berharga itu, permintaanku selalu sama, mendengar [Orang yang Paling Dicintai] sekali lagi.
Namun, dia hanya memejamkan mata dengan letih.
“Tampil di konser sudah cukup menguras tenaga. Aku nggak mau, setelah jam kerja usai, masih dibebani tekanan pekerjaan.”
Aku tak tega melihatnya kelelahan. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi meminta.
Hingga pada hari Sabtu, ketika aku mendadak ditugaskan ke Valenne untuk melakukan wawancara, aku justru mendengar melodi yang familier itu dari gedung konser yang sudah kosong seusai pertunjukan.
Para penonton sudah lama meninggalkan tempat itu. Hanya asisten perempuannya yang masih ada, tertidur bersandar di bangku barisan depan.
Sementara itu, suamiku duduk di tengah panggung, memainkan [Orang yang Paling Dicintai] berulang kali agar dia terlelap.
Seseorang mengingatkannya bahwa sudah waktunya beristirahat.
Namun, dia hanya menatap perempuan itu dan berkata pelan, “Nggak apa-apa. Dia suka mendengarnya.”
Malam itu, dia memainkan selo selama tiga jam penuh.
Ternyata, bukan karena dia kelelahan atau tidak ingin membawa pekerjaan pulang.
Dia hanya tidak bersedia memainkan lagu itu sekali lagi untukku.
Aku tidak masuk untuk menuntut penjelasan. Aku hanya berbalik, lalu pergi.
Malam itu juga, aku menerima penugasan dari perusahaan untuk dipindahkan ke Negara Westoria selama tiga tahun.
Begitu permohonan itu terkirim, aku melepas cincin pernikahan yang sudah delapan tahun kupakai ....