Membayangkan rak buku non-fiksi favoritku, langsung muncul sepuluh nama penulis yang mesti disebut.
Pertama, Yuval Noah Harari dengan 'Sapiens' — tulisannya bikin aku mikir ulang soal sejarah manusia. Jared Diamond juga nggak kalah tajam lewat 'Guns, Germs, and Steel' yang ngebongkar kenapa peradaban berbeda-beda. Elizabeth Kolbert masuk karena 'The Sixth Extinction' yang ngebuat aku lebih peduli sama lingkungan. Rebecca Skloot menyentuh sisi kemanusiaan sains lewat 'The Immortal Life of Henrietta Lacks'.
Robert A. Caro layak disebut untuk kerja jurnalistiknya di 'The Power Broker', sementara Tom Wolfe dengan 'The Right Stuff' memperlihatkan bagaimana narasi non-fiksi bisa dramatis. Rachel Carson mengubah kebijakan lewat 'Silent Spring', Jon Krakauer menuliskan pengalaman ekstrem di 'Into Thin Air', Stephen Hawking membuat kosmologi mudah di 'A Brief History of Time', dan Aleksandr Solzhenitsyn membongkar sejarah kelam dalam 'The Gulag Archipelago'.
Setiap penulis itu punya gaya dan tujuan berbeda — ada yang ilmiah, ada yang naratif, ada yang investigatif — dan itulah yang bikin non-fiksi seru buat kugali terus.