Ada semacam mitos urban di kalangan penulis pemula bahwa '1000 kata diksi' adalah daftar kata-kata sastra tinggi yang wajib dimasukkan ke novel biar terkesan keren. Padahal sejujurly, nggak ada aturan baku seperti itu. Yang ada justru kebiasaan salah kaprah memakai kata-kata bombastis padahal konteks ceritanya nggak butuh.
Menurut pengalamanku baca ratusan novel lokal maupun terjemahan, diksi itu lebih soal memilih kata yang tepat untuk menggambarkan suasana, karakter, atau emosi. Contoh sederhana: 'ia berjalan' vs 'ia melangkah gontai' - keduanya sama-sama valid tergantung kebutuhan adegan. Daripada terjebak angka 1000, mending fokus memperkaya variasi ekspresi lewat observasi kehidupan sehari-hari dan membaca karya penulis lain.