18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud
Mereka menatapku dengan tatapan mata yang penuh rasa iba, seakan merasa pengorbananku tidak sepadan.
Siapa pun yang melihat pasti tahu, demi siapa aku tetap meminum anggur, meski dalam keadaan sakit.
Akan tetapi, setelah pesta perayaan berakhir, Imelda yang seharusnya pergi bersamaku ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, kembali membatalkan janjinya.
Imelda memarkir mobil di depan restoran, lalu dengan satu tangan, dia menghalangiku yang hendak masuk ke mobil.