Menulis cerita sedih yang menyentuh hati itu seperti menyusun puzzle emosi—harus ada keseimbangan antara kejujuran dan kepekaan. Aku selalu merasa yang paling penting adalah membangun kedekatan dengan karakter utama. Pembaca perlu merasakan napas mereka, memahami ketakutan dan harapan yang tersembunyi di balik tindakan kecil. Misalnya, deskripsi tentang seorang ayah yang diam-diam menyimpan foto anaknya di dompet lama, meski mereka sudah terpisah tahunan, sering lebih mengharukan daripada adegan tangisan melodramatis.
Detail-detail spesifik juga jadi kunci. Alih-alih menulis 'dia sangat sedih', lebih baik gambarkan bagaimana tangannya gemetar saat memegang surat undangan pernikahan mantan kekasihnya. Atmosfer juga perlu diperhatikan—cuaca mendung, lagu lama yang diputar di radio, atau bau kopi yang mengingatkan pada kenangan tertentu bisa menjadi amplifier emosi. Tapi ingat, jangan berlebihan. Kadang, kesedihan yang paling dalam justru disampaikan dengan diam-dalam dialog yang terpotong atau kalimat-kalimat pendek yang terasa seperti pukulan.