Akan Kubalas Pengkhianatanmu, Mas!
ucap Bu Ayu setelah menuangkan teh ke dalam cangkir dengan gerakan terampil.
Alya menerima cangkir itu dengan dua tangan, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya. Ia meniup permukaan minuman pelan, sebelum menyesapnya perlahan. Harum, manis, dan lembut, berbeda dengan teh-teh di kafe mahal yang sering ia kunjungi. Hangatnya terasa mengalir di tenggorokan, menenangkan sesuatu di dalam dada yang sejak kemarin serasa tertekan.
"Lho, Cah Ayu, kok kamu nyeker. Di mana sendalmu, tho?"