Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Memories in High School

Memories in High School

Berulang kali Liya dan Gema mengucapkan kata terima kasih kepada Rey dan sahabat-sahabatnya. "Makasih banyak, Rey! Gue janji bakal jadi anggota yang setia!" Kemudian, Gema berdiri tegak dan menaruh tangannya di pinggir kening. Seperti orang sedang menghormat. "Sama-sama," jawab Rey singkat. "Ya udah, sekarang kita ke markas yuk? Om Pasha sama Tante Ira udah sampai di sana. Katanya ada geng Alastar juga di sana," ajak Clay.
4.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 171 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
Memoar Rasa

Memoar Rasa

"Eh iya juga sih hehehe. Ya aku cuman mau ngingetin aja sih, siapa tau kan lupa hehehe." "Gak kok mas, aku gak mungkin lupa. Lagian aku juga pengen spend my time only with you hehehe." "Bisa aja sih kamu ini bikin melelehnya. Tahu gak? Aku udah meleleh kaya es batu yang di taruh di tengah gurun sahara." "Ya ampun..." "Hahaha."
2.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 84 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
Memories of Jonathan & Emily

Memories of Jonathan & Emily

Memori. Satu kata yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Seperti kata pepatah; setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Yang tersisa hanyalah kenangan. Sebuah kenangan indah yang pernah terukir bersama dengan orang tersayang. Kenangan yang akan selalu tersimpan dalam sanubari, bahkan sampai ajal menjemput. Kenangan yang menjadi penopang seseorang, hingga mampu berdiri tegar menjalani hidup seperti sedia kala.
103.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 97 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas

Kenangan yang Tertinggal di Musim Panas

Akhir-akhir ini, semua orang di SMA Negeri 1 menyadari ada yang berubah pada diri Emilia Prasetyo. Dulu, semua orang merasa dia sangat bucin dan bodoh. Setiap hari, dia selalu berusaha mendekati Aaron Saputra. Namun, dia tiba-tiba tidak lagi muncul di hadapan Aaron, melainkan belajar dengan serius. Semua orang pun tertawa dan mengejeknya. "Apa gunanya belajar? Sudah terlambat!" Semua orang di SMA Negeri 1 mengira Emilia hanya cantik, tetapi bodoh. Tidak ada yang tahu bahwa dia sebenarnya hanya berpura-pura. Selama tiga tahun di SMA, Emilia menjaga nilainya tetap berada di ambang batas kelulusan dalam setiap ujian. Sampai ujian masuk perguruan tinggi hari ini, dia baru berhenti berpura-pura.
746 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
Mémoire

Mémoire

Semua orang ingin sekali tidak percaya tapi melihat Liam yang berdiri dan tersenyum ke arah mereka itu berita yang sangat baik, belum lagi mereka bersyukur para pengacau sudah ditangani oleh polisi. "Lalu? Kenapa dia tak mengenaliku?" Sèanne berkata lirih, hampir tak terdengar. Kayla menghela napasnya berat. Dia cepat-cepat menatap Sèanne, sorot iba tak dapat lagi disembunyikan dari kedua manik matanya yang bening. "Dia kehilangan sebagian ingatannya, dia hanya mengingat kejadian saat aku hampir mendapat musibah. Selebihnya dia tak bisa mengingat apa-apa lagi. Aku sudah mencoba segala cara agar dia mengingatnya, tapi itu justru membuatnya stres dan hampir celaka."
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 77 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
Mencintai Memori Terkelam

Mencintai Memori Terkelam

Hari ini orang-orang banyak yang memilih untuk berjalan kaki entah untuk sekedar berjalan-jalan menghabiskan waktu luang, bekerja atau kegiatan lainnya yang membuat jalan setapak lebih ramai dari sebelumnya. Seika sedikit menundukkan wajahnya ketika berjalan, ia tidak ingin membuat harinya menjadi buruk karena memori masa lalu yang bukan miliknya memaksa masuk ke dalam kepalanya. Beberapa kali ia bertabrakan dengan orang yang melewatinya, mereka menatap kesal Seika yang meminta maaf sambil menundukkan pandangannya. Terlihat tidak sopan dimata mereka, orang-orang itu mencibir pelan lalu meneruskan jalannya.
105.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 108 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
The Memories (BAHASA)

The Memories (BAHASA)

Mau dicolok apa matanya? Mereka berjalan dalam diam menghampiri sepasang sundeck yang belum berpenghuni. Menata barang bawaan dan melakukan pemanasan ringan. Dia heran melihat Icha yang sepertinya sedang melamun. Beberapa kali dia mencoba mengajaknya mengobrol tapi berakhir tanpa respon. Kesel juga lama - lama.
1012.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 340 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
Lenyap Bersama Kenangan

Lenyap Bersama Kenangan

Aku menarik napas dalam-dalam, memaksa diri untuk tersenyum dan melangkah pelan ke arah Ridho. Setiap langkah terasa menyakitkan seperti menginjak ujung pisau. Kenangan dari kehidupan lalu silih berganti muncul di depanku, saat Ridho mendorongku menjauh dari tabrakan mobil, saat melihat catatan hariannya yang penuh dengan kerinduan pada Yolanda dan nama yang dia gumamkan tanpa sadar dalam tidurnya …. “Ridho,” panggilku pelan dengan suara lirih.
14.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 463 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
Remember Me, BE!

Remember Me, BE!

"Be!" Sekali Diva mendengarnya. Kali ini terdengar lebih dekat, seolah orang itu berada di sebelahnya. Namun, tidak ada siapa-siapa yang berhenti selain dirinya. Jalan ini sangat ramai, selain dilewati kendaraan, trotoar jalan juga dipadati para pejalan kaki yang berlalu-lalang. Diva yakin tak ada seorang pun dari para pejalan kaki yang mengenalnya. Buktinya tidak ada seorang pun yang berhenti atau menyapanya. Mereka terus berjalan tanpa menoleh ke arahnya. "Be!"
106.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 121 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
Gadis Tanpa  Ingatan

Gadis Tanpa Ingatan

“Maka kita tidak boleh ragu sedikit pun. Kau punya aku. Kau punya Lusi. Dan kau punya orang-orang yang masih ingat siapa dirimu sebenarnya. Itu kekuatan yang tidak akan pernah Nadine miliki.” Bu Mirah mengusap pundak Raina. “Jangan takut, Nak. Kenangan tidak bisa dimusnahkan. Selama ada yang mengingatmu, kau tetap Amara.” Raina mengangguk pelan, namun di hatinya ia tahu pertarungan baru saja dimulai. Nadine tidak akan berhenti. Dan ia pun tidak boleh goyah. Malam itu, saat kembali ke rumah besar, Raina menulis lagi di bukunya:
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 30 kali sebagai a walking to remember
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
12
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status