Tukang Pijat Tampan
Namun ia tak memedulikannya.
Adit memejamkan mata, bukan untuk tidur, namun untuk meresapi suasana itu. Seluruh indranya masih terpaku pada kenikmatan yang baru saja ia rasakan.
Dan ketika rasa nikmat itu sudah lenyap, kesadaran dan akal sehat kembali menghantui Adit; memberikan vonis telak bahwa ia telah melakukan dosa besar; meniduri dua istri orang. Perasaan campur aduk itu menghantamnya, antara kepuasan fisik dan kegelisahan moral yang mendalam. Ia membuka mata, menatap langit-langit, dan menghela napas panjang. Permainan telah berakhir, tapi konsekuensi dari permainannya itu baru saja akan dimulai.