Pusaka Warisan Semut Rangrang
Aris terdiam, wajahnya yang tadinya sombong kini terlihat sedikit memerah karena malu.
Madun akhirnya melangkah maju, ia menepuk bahu Aris dengan mantap. "Terima kasih sudah memeriksa toko kami, Pak Aris. Jika sudah tidak ada masalah lagi, saya rasa Bapak punya banyak tugas lain di desa ini yang jauh lebih penting daripada mengurusi rumah tangga kami," ucap Madun dengan nada yang tetap tenang namun sangat tegas. Aris tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia segera mengemasi peralatannya dan berlalu pergi dengan perasaan kesal dan kalah. Vina menghela napas lega, ia menatap suaminya dengan penuh kasih sayang, merasa bangga memiliki pria yang begitu tenang dan mampu menjaga harga diri keluarganya.
Bab Populer