Rasa Dari Keremajaan
"Jadi, mari kita simpan 'adegan romantis' itu untuk nanti. Saat skenarionya sudah tepat. Saat kau sudah benar-benar dewasa dan bukan cuma bocah yang mencoba jadi dewasa."
Kata-katanya menusuk, tapi juga memberi harapan. Itu penolakan, tapi juga janji.
"Baiklah," jawabku, mencoba tersenyum tegar. "Aku akan menunggu skenario itu. Dan saat itu tiba, aku pastikan tidak ada Fachri atau kabel konslet yang mengganggu."
Clarissa tertawa lepas. "Janji?"
"Janji."
Kami berdiri bersisian, menatap kembang api terakhir yang meledak di langit malam.