Pesugihan Kandang Bubrah
Kini, hanya cahaya dari dupa yang tersisa, menari-nari seperti bayangan api neraka.
“Serahkan namanya,” kata Mbah Niah, suaranya hampir tidak terdengar di tengah desau angin.
Arif menatap foto di tangan Mbah Niah dan berkata dengan suara pelan tapi tegas, “Bintan Mahoni.”
Angin semakin kencang dan suara bisikan mulai terdengar di sekeliling mereka. Seolah-olah hutan itu hidup, berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti manusia.