Kurir Pemilik Sistem
bisiknya akhirnya, suaranya serak.
Pria paruh baya itu menatapnya khawatir. “Ada apa, Nak? Wajahmu pucat sekali. Seperti habis melihat hantu.”
Wandi perlahan menegakkan tubuh. Lututnya masih lemas, pergelangan tangan kiri berdenyut nyeri, tetapi matanya jernih. Terlalu jernih. “Itu angka, Pak,” katanya pelan, tetapi tegas. “Di atas kepala orang-orang. Ada yang hijau, ada yang biru. Yang hijau biasa, berkurang perlahan. Yang biru lebih besar. Tetapi yang merah… yang merah itu hitungan mundur.”