Membaca 'Menara Saidah' itu seperti menyusuri labirin misteri yang pelan-pelan terbuka. Awalnya, kita dibawa ke dunia di mana menara megah itu menjadi simbol kekuatan sekaligus kutukan. Tokoh utamanya, seorang pemuda dari desa terpencil, tiba-tiba terlibat dalam persaingan antar klan untuk menguasai menara. Yang bikin menarik, setiap lantai menara punya dimensi magisnya sendiri—mirip konsep 'Tower of God' tapi dengan sentuhan folklore lokal yang kental.
Di pertengahan cerita, plot twist-nya bikin meja-meja di forum diskusi rame banget. Ternyata, menara itu bukan sekadar struktur fisik, melainkan makhluk hidup yang memakan ingatan para pendakinya. Adegan ketika protagonis menemukan ruang arsip berisi memori yang hilang dari pendaki sebelumnya benar-benar haunting. Endingnya nggak cliché—ada sacrifice besar, tapi juga harapan baru untuk dunia di luar menara.