Resep Rahasia Sang Pecundang
“Mohon maaf atas gangguan teknisnya, hadirin sekalian! Sepertinya pahlawan kita, Kang Radit, mengalami sedikit kelelakan setelah pertarungan epiknya. Wajar, bukan? Mari kita berikan tepuk tangan paling meriah untuknya!”
Riuh tepuk tangan yang sopan namun canggung membahana saat Luna membimbing Radit turun dari panggung melalui pintu belakang. Di luar, di lorong yang sepi, getaran di tangan Radit akhirnya mereda. Ia menatap telapak tangannya seolah itu milik orang asing. Ia telah memenangkan perang melawan dewa-dewa rasa palsu, menghancurkan sebuah imperium korporat, dan mengembalikan warisan kuliner ke seluruh nusantara. Namun, ia kalah dalam pertarungan paling dasar: mengiris sebutir bawang
Hot Chapters