Dua Kakak Tiriku Yang Posesif
itu membuat sesuatu di dalam dadaku terpuntir.
Rasa mual merayap naik ke kerongkonganku.
Di rumah ini, aku benar-benar bukan manusia. Aku adalah wilayah kekuasaan yang diperebutkan. Aku adalah simbol status. Aku adalah alat negosiasi yang diletakkan di atas meja perundingan.
“Aku bukan milik siapa pun, Matteo! Bukan milik Ayah, bukan milik Dominic, dan terutama… bukan milikmu!” kataku dingin, mencoba menyentak bahuku, namun sia-sia.