Wiro sang Penakluk
Suara air jatuh ke lantai marmer terdengar seperti gemericik sungai kecil yang tenang, ritmis, menyelimuti ruangan dengan irama yang menenangkan.
Wiro mengikuti, berdiri tepat di belakang Meilin. Air langsung membasahi tubuhnya juga—pertama menyentuh bahu, lalu dada, mengalir ke perut, ke paha, hangatnya meresap ke pori-pori kulit yang masih sensitif. Sensasi air itu kaya: hangat yang menyelimuti seperti pelukan cair, tekanan lembut dari ribuan tetes yang jatuh serentak, membuat kulit terasa hidup dan bergetar kecil. Air mengalir di antara jari-jari kaki mereka, menciptakan riak kecil yang terasa seperti belaian ringan di telapak kaki. Uap yang naik membuat udara terasa lebih tebal, lebih in