PRAMESWARI
kata Mbak Honey dengan nada bicara penuh rasa sayang, "Habis mandi, kamu istirahat ya, Mytha? Besok pagi kita ke salon wanita, Mbak pikir akan lebih bagus kalau kamu facial sama cream bath. Kalau perlu spa, biar lebih segar melayani pengunjung. Oke?"
Lagi-lagi, Prameswari hanya bisa mengangguk. Bibirnya semakin terekat kuat, seolah-olah baru saja diolesi lem kayu. Jauh di dasar hatinya, dia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Jijik, sangat jijik. Sekian jam lamanya, dia telah mempertontonkan auratnya. Oh, ooohhh, dia benar-benar jijik sekarang. Dengan marah, kecewa dan benci yang menggelegak jadi satu dalam diri, Prameswari menampari wajahnya. Tamparan maut yang mungkin jika bukan dalam ba
الفصول الرائجة