Pendekar Kera Sakti
“Awas, jangan menangis. Aku tak mau kalau kau menangis.”
“Tapi hatiku sedih!”
“Sedih boleh, tapi jangan menangis!” kata Baraka tegas-tegas.
Kuda ditambatkan di bawah pohon tak jauh dari mereka. Layla bersandar di pohon, satu kakinya ditekuk, menempel pohon. Ia menunduk dalam duka. Baraka ada di sampingnya. Satu tangannya disanggakan ke pohon itu juga. Lalu dengan nada romantis pemuda tampan itu berkata. “Kau boleh sedih, tapi harus punya alasan. Kau boleh pergi dari rumah, tapi juga harus punya alasan. Sama halnya kau mninggalkan hati seseorang, harus punya alasan yang kuat. Jangan pergi begitu saja, nanti sekeping hati yang kau tinggalkan akan hancur selembut tepung terigu.”
Sikat na Kabanata