Balada Cinta Sang Presdir
“Aku kan cuma punya toko florist kecil di pinggir jalan. Warisan Mama pula, kamu? Kamu punya segalanya, Sayang. Anak bisnis, ketua organisasi, tiap hari dikejar dosen buat jadi asisten dadakan. Nanti lulus pasti jadi orang besar. Aku ngerasa nggak pantes aja.”
Andreas menggeleng, lalu menggeser posisinya agar lebih dekat May. “May, cantik itu nggak cuma soal muka. Kamu liat dirimu sendiri nggak sih? Kamu baik, perhatian, terus bunga-bunga yang kamu jual sering bikin orang senyum. Aku bahagia ngeliat kamu cerita soal mawar putih, atau ngomel kepada pelanggan yang telat bayar. Semua bikin aku suka sama kamu.”
Hot Chapters