Untuk Apa Lagi Mencinta
Saat itu aku terlalu mencintainya, sama sekali tidak bisa menerima perpisahan.
Jadi aku setuju.
Tapi cinta tidak seharusnya terkikis seperti ini. Saat lukaku sudah terlalu dalam, aku akan pergi dengan sendirinya.
Mengingat semua yang pernah terjadi, hatiku tertawa getir.
Aku langsung memutuskan telepon, mengembalikan cincin ke kotaknya, berpamitan pada Budi dan berangkat pulang.
Tapi baru sampai di pinggir jalan, aku dihadang supir Arif.