Suami Adikku Memuja Rahimku
Silver Swankering sudah air matakukata kata dibalik senyumkusenyuman terlukis di wajahkutampar aku di pipi
"Apa yang kamu lakukan di sini, Mas? Jika Pak Bramantyo tahu—"
"Sejak kapan aku peduli pada Bramantyo atau Mahesa?" Shaka bertanya sinis. "Turunlah," perintahnya tiba-tiba.
"Apa? Nggak mungkin. Penjaga di depan—"
"Aku nggak bilang lewat pintu depan, Nyonya Dinata yang Terhormat," Shaka menunjuk ke arah pohon kamboja besar yang dahan-dahannya menjulur hampir menyentuh balkon. "Turun sekarang, atau aku yang akan naik ke sana dan membuat keributan yang akan membuat Papamu terkena serangan jantung."