Suami Adikku Memuja Rahimku
"Apa yang kamu lakukan di sini, Mas? Jika Pak Bramantyo tahu—"
"Sejak kapan aku peduli pada Bramantyo atau Mahesa?" Shaka bertanya sinis. "Turunlah," perintahnya tiba-tiba.
"Apa? Nggak mungkin. Penjaga di depan—"
"Aku nggak bilang lewat pintu depan, Nyonya Dinata yang Terhormat," Shaka menunjuk ke arah pohon kamboja besar yang dahan-dahannya menjulur hampir menyentuh balkon. "Turun sekarang, atau aku yang akan naik ke sana dan membuat keributan yang akan membuat Papamu terkena serangan jantung."