Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
AFTER ONE NIGHT STAND

AFTER ONE NIGHT STAND

Bila nafasku lepas Semua langkah yang lelah Semua waktu yang hilang Tapi bayangmu tetap Ingatkanku semua wahai sahabat Kita untuk s'lamanya, kita percaya Kita tebarkan arah dan tak pernah lelah Ingatkanku semua wahai sahabat Keduanya tertawa lepas, seakan-akan semua beban terlepas. Semua yang ada di ruangan ikut bahagia, melihat kedua sahabat ini kembali rukun.
1014.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 459 kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran

Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran

"Puisi, karya sastra yang mengungkapkan perasaan, isi hati, dan juga pikiran. Juga bisa diambil dari sebuah pengalaman hidup. Puisi sebuah syair yang mengandung makna.” Para siswa memperhatikan Guru yang menjelaskan tentang puisi. Guru juga membacakan beberapa puisi, tentang perjuangan seorang jenderal dan juga puisi tentang romansa. Setelah menjelaskan tema pelajaran hari ini, Guru menutup bukunya. "Sekarang giliran kalian. Ambil kertas, dan kuas." Guru kembali ke mejanya. "Tulis satu puisi. Temanya tentang perjuangan.”
101.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
Antara Peran dan Perasaan

Antara Peran dan Perasaan

Dan ia mulai membaca puisi: --- > “Sunyi tidak berisik, tapi menyentuh. Ia tidak datang karena diminta, tapi karena dibutuhkan. Sunyi tidak menyelamatkan, tapi menemani. Dan hari ini, aku tidak ingin didengar dari atas. Karena rumah yang kami bangun tidak punya lantai dua. Semua duduk sejajar. Semua pulang dengan tenang.” --- Beberapa terdiam. Beberapa bingung. Sebagian menatap tanpa berkedip. Tak ada tepuk tangan. Tapi suasana menjadi sangat hening.
101.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 43 kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
AEONIAN : Yang Pernah Terjadi Akan Abadi

AEONIAN : Yang Pernah Terjadi Akan Abadi

Mengapa kau mengalir pergi Kala ucap terpatri di hati Akankah kau buktikan kau benci dirimu sendiri Kau tolak empat mata Namun, kau suka main mata Nan, bolak balikkan kata Laksana bunga tidur yang terasa Pijar yang ku cari Bukan kata manis yang kau beri Nostalgia yang ku rasa Apa kau merasa hal yang sama? Iblis kejam... Lihat tanda tanya ini Bisakah kita menjadi sahabat? Atau Berteman hingga akhir hayat? Nan, maaf kutelusupkan kau dalam puisi ini 26-04-2018 “Siapa yang menulis puisi ini? Tidak ada penulisnya” ucap Arka “Mungkin di kotak tadi ada sesuatu yang lain” lanjut Arka sambil turun dari kasurnya mengambil kotak yang dia banting tadi
107.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 292 kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
Puzzle Piece

Puzzle Piece

Du bist alles, was ich habe auf der welt (Kamu adalah segalanya yang kumiliki di dunia ini) Du bist alles was ich will (Kamu adalah segalanya yang aku inginkan) Du, Du allein kannst mich versteh’n (Kamu, hanya kamu yang dapat mengertiku) Du, Du darfst nie mehr von mir geh’n (Kamu, kamu tidak boleh pergi dariku) Laras membuka laci nakasnya dan mengeluarkan lembaran foto yang beberapa hari lalu mengganggu pikirannya. Dia semakin penasaran teka-teki apa yang harus Laras pecahkan? Mengapa semuanya serba mengganjal di hati dan pikirannya. Mengapa semua serba abu-abu? “Laras, kamu belum tidur?” panggil seseorang dari arah pintu yang sedikit terbuka.
3.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
Melahirkan Anak Iblis

Melahirkan Anak Iblis

"Maafkanlah diriku Atas semua kesalahan yang kuperbuat Selama ini kepada dirimu Aku berjanji akan melepasmu Dengan senyuman yang akan kau ingat Dan kau kenang sampai mati Selamanya Lupakanlah semua kenangan ini Hancurkanlah semua mimpi-mimpi Jangan pernah kembali Dan takkan pernah kembali Dan janganlah kau pernah berikan aku satu harapan Dan karena ku ingin Pergi hilang dan lupakan Maafkanlah diriku
107.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 149 kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
Badai Telah Reda, Kau Pun Tiada

Badai Telah Reda, Kau Pun Tiada

Dalam perjalanan, Julian berkata, "Bu, aku tidak mau belajar piano lagi, aku juga tidak mau Pak Joses lagi. Jangan nangis." Matanya sendiri masih bengkak, tetapi Julian malah menghiburnya. Susan merasa sedih dan bersalah, dia menahan emosinya dan menyeka air matanya, "Ibu nggak nangis." "Tapi, matamu terlihat sangat sedih." Mendengar ini, Susan tak kuasa menahan tangis, "Julian, maaf! Semua ini gegara Ibu tak berguna!" Gegara tak berguna, dia tidak bisa mempertahankan apa pun.
17.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 494 kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
Kau Buang Aku, Kunikahi Bosmu

Kau Buang Aku, Kunikahi Bosmu

Gadis kecil itu hanya berkata bahwa dia akan membaca puisi dan Siti selama ini juga hanya melihat anaknya berlatih menggunakan satu judul puisi saja. Dila yang berada di sisi panggung tampak memberikan sebuah kode pada Putri dan gadis kecil itu juga membalasnya dengan sebuah anggukan. "Saya akan membacakan satu puisi lagi berjudul 'Ibu, Engkau Bidadariku'." Mata Siti terlihat membulat dengan sempurna. Sekarang apalagi yang akan dilakukan oleh Putri? Batinnya.
9.3461.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 17.1K kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
Aku yang Kau Buang, Kini Tak Bisa Kau Sentuh

Aku yang Kau Buang, Kini Tak Bisa Kau Sentuh

“Makan dulu, Dir! Kamu jangan menyiksa diri kamu. Biarlah, relakan semua yang telah hilang dari kita. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Mau menyalahkan juga, sudah tiada arti. Kita hanya perlu bangkit dari keterpurukan ini,” ujar bu Tami.
1013.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 389 kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
Si Lesung Pipi

Si Lesung Pipi

Pernah mewarnai dunia Puisi terindahku hanya untukmu Mungkinkah kau kan kembali lagi Menemaniku menulis lagi Adam sudah merebahkan diri di lantai saat Reff itu masih berlanjut. Dinginnya lantai semoga bisa meredam panas di dalam dada. Kita arungi bersama Puisi terindahku hanya untukmu. Dengan masih tetap memegangi dada, dia meringkuk menangis berteriak tanpa suara. Melepaskan semua, mencoba menerbangkan ke langit, semoga terbawa oleh angin dan mengubur di suatu tempat yang tidak bisa djangkau oleh siapapun. Semua rasa cinta dan patah hati. semua penyesalan dan harapan.
109.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 287 kali sebagai buang semua puisi lirik
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status