BUKAN MENANTU KAYA
“Mikirin apa, Dek?“ tanya Mas Hasan.
“Lagi mikirin saudara-saudaramu, Mas. Kenapa mereka gitu banget?“ jawabku jujur.
“Mereka banyak utang, Dek. Toserbanya Haikal lagi kollaps, Ningrum juga banyak tunggakan ke yayasan. Belum para penggade yang minta tebusan.“
“Sudah kuduga. Hidup itu sawang sinawang ya, Mas. Aku kira kehidupan mereka jauh dari kata kesulitan, tapi ternyata ...“
“Masih beruntung kita, Dek. Dari awal merintis usaha, kita tak pernah pusing sama yang namanya utang. Hidup kita tenang, walau dompet tipis,“ kata Mas Hasan. Aku mengangguk setuju.
“Ha-Ha-san.“
Aku dan Mas Hasan segera melangkah ke kamar Mamah. Di kamar, Mamah memperlihatkan sebuah buku. Isinya coretan jari Mamah.
Sikat na Kabanata